0

RANIA : Princess Nathania and The Forest Troops Chapter 7

Posted by Nikki murniati on 23.02

more info about RANIA, you can follow @RaniaNovels @nikkimurniati_ on twitter

* 7*

Semua mata tertuju padaku ketika Aku dan Lance tiba di Aula besar setelahnya. Makan malam telah dihidangkan dan Tuan Madison telah duduk di kursi makan raja untuk memimpin makan malam. Kami masuk dan berusaha untuk mengabaikan tatapan-tatapan penasaran seisi ruangan. Telingaku memerah, saat bersusah payah membungkuk hormat pada Sang Raja dan memohon maaf atas keterlambatanku. Well, ya. Semua orang tampak  tercengang atas sikap sopanku dan itu sangat…sangat menjengkelkan. Aku mencuri pandang pada Lance Haynsworth dan Dia tersenyum kecil menyemangatiku. Penasaran juga, apa sih yang ada dipikirannya sekarang?

Bibi Marry memekik girang atas kehadiranku. Tak malu-malu menunjukkan rasa gembiranya, Dia mencium pipiku, dan membawaku duduk di dekat Tuan Madison. Dia menghidangkan begitu banyak makanan di depanku, sejak pagi Dia pasti sudah gatal untuk memberiku semua makanan ini.

Meski telah menunjukkan perubahan yang baik, nyatanya sikap Tuan Madison tak begitu banyak berubah. Dia mengungkapkan rasa bahagianya atas kehadiranku dengan formal, tetapi setelah itu selama sisa waktu makan malam dia tidak lagi berbicara padaku sama sekali. Dia sibuk berbicara dengan orang-orang kepercayaanya dengan serius, beberapa kali saling berbisik satu sama lain.

Kau pikir Aku peduli sikapmu? Batinku berteriak padany. Oh, Jangan memutar bola mata, Nat! Bersikap baik, Nat! Ingat! Aku meninju pikiran-pikiran dalam diriku dan bersusah payah untuk fokus pada makananku. Aku melirik lagi pada Lance, Dia masih mengawasiku. Aku memberanikan diri menyeringai padanya.

Hal yang mungkin membuatku khawatir setelah itu adalah sikap Tuan Madison kepada Lance. Berkali-kali melirik kearahnya, seperti sedang mempertimbangkan… member penilaian, atau jangan-jangan dia tahu soal kepergianku siang tadi? Dia pasti berpikir bahwa ini sepenuhnya kesalahan Lance karena membiarkanku pergi, diam-diam Aku merasa bersalah. Ya Ampun! Bagaimana kalau Tuan Madison sampai memecatnya?

Aku tak menghabiskan makan malamku, pikiranku sibuk memikirkan eskpresi Tuan Madison dan apa saja kemungkinan yang akan dilakukan Tuan Madison pada Lance? Apakah Dia akan diusir dari Rania? Tidak! Kurasa kegeniusan pria itu sudah membuat Tuan Madison terkesan, Dia pasti sangat memperhitungkan untuk melakukannya, Aku mencoba menenangkan diri. Memecatnya sebagai pengawal pribadiku? Memangnya Aku peduli? Ya! Tidak! Pengawal baru bisa saja lebih buruk dari Dia kan?

“Kau sudah selesai dengan makananmu, Haynsworth? Aku mau bicara denganmu di ruanganku,”

Ouh Triple sial!

Aku memandang Tuan Madison dan Lance bergantian. Wajah Lance masih tenang tanpa ekspresi, Aku mulai berpikir dia pasti ahli dalam hal itu.

“Tentu, Yang Mulia.”

Mereka berdua pergi, meninggalkanku yang duduk dalam kemelut emosi yang sulit. Kenapa sih Aku harus sibuk memikirkan nasib orang lain seperti ini? Karena Kau sumber masalahnya, Nat! Setan dalam pikiranku sedang memandang sengit padaku.

“Kau oke?”

Aku terkesiap, tak menyadari Paman Gareth telah duduk disampingku, Bibi Marry disisi lainnya. Aku mengamati wajah mereka. Mereka berdua tampak begitu lelah tetapi bahagia melihat kehadiranku bersama disamping mereka.

“Tentu saja, Paman Gareth.” Aku tersenyum singkat, masih memandang ke pintu Aula.

Pikiran tentang Lance Haynswroth sementara teralihkan saat Aku ngobrol dengan beberapa anggota kerajaan. Raja-raja dari kerajaan lain sering berdatangan ke Istana kami menyampaikan bela sungkawa atas kepergian keluargaku, Istana kedatangan ribuan prajurit baru, pendapatan kerajaan dari pajak bertambah berkali-kali lipat. Oh, Ya Tuhan! Betapa banyak hal yang sudah kulewatkan di Istana ini? Aku merasakan kenyamanan saat berbagi perasaan bersama mereka.

Dan entah berasal darimana, suara Ayahku tiba-tiba memnuhi kepalaku, berteriak dengan lantang dan penuh kebanggaan. Sang Raja dan Ratu selalu mencintai Rakyatnya, dan Rakyatnya mencintai Raja dan Ratu mereka.

Kau benar, Ayah! Aku tersenyum mengingatnya, dan menitikkan air mata lagi. Bukan tanda-tanda kekanak-kanakkan seperti biasanya, tetapi merasa terharu ketika menyadari Aku mencintai rakyatku dan sadar atau tidak mereka juga mencintaiku. Kami akan berjuang untuk mempertahankan kebahagiaan yang kami dapat di rumah kami, di Rania.

Aku tersenyum lagi ketika menyadari bahwa Lance Haynsworth adalah salah satu yang telah membuatku menyadari semuanya.

---

Aku tahu kekhawatiranku kepada Lance Haynswoth benar-benar berlebihan. Bagaimana mungkin Aku mengkhawatirkan pria menyebalkan yang esok harinya sudah berdiri dengan kaku di depan kamarku. Dia mengangguk singkat padaku dan mengucapkan selamat pagi ketika Aku muncul, dan kami turun bersama untuk sarapan. Setelahnya dia berlatih bersama prajurit lain dan Aku berjalan-jalan ditaman bersama Bibi Marry.

Setelah itu hari-hariku berlalu dengan cukup normal lagi, normal dalam artian yang buruk tentu saja. Setidaknya tidak ada kejutan-kejutan lebih menyiksa lagi dari Tuan Madison kan? Itu sepertinya harus disyukuri.

"Apa yang mau kau lakukan hari ini?" Tanya Bibi Marry, suatu hari ketika kami bersama-sama mengantarkan kepergian Paman Gareth ke Garlindow, mengunjungi istri dan anak-anaknya yang tinggal disana. Aku tahu kali itu Bibi Marry menyadari ekspresi meranaku.

"Er, aku tidak tahu. Kembali ke menara mungkin-"

Bibi Marry mengeleng cepat, "Tidak, tidak. Terlalu banyak di dalam ruangan tidak akan memperbaiki suasana hatimu, sebaiknya kau jalan-jalan."

"Apa?" Aku membelalak, tak percaya pada apa yang baru saja kudengar.

"Di dalam istana tentu saja," Dia menambahkan, semangatku turun lagi. Dan itu tidak lepas dari pengamatan Lance Haynsworth, Dia seperti sedang menahan senyum sekarang. Aku melotot padanya,

"Dan Aku punya pekerjaan sibuk di dapur pagi ini," Bibi Marry menambahkan, menghentikan kemelut batinku. "Jadi kau akan pergi dengan Haynsworth."

"Oh, eh? Oke." Ya Ampun. Apa Aku baru saja gugup? Menyebalkan sekali. Seringaian Lance melebar di depanku. Aku mencoba menenangkan pikiranku untuk tidak meninju wajahnya.

"Kemana kau mau pergi?" tanya Lance ketika Bibi Marry sudah meninggalkan kami.

"Tidak. Aku tidak mau pergi. Aku mau kembali ke menara." Aku bersikeras.

"Aku punya usul lebih bagus." Dia mencoba menimbang ekspresiku, itu membuatku geli. Dia seperti sedang membangun benteng pertahanan di sekelilingnya untuk menghindari terpaan amarahku.

Aku mencoba memberinya ekspresi tidak tertarik, tapi aku tahu, aku gagal total.

"Bagaimana dengan ide mencari senjata rahasia?" Aku mengernyit, "Oh baiklah,” Dia melambaikan tangan padaku menyerah. “Aku cuma berpikir akan lebih menarik kalau Aku membuatnya sedikit lebih dramatis."

"Apa sih maksudmu, Lance?" Aku menekankan nadaku saat memanggil namanya, membuatnya terkesiap lagi. Kali ini Aku yang menyeringai padanya. Ya Ampun, apakah akan ada semacam lomba menyeringai diam-diam antara Aku dan Haynsworth?

“Apa yang kau pikirkan?” Dia memandangku penasaran, Aku menggeleng cepat, menepis pikiran konyol itu dari pikiranku. “Tidak ada.”

Sejenak Dia diam memandangku, kemudian mengangkat bahu, gugup? "Menurutku ini saatnya bertindak, kita sepakat soal kekuatan yang belum diketahui itu," Dia melirikku meminta dukungan, Aku mengangguk kelewat semangat, Oh sial! "Menurutku kita bisa mencari tahu." Dia menambahlan ragu-ragu.

"Jadi?"

"Kau tidak tertarik?"

"Tidak bukan begitu, maksudku, apa yang akan kita lakukan?"

"Dengar," Dia mengerutkan kening padaku, suaranya nyaris menyerupai bisikan. "Aku berpendapat sesuatu pasti bisa kita ketahui disini. Mungkin senjata, informasi, apapun."

Aku menatapnya gugup, tetapi kemudian mengangguk setuju. Lance menghela napas lega, "Kau tentunya bisa menunjukkan semua tempat di istana ini tanpa dicurigai."

Oh! Jadi dia mau memanfaatkanku untuk pekerjaan kotor ini? Tidak! Tahan dirimu Nat! Tidak masalah, ini akan saling menguntungkan. Aku menggeleng-gelengkan kepala sekali lagi, apa sih masalahku dengan isi kepalaku sendiri?

 "Kenapa?"

"Tidak. Itu mungkin ide yang bagus." Aku nyengir, berusaha rileks. Dia menarik bibirnya menjadi garis keras, terlihat agak jengkel.

"Darimana kita mulai?" Aku mengalihkan topik pembicaraan, "Itu terserah padamu, Tuan Putri. Kau tuan rumahnya." Dia menyeringai padaku, membuatku menggigit bibir gugup. Skor 2-1 untuknya pagi ini. Nat! Aku menegur diriku sendiri.

Dan begitulah hari-hariku berlalu selanjutnya, berusaha melakukan banyak hal yang cukup berguna di hari-hari berikutnya. Aku tidak pernah mendengar lagi Lance berbicara soal peluangku kembali ke sekolah, dan Aku juga tidak pernah sekalipun mengingatkannya. Aku tahu ini akan sangat sulit. Menghadapi Tuan Madison? Siapa yang bisa menyaingi sikap gila kontrolnya?

Aku berusaha bersikap lebih baik sekarang, setidaknya perubahan sikapku ini juga membawa perubahan terhadap bagaimana Lance memperlakukanku, sebagai Tuan Putri yang dilindunginya tentu saja. Dia tidak lagi mengawasiku seperti dulu. kadang jika sedang bertugas mengawalku Dia hanya duduk di kursi taman dan membaca buku-buku tua, sedangkan Aku menanam tanaman anggrek, bermain bersama kelinci-kelinci peliharaanku, dan banyak berbicara dengan  orang-orang istana, hanya untuk mengetahui berita baru yang terjadi.

Yang paling baru terjadi adalah kasus pembakaran perkampungan yang dilaporkan oleh Para Kepala Daerah. Kebakaran itu terjadi di banyak tempat, dan parahnya dilakukan secara sengaja, setidaknya itu yang dikatakan para anggota kerajaan. Sampai saat ini belum diketahui penyebab dan dalang dibalik itu semua. Tapi Aku tidak bisa menghilangkan imajinasi dalam kepalaku untuk tidak mengaitkan kasus ini dengan raja Tyrone. Tuan Madison pernah bilang padaku kalau yang tengah dilakukan Raja Tyrone kali ini adalah berusaha menyebar teror di seluruh negeri, dia tidak menunjukkan dirinya secara nyata tetapi meninggalkan jejak-jejak identitas di tiap teror yang dilakukannya.

Jadi bukankah ini berhubungan? Tidak! Aku bergidik ngeri memikirkannya, khawatir membayangkan apa mungkin yang sedang dilakukan Raja Tyrone untuk membuat rakyat negeriku hidup dalam keresahan. Dan sialnya itu malah meningkatkan rasa bersalahku. Harusnya ada sesuatu yang kulakukan. Harusnya Aku bisa sedikit saja membantu kerajaan melindungi negeriku sendiri, bukan malah bersembunyi dibalik istana seperti saat ini.

Ide Lance soal mencari senjata rahasia mungkin adalah Hal terbaik yang bisa kulakukan. Kami sepakat mencari tahu kebih banyak tentang perang Rania dan kerajaan Elroy pada masa sebelumnya, mungkin saja banyak hal-hal tersembunyi di dalam perang itu. Jadi kami sering mengelilingi istana kerajaan untuk mengetahui rahasia-rahasia yang mungkin dapat mnenjawab pertanyaan-pertanyaan kami.

Betapa menyedihkannya mengetahui kenyataan bahwa meskipun Aku adalah anggota keluarga kerajaan, anak dari Raja Rania, pengetahuanku tentang istana ini benar-benar payah. Banyak ruangan-ruangan dan benda-benda yang menggugah rasa penasaran kami, tetapi berakhir dengan wajahku yang bersemu merah ketika Lance bertanya padaku.

Aku juga menggunakan pengaruhku sebagai putri kerajaan untuk mendekati siapapun di istana ini dan berbincang dengan mereka tentang apa yang mereka ketahui tentang gambaran perang itu, tetapi kebanyakan dari cerita mereka telah kudengar, jadi ini tak banyak membuahkan hasil. Tentu saja! Perang itu sudah terjadi ratusan tahun, dan siapa yang bisa menceritakan padaku seluruh detail kejadiannya?

Oh, dan ya… langkah terakhir kami adalah mengunjungi perpustakaan di istana sesering mungkin dan membaca buku-buku sejarah Rania yang ditulis pada masa terdaluhu. Kami berusaha membaca dari berbagai sudut pandang yang berbeda, dari yang ditulis para raja, para penasehat kerajaan, penyair sampai yang ditulis budak-budak pada masa dahulu.

Satu-satunya informasi yang mungkin sedikit berguna (meskipun harus diawali perdebatan sengit antara Aku dan Lance) adalahAnugrah Dewi Langit” karya Anthony Steinerr seorang pujangga besar yang hidup pada masa raja Rania yang pertama, Raja Aldrich. Aku tak menemukan hubungan judul buku itu dengan perang itu, kuira buku itu hanya berisi syair-syair pujian untuk dewi langit – masyarakat dulu memang punya kepercayaan pada dew-dewi semacam itu. Syair-syair itu menggunakan bahsa asing yang sama sekali tidak kumengerti, dan anehnya, entah bagaimana Lance bisa mengartikannya. Oh, tenang! Ini akan masuk ke dalam daftar pertanyaan panjangku padanya selain soal jalan rahasia tentu saja. Dia menjelaskan padaku sebagian isi bukunya, bagian yang bisa kumengerti hanyalah penjelasan Lance tentang keadaan Pasukan Hutan sang Raja Kegelapan sebagai pasukan yang besar, kuat dan bengis.

Lance menutup penjelasannya dan tersenyum bangga pada dirinya sendiri, Aku mengabaikannya, pikiranku sepenuhnya ngeri memikirkan ceritanya. Oh Ya Tuhan! Bagaimana aku bisa bertahan begini?

Pikiranku berkelana, jauh semakin jauh, membiarkan setan dalam jiwaku menari meneriakkan berbagai kata-kata penuh keputusasaan…

Jika para panglima perang mengatakan untuk memenangkan suatu perang kau harus mengetahui 4 hal yaitu kelebihan, kekuranganmu, kelebihan musuh, dan kekurangannya. Saat ini yang dapat Aku simpulkan bahwa Rania hanya mengetahui satu dari keempatnya, yaitu kelemahan kami sendiri. Kami tak tahu apa kelebihan yang dapat membantu kami, apalagi kekurangan dan kelebihan musuh kami. Tetapi parahnya pihak musuh kami tampaknya telah mengetahui keempat hal itu

***

|
0

RANIA : Princess Nathania and The Forest Troops Chapter 6

Posted by Nikki murniati on 20.28

more info about RANIA, you can follow @RaniaNovels @nikkimurniati_ on twitter


* 6*

Aku berjalan di atas rerumputan, menarik napas dalam-dalam menikmati kebebasanku yang hanya sesaat. Di hadapanku terbentang lapangan luas yang ditumbuhi bunga-bunga Daisy, menakjubkan. Di seberang lapangan adalah bagian terusan hutan terlarang dengan pepohonan yang berbaris rapat. Meskipun matahari bersinar terik saat ini, hutan itu tetap gelap dan menakutkan.

Lance Haynsworth berdiri dibelakang saat Aku memutuskan duduk pada batang sebuah pohon tua yang sudah tumbang. Aku melepaskan sepatuku dan merasakan rerumputan menyentuh kakiku yang telanjang. Gym – kelinci kesayanganku yang kubawa, kubiarkan berlarian bebas di sekitar kakiku. Aku tertawa cukup keras ketika menontonnya.

Perubahan suasana hatiku yang begitu cepat ternyata mempengaruhi Lance juga, rasa khawatir yang terlintas di wajahnya sepanjang perjalanan kami sepenuhnya hilang. Sudah kubilangkan ini bukan ide yang buruk, mereka saja yang berlebihan.

Cukup bosan menonton Gym berkeliling tempat ini, iseng Aku memandang berkeliling tempat ini. Nuansa keindahan dan ketenangan yang bersatu dengan tidak biasa. Aku tidak ingat pernah punya perasaan begini sebelumnya.

Apa yang salah?

Pandanganku terpaku ke dalam hutan, tak ada yang terlihat dari dalam sana selain kesunyian dan kegelapan yang tidak wajar. Bahkan burung-burung saja enggan untuk bertengger di cabang salah satu pohonnya…

Kemudian Aku merasa sesuatu bergerak dari dalam sana, Aku menggosok-gosok mataku dengan kedua tangan dan sekali lagi memusatkan pandanganku ke dalam hutan. Aku salah. Tidak sepenuhnya gelap, ada titik-titik cahaya, lebih dari satu, dan berkedip.. terlihat seperti sepasang mata yang disebar di berbagai sudut hutan.

Aku menelan ludah, jantungku berdegup kencang seketika. Mata-mata itu memandang ke arahku

Boleh aku duduk?” Tanya Lance, entah sejak kapan sudah berdiri disampingku. Wajahku kaku tak bisa bergerak menanggapinya. Tetapi kemudian Aku menyadari pandangan Lance juga tertuju kepada mata-mata itu. Apa itu?” Aku bertanya segera. Sepersekian detik Dia mengernyit padaku kebingungan, sebelum kemudian mengangguk paham, ekspresinya lega. Kenapa?

Apa yang ada di dalam sana?” Aku mengulang tak sabar.

Wah, aku takut mengecewakanmu. Tapi aku tidak pernah masuk kesana, jadi bagaimana aku tahu apa yang ada di dalam sana?”

Kau tahu berapa luasnya hutan ini? Dimana hutan ini berakhir?” wajahku memerah, sial.. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa takutku sekarang.

Aku melihat ekspresi Lance, dia memberiku ekspresi yang sulit diungkapkan, antara geli dan penasaran.

Aku tak tahu,” dia mengangkat bahu. “Tapi mungkin cukup luas untuk ditinggali suat kaum.” Aku merasakan seringaian di wajahnya. Aku tahu dia menuntutku berpikir, batinku bergelut menyingkirkan pikiran-pikiran buruk yang sudah memenuhi kepalaku.

Ada apa?” Dia tampak khawatir melihatku pucat, aku memutar mataku padanya seolah membentangkan bendera permusahan. Dia pikir aku terkesan pada jawaban sok misteriusnya itu? “Apa yang kau pikirkan?” Dia mendesakku, memberikan tatapan mengancam membuatku menciut. Ya Ampun, Dia cuma pengawalku, kenapa Aku takut?

Hutan ini mungkin ditempati makhluk-makhluk mengerikan,kataku pada akhirnya. Dia tertawa entah karena pertanyaanku atau karena nada bicaraku yang seperti anak kecil hampir ngompol karena ketakutan. Aku melotot padanya, “Menurutmu lucu?” tanyaku setengah menggeram.

“Tidak,” Dia menggeleng cepat. Aku cuma tertarik pada apa yang membuatmu khawatir. Makhluk mengerikan yang kau katakan itu, apakah maksudnya mereka yang sedang menatap kita?” tanyanya dengan tenang, memandang geli ke arahku.

“Kau juga melihatnya?” Aku tergagap, wajahku sekali lagi memerah. Oh, andai saja ini malam hari, Aku tidak akan merasakan siksaan seperti ini.

Tentu saja,” dia terkesiap. “Memangnya menurutmu ada yang salah dengan mataku?” Dia nyengir, gagal berusaha untuk tersinggung. Aku menggigit bibir, berusaha menahan senyumku. Jadi apa itu?” tanyaku tak sabaran.

Kau tidak tahu? Itu bagian dari pasukan hutan Raja Tyrone. Dia menatapku dengan sangat berani, mencoba menilai ekspresiku. Aku tidak bisa berpura-pura lagi dan tertawa terbahak-bahak. Dia memicingkan mata heran.

Memangnya kau kira aku mudah ditakut-takuti, eh? Aku menaggapi setelah cukup lama tertawa, anehnya lagi Dia tidak ikut tertawa denganku.

Ya Ampun, selera humormu benar-benar buruk, Tuan Putri. Kau pikir aku bercanda?Dia memandangku dengan serius. Aku memberinya pandangan meragukan masih tidak percaya sepenuhnya. Pasukan hutan? Di hutan Kerajaan Rania? Kau kelewatan!

“Kau tidak percaya?” kali ini dia yang memberiku pandangan meragukan, Aku mengangkat bahu kebingungan. Jantungku berdegup semakin kencang.

“Tidak. Itu tidak mungkin–“ Aku berhenti, tidak melanjutkan ucapanku. Bergumam “Oh” pelan seakan mengerti apa isi kepala pria menyebalkan didepanku ini. Tentu saja mungkin. Kau sendiri yang menceritakannya pada kami, Pasukan Hutan bersembunyi di hutan-hutan setelah kalah perang, apa lagi yang membuatmu ragu?”

Oh Double Sial! Aku tidak menyangka Dia ingat ceritaku saat pertemuan dengan Tuan Madison sedetail itu. Mulutku kering sulit bicara. Dia menunggu tanggapanku.

“Tapi… tidak mungkin di Rania, kau tahu ini mustahil. Aku tahu mereka sembunyi di hutan, tapi kalaupun itu mereka–“ aku menambahkan ketika melihat ekspresi kesalnya. “Kalau itu mereka, kenapa semua orang tidak tahu?”

“Kau yakin semua orang tidak tahu?”

Aku terkesiap, “Apa?”

“Aku malah berpikiran cuma kau saja yang tidak tahu,”

Aku menelan kemarahanku untuk kesekian kalinya, dan menatapnya gusar.

“Dan kenapa mereka semua tidak berbuat apapun?”

“Memangnya apa yang bisa mereka lakukan?”

“Menyerang makhluk-makhluk sialan itu mungkin?” Aku bermaksud berteriak padanya, tapi suara yang keluar nyaris malah berupa bisikan. Dia tersenyum simpati, tapi segera menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat ekspresiku. “Aku tidak bermaksud menyinggungmu sungguh, ini benar-benar menggelikan kau tahu kan, Menyerang pasukan hutan? Kurasa butuh orang cukup waras mempertimbangkannya.”

“Begitu, eh? Jadi kau setuju denganku kalau begitu, soal omong kosong Tuan Madison tentang persiapan perang?”

Dia menaikkan alisnya padaku, Aku memandangnya tak gentar, sedikit butuh perjuangan memang.

“Oh ayolah Lance, kita tidak mungkin bisa menandingi Pasukan Raja Tyrone.”

Lance terkesiap, entah karena ucapanku atau karena untuk pertama kalinya aku memanggil namanya.

“Tidak. Aku tidak pernah bilang begitu.“

“Oh benarkah? Lalu apa maksudnya dengan cukup waras untuk tidak menyerang Pasukan Hutan? Kau masih mau mengelak?”

Kau cuma berusaha menantang semua yang diucapkan Raja, Tuan putri. Itulah yang kau lakukan. Aku berpendapat seperti itu karena memang begitulah keadaannya. Kita tidak bisa menandinginya. Tidak… saat ini. Aku mengerucutkan bibir padanya, Dia melanjutkan. “Dan jangan mengomentari semua yang sedang dipersiapkan Raja seolah itu hal buruk, karena sesungguhnya Kau-Tidak-Tahu!”

“Apa yang Aku tidak tahu?” tanyaku ingin tahu, mencoba mengorek informasi lebih banyak lagi. “Wah sayangnya Aku tidak berhak ikut campur akan hal itu. Tugasku hanyalah menjagamu saat ini dan bersiap menghadapi peperangan.

Dia menyeringai padaku. Sial! Dia selalu tahu apa yang kupikirkan, Aku melempar pandangan kesal padanya. Aku tahu dia tidak bersungguh-sungguh dengan perkataanya. Tidak tahu apapun? Taruh saja mukaku di pantatku, Aku berani sumpah dia tahu apapun yang Tuan Madison ketahui.

Kau cuma pura-pura, Lance. Aku yakin kau dan semua orang pun sadar apa yang akan kita hadapi, Bagaimana mungkin kita memenangkan perang melawan makhluk-makhluk sihir?”

Sepertinya Kau melupakan fakta bahwa Rania pernah menang pada perang sebelumnya,Dia berkata dengan santai tak terpengaruh emosiku.

Aku diam memikirkan kata-katanya. Dia benar. kami pernah memenangkan peperangan melawan makhluk-makhluk sihir dengan kekuatan luar biasa. Bagaiamana itu semua bisa terjadi?

Mungkin saat itu Rania memiliki semacam senjata kuat yang membuat mereka takut” kataku setelah lama kami saling diam, Dia mengangguk puas. Aku mamandangnya heran, “Kenapa?”

Aku setuju denganmu,Dia berujar. Menurutku itulah jawabannya, Tuan Putri. Kita bisa memenangkan pertarungan jika kita tahu kekuatan apa yang kita miliki.

Aku terbelalak, Jadi maksudmu, bahkan kerajaan pun tak tahu tentang senjata atau kekuatan itu?”

Kurasa mereka tidak beranggapan kalau kita punya hal semacam itu. Selama ini keyakinan yang mereka miliki adalah Rania hebat–” Dia berhenti ketika menatap ekspresiku. Kau mau menjelek-jelekkan negeriku hei pengawal sok hebat? Aku melotot padanya, dan dia melanjutkan dengan acuh, “Mereka pastilah beranggapan kemenangan Rania sebelum ini karena kekuatan mereka sendiriMungkin kebanyakan bahkan tidak sadar apa yang sedang kita hadapi sekarang.”

Aku memutar mata, muak. Merasakan gelombang rasa ngeri sekaligus kekhawatiran yang menyebalkan. Pohon-pohon di hutan bergerak tertiup angin, mata-mata itu masih menatap kami.

Lalu bagaimana mungkin kita bisa menemukan senjata yang kita pun tak tahu bentuk dan wujudnya?” Aku melanjutkan, Dia tampak terkejut karena Aku masih melanjutkan diskusi kami tentang ini. “Kita tak bisa bertanya. Tidak ada satupun diantara kita yang menyaksikan peperangan itu. Perang itu telah terjadi ratusan tahun, dan satu-satunya pihak yang mengetahui kejadian itu sekarang adalah Pasukan Hutan yang masih hidup, tapi kau kan tidak mungkin masuk kedalam hutan dan berkata, “hai, bisakah kau memberitahu kami senjata apa yang harus kami gunakan untuk mengalahkan kalian?””

Dia tertawa cukup keras, suaranya menggema ditempat ini. Ya Ampun, Apa selalu kelebihan semangat seperti ini? Dia nyengir, semakin menunjukkan nada sarkasme dalam ucapannya. Aku memberengut, sebelum kemudian dia menambahkan, “Tapi Aku setuju kalau hal itu adalah masalah tersulit yang kita hadapi sekarang. Bagaimanapun Aku senang kau berada di pihakku.

Aku tidak pernah bilang begitu,Aku memprotes, memutar mataku padanya.

“Ketika Aku memberitahu hal ini pada Raja Arthur..” Oh Ya Ampun,” Aku mengeluh mendengar nada penghormatan dalam nadanya memanggil Tuan Madison, Dia tidak memperhatikan. Saat Aku memberitahu sang raja–“ Aku memutar bola mataku, “Dia cuma menganggap ini lelucon, kita tidak memiliki hal semacam itu, Lance.” Dia memperagakan Tuan Madison berbicara, Aku tertawa mendengarnya, “Dia seperti yang lain yakin kekuatan prajurit yang besar akan bisa mengalahkan mereka.

Omong kosong, dia terlalu naif untuk mengakuinya.”

Ya, memang. Tapi caramu menyampaikan pendapatmu itu tidak benar.” Dia menepis pandangan penuh harapku, Aku mengangkat bahu sebal.

Kau tidak berhak mengomentariku soal itu, Lance. Ini tidak adil buatku. Aku kehilangan orangtua dan seluruh keluargaku, tetapi mereka malah memenjarakanku seolah-olah Raja Tyrone akan muncul kapan saja dan mencekik leherku. Dan jangan memandangku seperti itu!” Aku menambahkan menyadari ekspresinya, “Apa?” tuntutku setengah berteriak.

Lance menghela napas kecewa. “Pertama-tama, Raja Tyrone tidak mencekik, Tuan Putri. Bagaimana bisa kau berpendapat begitu?”

Double Sial! Ini bukan saat yang tepat untuk lelucon payahmu, Haynsworth! Darahku mendidih,

Kau seharusnya melihat semua ini dari sisi yang berbeda. Ini bukan hanya tentang prioritas melindungimu sebagai calon Ratu Rania, mereka mengkhawatirkanmu. Semua orang tidak mau kehilanganmu seperti mereka kehilangan ayah dan ibumu. Dia menambahkan saat aku kehilangan suaraku karena amarah. Well, selalu amarah. Apa sih masalahku dengan temperamenku yang buruk ini? Kenapa tidak bisa sebentar saja Aku mencegah diri dari marah-marah?

Aku tahu tujuan mereka baik, tapi seharusnya mereka juga sadar kalau mereka lakukan hanya membuat semuanya semakin buruk. Aku juga ingin kehidupan yang normal,” jawabku berusaha setenang mungkin, tapi jatuhnya suaraku justru bergetar. Aku memandang Lance, wajahku memerah melihat ekspresinya.

Memang ada beberapa hal yang menurutku sedikit berlebihan, melarangmu pergi kesekolah merupakan keputusan yang salah menurutku,komentar Lance berusaha bersimpati. Aku mengabaikannya, untungnya berhasil untuk tidak mendengus padanya. Kau harus tahu kalau Aku, Miss Anderson dan Tuan Gareth sedang berusaha agar kau bisa kembali ke sekolah kerajaan. Menurut kami pendidikan sangat penting untuk masa depanmu memimpin Rania.

Karena itu kami juga membutuhkan bantuanmu,Dia memandangku serius. Tolong berjanjilah untuk lebih menahan emosimu, Tuan Putri. Bersikaplah baik pada sang raja, lakukan apa yang diperintahkannya.  Aku berjanji akan membantumu kembali ke sekolah kalau kau bisa melakukannya. Aku tahu kau membutuhkannya. Berjuanglah bersama kami semua, Tuan Putri Nathania. Kita harus berjuang bersama-sama menghadapi ini.

Mulutku kering, suaraku jauh tertinggal di tenggorokan. Pria ini sedang memperjuangkanku kembali ke sekolah?

“Apa itu benar? Apa kau melakukannya?”

“Apa kau percaya padaku?” Dia balik bertanya, menautkan alisnya yang sempurna, memberiku senyum khasnya – senyum yang bisa membuat gadis remaja sepertiku meleleh. Aku terenyak atas pengakuannya, dan Dia tak menunggu jawabanku.

Matahari telah terbenam dan langit telah berwarna jingga.

Apa itu benar-benar mereka?” tanyaku setelah kami berdua saling diam cukup, Aku kembali  memandang mata-mata yang masih berkedip menatap kami. Lance mengangguk tanpa menjawab. Kenapa mereka terus menatap kita?”

Kurasa mereka memata-matai kita.

“Mata-mata?” Aku menelan ludah, gemetaran. “Haruskah kita melapor pada Tuan Madison?”

“Tidak. Kecuali kau mau mengakui kalau kau pergi keluar istana tanpa izin.” Wajahku memerah untuk kesekian kalinya, dia tidak memerhatikan kali ini. Apa Raja Tyrone bersama mereka?”

Kenapa kau bertanya padaku? Menurutmu wajahku cocok jadi bagian dari mereka? Dia nyengir padaku, menunjukkan ekspresi tololnya. “Apa aku seperti Gru?”

Aku cekikikan memandangnya, wajahnya kembali serius.Menurutku Dia tidak berada disana, Tuan Putri. Yang kudengar Raja Tyrone jarang berada ditempat yang sama dalam waktu lama, mungkin Dia masih berusaha mengumpulkan dan mencari sisa-sisa pasukannya di seluruh hutan di negeri ini.

Aku bergumam “Oh” pelan,

“Jadi itu yang kau khawatirkan sejak tadi? Raja Tyrone?”

Aku takut mereka menampakkan diri dan menyerang kita.

Mereka tidak hanya melakukan ini sekarang, Tuan Putri. Selama ini mereka terus memata-matai seluruh negeri ini dari dalam hutan, dan mereka hanya akan bergerak jika Raja Tyrone memerintahkannya keluar, dan itu artinya perang dimulai” jelas Lance.

“Aku heran kenapa Raja Tyrone dan pasukannya tidak segera melakukannya? Peperangan maksudku–”

Mereka belum sesiap itu.

Apakah Raja Tyrone perlu mempersiapkan pasukan? Pasukannya dikuasai oleh kekuatan sihir, dari sisi manapun mereka akan tetap menang melawan kami.

Apa kau sudah selesai? Sudah waktunya pergi, kita akan tertinggal makan malam kalau tidak cepat kembali. Bukankah kau belum makan apapun sejak pagi?”

Sial! Dia juga tahu?

“Dan kau punya janji yang harus tepati ingat?”

Ya… makan malam di Aula, kenapa Aku jadi gugup memikirkannya?

“Kecuali kau mau mengingkari janjimu, tapi kurasa itu bukan sikap seorang putri.” Dia menambahkan, menatapku hati-hati, mungkin mengira Aku akan meledak lagi?

“Oke,” kataku singkat. “Dan Aku juga akan berusaha bersikap baik seperti katamu.”

Aku mengatupkan mulut dan bangkit dari dudukku, sekilas Aku bisa melihat senyum lebar di wajah Lance Haynsworth.

Sial! Aku senyumnya.

***

|
0

RANIA : Princess Nathania and The Forest Troops Chapter 5

Posted by Nikki murniati on 22.21

more info about RANIA, you can follow @RaniaNovels @nikkimurniati_ on twitter


* 5 *

Aku terbangun esok paginya dengan mata merah dan bengkak. Aku masih menangis ketika mandi, ketika berpakaian, dan ketika menyisir rambutku. Semua aktivitas sekecil apapun mengingatkanku pada orang-orang yang telah meninggalkanku, dan betapa sulitnya hidup ini tanpa mereka, ada semacam lubang menganga di hatiku tiap kali memikirkannya.

Butuh kira-kira setengah jam untuk Bibi Marry menyamarkan wajahku yang kacau, dan ketika turun untuk sarapan, aku menangis lagi saat melihat kursi kebesaran Ayah dan Ibuku masih kosong.

Semua orang mendekatiku dengan macam-macam kata-kata penghiburan, tapi sayangnya perasaanku justru memburuk tiap mendengarnya.

“Oh sayang, tolong berhenti menangis,” hibur Bibi Marry, setelah mengusir dengan sopan orang-orang yang mengerumuniku.

“Bagaimana? Aku tidak bisa. Aku benar-benar sedih, Bibi.”

Paman Gareth muncul dibelakangku,  Aku mengabaikan mereka yang saling pandang khawatir.

Aku tidak memiliki banyak waktu untuk memikirkan rasa terguncangku, karena siangnya Aku disibukkan oleh pelantikan Tuan Madison untuk menjadi raja pengganti Rania. Sebenarnya Aku akan merasa lebih senang jika dibiarkan sendiri di Menaraku, tetapi mengingat apa yang dikatakan Tuan Madison tentang harapan Rakyat Rania padaku, Aku harus terlihat mendukung Tuan Madison sepenuh hati.

Rasa sakit menjalari tubuhku saat menyaksikan Tuan Madison dimahkotai oleh Mahkota dan jubah Kebesaran Ayahku, sebagian diriku tak merelakannya dan masih membayangkan sosok Ayahku-lah yang berdiri dan melambaikan tangan pada Rakyat Rania. Meskipun begitu, Aku bersyukur Rania memiliki seseorang seperti Tuan Madison yang dapat diandalkan dalam situasi seperti ini. Setidaknya Tuan Madison akan lebih baik, jika dibandingkan aku. Dan aku yakin Ayahku akan menyetujuinya dengan sepenuh hati atas keputusan ini. Karena itulah aku berbesar hati, dan ikut bertepuk tangan bersama yang lain ketika Tuan Masidon resmi menduduki jabatannya.

Banyak Rakyat Rania hadir berdesakan di luar pagar untuk dapat menyaksikan pelantikan. Hal yang menggangguku adalah bahwa kehadiran mereka bukanlah ingin melihat keseluruhan jalannya pelantikan melainkan untuk melihat keadaan diriku saat ini. Mereka semua terus menengok ke arahku, mengamati sambil berbisik satu sama lain.

Aku menyadari bukan satu-satunya yang merasakan duka mendalam atas kematian Ayah dan ibuku, mereka merasakan kesedihan yang sama atas kehilangan Raja dan Ratu yang sangat mereka dicintai, dan kini mereka mengkhawatirkan keadaanku.

Harapan akan nasib Rania yang berada ditanganku, membuat dadaku semakin sesak.

Pidato Tuan Madison sampai pada bagian betapa pentingnya menjaga persatuan dalam situasi seperti ini dan tentang prioritas Kerajaan untuk melindungiku. Seperti saat berbicara kepadaku, Tuan Madison tak berusaha menutupi fakta apapun yang diketahui pihak kerajaan meskipun melihat ekspresi terkejut dan ketakutan di wajah mereka yang hadir disana.

Banyak tindakan yang dilakukannya setelah menjadi Raja untuk mempersiapkan Kerajaan Rania. Ia mengadakan seleksi di desa-desa dan Sekolah-sekolah pengawal di seluruh penjuru Negeri untuk mendapatkan lebih banyak prajurit dan pengawal tangguh kerajaaan, mereka semua dibawa ke Pelatihan “Pasukan Kerajaan Rania” untuk mendapatkan latihan yang keras.

Ia juga melakukan perubahan terhadap Istana Kerajaan dengan merenovasi banyak bangunan di istana dan membangun Istana yang kuat demi Kesiapan Perang. Kuakui langkah yang dilakukannya ini sepenuhnya benar. Istana memang harus dibuat setangguh dan sekuat mungkin, Aku hanya tak suka karena dia berusaha merubah istana indah yang dibangun Raja-Ratu Rania sebelumnya menjadi Istana yang menurutku sedikit menakutkan. Selain istana, dia juga banyak mendirikan benteng-benteng pertahanan yang kuat. Perekonomian Rania yang kuat memang membuat kerajaan tidak begitu kesulitan untuk mewujudkan sebuah kerajaan yang disiapkan untuk perang.

Pabrik-pabrik senjata  semakin banyak dibangun di desa-desa. Hal yang membuatku gembira adalah melihat kenyataan bahwa Rakyat Rania begitu mendukung usaha keras Kerajaan, para Orangtua mendaftarkan anak-anak mereka ikut seleksi menjadi prajurit kerajaan. Saat panen tiba, mereka dengan kesadaran penuh membayar pajak. Mereka menyadari dalam situasi seperti ini, Kerajaan membutuhkan lebih banyak dana untuk biaya perang. Melihat Rakyat Rania bahu-bahu membahu dalam upayanya untuk mempertahankan Negeri kami, memunculkan sebuah harapan baru dalam benakku, Aku yakin Ayahku akan bahagia melihat kesetiaan rakyatnya yang begitu besar.

Sang raja mempertemukan Aku dengan Pengawal baruku. Aku telah mencurigai sebelumnya, Aku seperti mengenal namanya saat Tuan Madison menyebutkan padaku pertama kali, dan benar saja pengawal pribadiku adalah si penunggang kuda yang membawaku ke Georgiria.

Dia tak mengungkit soal keberangkatan kami ke Georgiria, begitu juga Bibi Marry, jadi Aku tak perlu menjelaskan apapun kepada Tuan Madison. Aku memalingkan wajah untuk menahan tawa Saat Dia membungkukkan badan padaku tanda perkenalan, kepura-puraan yang menggelikan.

Hal yang kudengar tentangnya dari Tuan Madison adalah bahwa Dia berasal dari sebuah desa kecil di bagian utara Kerajaan Cordelia. Cordelia sendiri saat ini menjadi kerajaan taklukan Rania. Dia telah masuk sekolah Prajurit sejak usianya 12 tahun dan menjadi salah satu Prajurit Teladan tahun ini, semacam penghargaan yang diberikan Ayahku untuk prajurit-prajurit terbaik yang dimiliki kerajaan. Ini berarti bukan pertemuan kami, aku hanya tak mengingatknya.

Baiklah, kuaikui postur tubuhnya memang cukup meyakinkan, tegap dan begitu tangguh dengan kulit kecoklatan dan bekas-bekas luka di tubuh, membuatnya terlihat telah menjalani kehidupan yang begitu keras. Dia memiliki mata biru yang tajam dan rambut tembaga yang menurutku cukup mempesona. Mungkin itulah yang membuatnya begitu cepat terkenal dikalangan kerajaan, terutama ya.. wanita. Tetapi saja, apakah Tuan Madison yakin memperkerjakan seorang semuda ini untuk menjagaku?

Aku memperhatikan meskipun hanya sebagai seorang pengawal biasa, Dia mendapat tempat istimewa di mata Sang Raja, karena Dia selalu duduk di meja yang sama bersama kami saat makan.
Satu hal yang membuatku tak menyukainya adalah kenyataan bahwa Dia adalah pengawal pribadiku.
Tuan Madison sungguh-sungguh atas ucapannya untuk memprioritaskan penjagaan terhadapku. Dia menjaga ketat menaraku, menempatkan pengawal di seluruh penjuru Istana. Aku di awasi dengan ketat dan diikuti oleh pengawal kemanapun aku pergi. Belum lagi larangan-larangan untuk mengunjungi tempat-tempat di luar lingkungan istana yang diberlakukan untukku, bahkan Aku sudah dilarang pergi bersama gadis-gadis kerajaan ke sungai, atau ke lapangan penuh ilalang di dekat istana.

Lance Haynsowrth selalu mengekorku kemanapun aku pergi, meskipun hanya untuk turun ke dapur dan mengambil makanan untuk kelinci-kelinci peliharaanku. Itu benar-benar menjengkelkan.
Bibi Marry tak lebih baik, saat berada di kamar, Dia tak meninggalkanku walau sebentar saja. Dia hanya pergi saat Aku tidur, dan telah berada di kamarku saat Aku membuka mata esoknya. Semua perlakuan yang kudapatkan hanya membuatku merasa lebih merana dan kesepian.

Puncaknya adalah di suatu malam, saat sedang makan malam di hari ke-7 setelah masa berkabung. Ketika itu aku sedang membahas tentang kegiatan sekolahku bersama Paman Gareth, Sekolah diliburkan selama 7 hari atas kematian keluarga kerajaan, Aku mengatakan betapa Aku merindukan sekolah, Jassie dan Cala sahabatku, Ibu Puff Guru favoritku, ketika tiba-tiba saja Tuan Madison menyelaku, Kurasa kau tidak akan kembali ke Sekolah Kerajaan Tuan Putri, esok dan seterusnya.

Aku memandangnya tak percaya, seolah dia sedang menceritakan kenyataan bahwa dia selalu memakai underwear berwarna merah muda.

Apa maksud anda, Yang Mulia?” tanyaku, Aku sengaja merubah panggilanku untuknya. Ia jelas tak senang dengan sikap kanak-kanakku ini, tapi Aku menjadikannya semacam hiburan. Membuat sang Raja mengerutkan alis saat Aku memanggilnya begitu membuat Aku tertawa dalam hati. Tapi kali ini dia tak berusaha mengingatkanku memanggilnya seperti biasa, dia begitu serius.

Kau tahu saat ini kau sedang berada dalam perlindungan penuh kerajaan. Kau dilarang berada jauh dari lingkungan kerajaan. Hal itu membuatmu tidak mungkin lagi berada di sana.
Aku mendengus padanya, Perlindungan penuh, eh? Aku malah lebih pantas disebut tahanan kerajaan dibanding sedang dilindungi” kataku panas.


Itulah aku, gadis penuh emosi. Aku tak tahu darimana sifat itu muncul melihat kedua orangtuaku adalah orang paling sabar yang pernah kutemui.

Wajah Tuan Madison mengeras, alisnya berkedut memandangku tajam. Aku balik memandangnya menantang, Aku dan seluruh rakyat Rania mengusahakan perlindungan atas dirimu, kau harusnya bisa lebih menghargai usaha kami, Nathania.Dia tampak tersinggung.

Baiklah.. jelaskan padaku, Yang Mulia Raja Arthur Albert Madison, bagaimana caraku bisa menjadi Ratu Rania suatu hari jika aku tidak memiliki pemahaman apapun untuk menjadi Ratu?” tanyaku gusar.

Kau bisa mendapatkan itu di istana, kami bisa memanggilkan para guru untukmu.

Apa yang bisa kulakukan di sini? Aku bahkan tidak akan  memiliki teman,protesku.

Aku merasakan sebuah pandangan tertuju ke arahku.

Jangan Konyol, Nat! Tentu saja kau memiliki teman di istana,”

Aku tidak harus menuruti kata-kata anda, yang Mulia.

Sayangnya kau harus, Nak” tegasnya.

Karena kau Raja sekarang? dan jika Aku tidak salah, kau hanya sedang menjadi Raja Pengganti.” Aku menimpali dengan kejam.

Kendalikan dirimu Tuan Putri, kau tidak boleh berkata seperti itu kepada sang Raja” kata Paman Gareth, kaget dengan tindakan kurang ajarku. Tuan Madison memandangku dingin, jika selama ini Dia berusaha memahami sikapku sebagai bagian dari rasa kehilangan, Aku yakin setelah ini dia tak akan berusaha kembali bersikap baik padaku.

Ya, Aku memang hanya raja Pengganti, tetapi bukan berarti karena kau adalah putri kerajaan kau bisa menentangku. Mungkin saat ini kau masih sulit menerima kenyataan Ayahmu telah tiada dan Aku kini menggantikan posisinya. Tapi sebagai calon pangganti mereka, harusnya kau bisa bersikap lebih baik. Jika kau bisa melihat sisi positif dari usaha keras yang kami lakukan, Aku yakin kau akan memikirkan kembali apa yang akan kau katakan,ucapnya keras.

Aku memandangnya penuh kemarahan, dia telah mengungkit perasaanku yang sama sekali tak dimengertinya. “Aku sangat menghargai usaha kerasmu, Yang Mulia. Tapi Aku juga menyayangkannya sebagai tindakan membuang-buang waktu melihat siapa musuh yang akan kau hadapi, seberapapun kerasnya kau berusaha dia tetap akan bisa menghancurkan kerajaan ini, bahkan tanpa harus mengeluarkan keringat.

Setelah mengatakannya, Aku pergi..

---

Suasana hatiku semakin memburuk hari-hari berikutnya, semua yang telah kukatakan kepada Tuan Madison terus terngiang-ngiang dikepalaku. Terlepas dari caraku yang buruk dalam menyampaikan, Aku harus mengakui bahwa memang itulah yang selama ini kupikirkan.

Raja Tyrone memang tak memiliki prajurit sebanyak prajurit yang dimiliki Rania, tapi jika pasukannya terdiri dari makhluk-makhluk sihir, memenangkan peperangan bukanlah hal yang sulit bagi mereka. Hal itu dapat dilihat dari pembantaian besar-besaran yang terjadi pada orangtuaku. Mereka bisa melakukannya dengan mudah dan menghilang begitu saja dengan cepat.

Meskipun begitu Aku menyadari bahwa tak sepantasnya Aku mengatakan hal itu di depan sang Raja. Saat ini dia dan seluruh rakyat Rania sedang berjuang untuk mempertahankan Negeri kami. Jadi terlepas dari perlakuan yang kuterima di istana saat ini, Dia sepenuhnya benar. Aku seharusnya bisa menjaga sikapku.

Tetapi setelah kejadian itu, Aku seakan tak memiliki kesempatan untuk memperbaiki kelakuanku. Kabar tentang pertengkaranku dengan Tuan Madison menyebar begitu cepat dan dari sudut pandang siapapun Aku tetaplah pihak yang bersalah, dan harus kuakui hal itu membuatku kehilangan seluruh rasa percaya diriku untuk bertemu siapapun di Istana.

Semenjak itu Aku mengurung diriku di Menara setiap hari. Bibi Marry membawakan makananku secara rutin 3 kali sehari, Dia menjadi satu-satunya orang yang kutemui tiap hari. Meskipun kadang dari dalam kamarku Aku mendengar suara Lance Haynsworth, si pengawal pribadiku sedang berbicara dengan pengawal yang lain. Dia masih terus mengawasiku meskipun tahu Aku tidak akan pernah keluar kamar. Mungkin itulah satu-satunya hal yang membuatku bingung. Setelah secara terang-terangan mendapat perlakuan buruk dariku Tuan Madison tak merubah pengawalan terhadapku sedikitpun. Hanya bedanya kali ini dia berusaha mengabaikanku. Dia juga tak berkomentar apapun tentang keputusanku untuk mengurung diri.

Bibi Marry adalah orang yang paling terganggu atas ini, Dia selalu berusaha berada disisiku setiap saat, membujukku agar sekali saja keluar dari kamar dan turun ke Aula, dan tentu saja Aku menolak. Tapi untuk menghargai usahanya Aku selalu berusaha bersikap ceria didepannya. Well, kurasa Dia tidak akan tahu Aku menangis setiap malam dibalik bantalku. Dan yang kutahu, Dia juga melakukan hal yang sama. Jika sedang sendirian, Dia sering menangis seorang diri. Aku tahu dia menangisiku karena saat Aku memergokinya, Dia kadang menangis sambil menyebut namaku.

Oh Bibi Marry! Kurasa di dunia ini tak akan ada lagi orang sebaik dan setulus dia.

Hari ini, tepat 30 hari setelah kematian orangtuaku dan Aku sedang berdiri di depan jendela kamarku menyaksikan orang-orang istana berlalu lalang dari atas menaraku. Bibi Marry sedang tidak berada dikamarku, jadi Aku tidak perlu berpura-pura menyembunyikan kesedihanku. Entah kesibukan macam apa yang membuatnya juga melupakan sarapan dan makan siangku, karena hingga tengah hari dia belum muncul juga.

Aku menatap iri para gadis dan anak-anak yang berlarian bermain di halaman istana, perutku sedikit mual karena belum terisi makanan sejak pagi. Saat mengintip dari lubang kecil di pintu kamarku, hanya ada dua orang pengawal berjaga sambil menahan kantuknya. Lance Haynsworth tidak berada disana.

Aku memutuskan keluar menghampiri dua petugas itu, mereka terkejut ketika melihatku dan segera memperbaiki posisi untuk menyembunyikan kantuknya.

Anda memerlukan sesuatu, Tuan Putri?” tanya salah satunya.

Aku menggeleng cepat. Tidak, Aku sedang mencari Bibi Marry, apa diantara kalian ada yang melihatnya?”

Kurasa Dia sedang bersama Sang Raja, saya melihat mereka di Aula saat sarapan tadi pagi.

Kalau begitu Aku akan menemui mereka,” kataku  berbohong. Jika memang mereka benar-benar sibuk sebenarnya Aku tidak peduli. Tapi Aku penasaran, apa sih yang mereka lakukan sampai melupakan makananku begini? Tapi jelas ini akan menjadi kesempatanku untuk bebas dari pengawalan.

Saya akan mengantar anda menemui mereka,Tuan Putri” salah satu pengawal itu menawarkan diri.

Kurasa tidak perlu, menara ini harus dijaga lebih dari satu orang. Lagi pula aku hanya akan turun menuju Aula Utama, tidak akan ada yang mencegatku disana.Aku berusaha meyakinkan. Mereka saling pandang, menimbang-nimbang ucapanku, Aku berusaha memberi mereka ekspresi datarku.

Baiklah Tuan putri, segera beritahu kami jika anda membutuhkan sesuatu.

Oh, Demi Hutan Terlarang! Aku belum pernah se-beruntung ini dibiarkan bebas.

Aku yakin mereka sedang melakukan kesalahan besar membiarkanku pergi tanpa pengawasan, Tuan Madison akan murka jika mengetahui hal ini. Jadi untuk menebus rasa bersalahku, Aku memberi mereka senyumku yang langsung membuat mereka saling pandang gugup.

Dimana Lance Haynsworth?” Tanyaku sebelum pergi.

“Lance berlatih bersama para prajurit baru di Barat Halaman Istana, Tuan Putri. Dia akan kembali tak lama lagi.

Baiklah terimakasih.” kataku riang.

Satu lagi keberuntungan! Tidak ada si penguntit Haynsworth.

Aku turun dan berjalan di lorong istana, yang akan kulakukan adalah menyelinap ke dapur kerajaan dan mengambil makanan untukku, setelah itu mungkin aku bisa menghabiskan waktu di taman istana bersama kelinci-kelinci peliharaanku dengan bebas untuk pertama kalinya.

Ketika hendak berbelok ke lorong berikutnya, Aku menghentikan langkahku dan bersembunyi di balik tembok secara naluriah. Aku mendengar suara-suara dan jelas mengenal suaranya. Tuan Madison sedang berdebat dengan beberapa orang, ada suara perempuan dan juga laki-laki. Aku mendengarkan dengan baik perdebatan mereka.

Kita tidak bisa membiarkan ini, Arthur. Aku harus melayaninya, Aku telah berjani kepada Ratu Feronia untuk melayani putri Nathania sepanjang hidupku,” isak si perempuan. Bodoh sekali! Tentu saja ini Bibi Marry.

Tenanglah Marry, Dia akan kelaparan dan turun tidak lama lagu.  Jangan bersikap seolah-olah kau mendukung tindakannya yang kekanak-kanakkan,” jawab Tuan Madison.
Kupingku memanas. Aku merapatkan telingaku ke tembok berharap mendengar percakapan mereka lebih jelas.

Ya, kurasa Dia harus menyadari kesalahannya. Seisi kerajaan berusaha keras meyakinkan seluruh rakyat untuk berjuang menghadapi peperangan ini, mereka yakin Rania akan menang seperti peperangan biasanya. Dan saat ini Putri Nathania telah menjatuhkan mental rakyatnya sendiri dengan kata-katanya,” kali ini aku tidak mengenal si pemilik suara. Tapi darahku mendidih mendengar kata-katanya. Siapapun dia, kapanpun Aku bertemu dengannya, Aku tidak akan menyukainya.

Omong kosong, James. Dia hanya tidak mengerti apa yang Dia bicarakan. Kau harus memahaminya jiwanya teguncang saat ini,” sanggah Bibi Marry.

Dia terlalu muda untuk mengalami semua ini,” suara lambat Paman Gareth terdengar.

Semua ini tidak akan mudah dialami oleh semua orang berapapun usia mereka. Aku mengerti, Gareth. Aku hanya ingin dia menyadari posisinya saat ini” kata Tuan Madison.

Kerajaan terlalu memanjakannya.

YA TUHAN, JAMES! BUKAN HAKMU MENGKRITIK APA YANG SUDAH KAMI LAKUKAN!

“Marry, kendalikan dirimu. Jangan berteriak-teriak disini.”

“Tidak, Arthur. Dia ini–”

Oh cukup! Aku tidak mau mendengar lebih banyak. Setelahnya Aku segera berbalik menjauhi mereka, mengurungkan niat untuk mengambil makanan. Dari yang bisa kutangkap adalah sepertinya Bibi Marry sedang berusaha mengambilkanku makanan, tapi Tuan Madison melarangnya. Oh Haruskah mereka melakukan semua perdebatan ini hanya untuk memutuskan apakah Aku harus di beri makan atau tidak?

Aku berjalan cepat di lorong yang kulalui sebelumnya, kemudian mengambil arah berlawanan dari arahku datang, mengabaikan orang-orang yang menatapku heran berkeliaran bebas memutari Istana Kerajaan. Beberapa bertanya apa yang sedang kulakuan dan Aku menjawab mereka dengan cepatmencari..Lance Haynsworth” ucapku asal.

Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang kubicarakan.

Kurasa kabar aku berlarian seperti orang tidak waras ini juga akan tersebar dengan cepat, Baiklah.. Aku memang telah menjadi pusat perhatian kerajaan akhir-akhir ini. Mungkin yang dikatakan bibi Marry tentangku benar, jiwaku terguncang dan sebentar lagi Aku akan menjadi gila.

Aku telah sampai di halaman istana tempat berlatih para prajurit kerajaan. Lance telah berdiri disana seolah tahu Aku akan datang, siapapun yang tadi kutemui pasti telah memberitahu bahwa Aku sedang mencarinya. Aku sendiri juga sebenarnya tak mengerti apa yang sedang kulakukan. Hanya satu yang ada di benakku saat ini yaitu Aku harus keluar dari istana sebentar saja, dan dialah satu-satunya orang yang bisa membantuku.

Dia memandangiku selama aku berlarian menyeberangi halaman istana, dan tidak berusaha mengalihkan pandangannya ketika aku telah berada tepat di depan matanya. Dengan terengah-engah aku berbicara padanya segera tanpa berbasa-basi.

“Aku kesini mencarimu–”

“Aku tahu.” Dia memotong ucapanku, wajahku memerah seketika. Kau harus membawaku keluar dari istana ini.... lagi” bisikku hingga hanya kami yang bisa mendengarnya.

Dia tak menjawab, masih memandangiku. Aku memalingkan wajahku darinya, Sejak kapan aku jadi pemalu begini?

Aku tidak bisa melakukannya, Tuan Putri.Pada akhirnya dia menjawab.

Kau bisa, kau melakukannya saat ayah dan ibuku meninggal. Kau harus membantuku!

Aku melakukannya kemarin karena aku tahu kau sedang berduka, sekarang aku tidak bisa.

Kalau begitu anggap saja kali ini kau harus kembali membantu seorang gadis yang sudah hampir gila.”

“Apa maksudmu?” Dia mengangkat alis heran ketika Aku menyelesaikan kata-kataku.

“Kau sudah mendengar cukup jelas, Haynswroth.”

Aku tidak bisa.

Oke, terserah kau saja. Kali ini mungkin Aku harus berusaha melakukannya sendiri,” kataku memancing. Dia tersenyum tenang, tampak geli mendengarku. Kau tidak bisa keluar dari istana ini, Tuan Putri.”

Benarkah? Tapi kau kan sudah mengingatkanku soal jalan rahasia itu. Kurasa tidak sulit. dan jika kau berusaha menghalangiku, Kau harusnya sadar siapa yang mengajariku menggunakannya.

Wajahnya mengeras, aku tertawa melihat ekspresi wajahnya.

Apa yang kau inginkan?” tanyanya kemudian,

Aku ingin berada di lapangan di seberang istana sampai matahari terbenam, dan Aku ingin kau menemani. Setelah ini Aku janji tidak akan mengungkit soal jalan rahasia itu lagi,kataku meyakinkannya.

Dia tampak memikirkan tawaranku dan kalau di pikir-pikir sebenarnya permintaanku sama sekali tidak berbahaya jika dibandingkan kepergian kami ke Georgiria tempo hari.

Baik.Dia mengangguk setuju,Tapi Aku juga punya satu syarat.

Kau tidak berhak mengajukan syarat apapun!protesku.

Tentu saja berhak, Aku akan menemanimu pergi hanya jika kau berjanji setelah pulang, terhitung malam ini dan seterusnya kau harus kembali makan bersama kami di Aula kerajaan.” katanya.

Aku menatapnya marah

Kau tidak berhak mengatur hidupku!

Memang tidak, tentu saja. Aku tidak akan keberatan kau menolak tawaran ini, Aku bisa kembali berlatih dan sebaiknya kau kembali ke menara. Karena kalau kau berusaha melakukannya seorang diri, Aku menjamin kau takkan berhasil, Aku akan melakukan segala cara untuk menggagalkan rencanamu, apapun resikonya.” Dia menyeringai padaku, Aku menatapnya penuh kemarahan. “Jadi apa kau setuju Tuan Putri?”

Sial.. Aku tidak pernah berhasil dengannya. Aku tak menjawab ucapannya bahkan seringaiannya, hanya menggumamkan tanda persetujuan. Dia memandangiku lagi, dan kemudian tersenyum dengan tulus.

Aku sedikit heran kenapa saat itu hatiku tiba-tiba bergetar..

***

|

Copyright © 2009 scribens de caelo !! All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.