0
RANIA : Princess Nathania and The Forest Troops Chapter 7
Posted by Nikki murniati
on
23.02
more info about RANIA, you can follow @RaniaNovels @nikkimurniati_ on twitter
*
7*
Semua mata tertuju
padaku ketika Aku dan Lance tiba di Aula besar setelahnya. Makan malam telah dihidangkan dan Tuan
Madison telah duduk di kursi makan
raja untuk memimpin makan malam. Kami masuk dan berusaha
untuk mengabaikan tatapan-tatapan
penasaran seisi ruangan. Telingaku memerah, saat bersusah payah membungkuk
hormat pada Sang Raja dan memohon maaf atas keterlambatanku. Well, ya. Semua orang tampak tercengang atas sikap sopanku dan itu sangat…sangat menjengkelkan. Aku
mencuri pandang pada Lance
Haynsworth dan Dia
tersenyum kecil menyemangatiku. Penasaran juga, apa sih yang ada dipikirannya
sekarang?
Bibi Marry memekik
girang atas kehadiranku. Tak malu-malu menunjukkan
rasa gembiranya, Dia mencium pipiku, dan membawaku duduk di
dekat Tuan Madison. Dia menghidangkan begitu banyak makanan di depanku, sejak pagi Dia pasti sudah gatal
untuk memberiku semua makanan ini.
Meski telah
menunjukkan perubahan yang baik, nyatanya sikap Tuan Madison tak begitu banyak
berubah. Dia mengungkapkan rasa bahagianya atas kehadiranku dengan formal,
tetapi setelah itu selama sisa waktu makan malam dia tidak lagi berbicara padaku
sama sekali. Dia sibuk berbicara dengan orang-orang kepercayaanya dengan serius, beberapa kali saling berbisik
satu sama lain.
Kau pikir Aku peduli sikapmu? Batinku berteriak padany. Oh, Jangan
memutar bola mata, Nat! Bersikap baik, Nat! Ingat! Aku meninju pikiran-pikiran
dalam diriku dan bersusah payah untuk fokus pada makananku. Aku melirik lagi
pada Lance, Dia masih mengawasiku. Aku memberanikan diri menyeringai padanya.
Hal yang mungkin membuatku khawatir
setelah itu adalah
sikap Tuan
Madison kepada Lance. Berkali-kali melirik
kearahnya, seperti sedang
mempertimbangkan… member penilaian, atau jangan-jangan dia tahu soal
kepergianku siang tadi? Dia pasti berpikir bahwa ini sepenuhnya kesalahan Lance
karena membiarkanku pergi, diam-diam Aku merasa bersalah. Ya Ampun! Bagaimana
kalau Tuan Madison sampai memecatnya?
Aku tak menghabiskan makan malamku, pikiranku sibuk memikirkan eskpresi
Tuan Madison dan apa saja kemungkinan yang akan dilakukan Tuan Madison pada
Lance? Apakah Dia akan diusir dari Rania? Tidak! Kurasa kegeniusan pria itu
sudah membuat Tuan Madison terkesan, Dia pasti sangat memperhitungkan untuk
melakukannya, Aku mencoba menenangkan diri. Memecatnya sebagai pengawal
pribadiku? Memangnya Aku peduli? Ya! Tidak! Pengawal baru bisa saja lebih buruk
dari Dia kan?
“Kau sudah selesai dengan makananmu, Haynsworth? Aku mau bicara denganmu
di ruanganku,”
Ouh Triple sial!
Aku memandang Tuan Madison dan Lance bergantian. Wajah Lance masih
tenang tanpa ekspresi, Aku mulai berpikir dia pasti ahli dalam hal itu.
“Tentu, Yang Mulia.”
Mereka berdua pergi, meninggalkanku yang duduk dalam kemelut emosi yang
sulit. Kenapa sih Aku harus sibuk memikirkan nasib orang lain seperti ini?
Karena Kau sumber masalahnya, Nat! Setan dalam pikiranku sedang memandang
sengit padaku.
“Kau oke?”
Aku terkesiap,
tak menyadari Paman Gareth telah duduk disampingku, Bibi Marry disisi lainnya. Aku
mengamati wajah mereka. Mereka berdua tampak begitu lelah tetapi bahagia melihat kehadiranku bersama disamping mereka.
“Tentu saja, Paman Gareth.” Aku tersenyum singkat, masih memandang ke
pintu Aula.
Pikiran tentang Lance Haynswroth sementara teralihkan saat Aku ngobrol
dengan beberapa anggota kerajaan.
Raja-raja dari kerajaan lain sering berdatangan ke Istana kami menyampaikan
bela sungkawa atas kepergian keluargaku, Istana kedatangan ribuan prajurit
baru, pendapatan kerajaan dari pajak bertambah berkali-kali lipat. Oh, Ya
Tuhan! Betapa banyak hal yang sudah kulewatkan di Istana ini? Aku merasakan kenyamanan saat berbagi perasaan bersama mereka.
Dan entah berasal darimana, suara Ayahku tiba-tiba
memnuhi kepalaku, berteriak dengan lantang dan penuh kebanggaan. “Sang Raja dan Ratu selalu
mencintai Rakyatnya, dan Rakyatnya mencintai Raja dan Ratu mereka.”
Kau benar, Ayah! Aku tersenyum mengingatnya, dan menitikkan air mata
lagi. Bukan tanda-tanda kekanak-kanakkan seperti biasanya, tetapi merasa
terharu ketika menyadari Aku mencintai rakyatku dan sadar atau tidak mereka
juga mencintaiku. Kami akan berjuang untuk mempertahankan kebahagiaan yang kami dapat di
rumah kami, di Rania.
Aku tersenyum lagi ketika menyadari bahwa Lance Haynsworth
adalah salah satu yang telah
membuatku menyadari semuanya.
---
Aku tahu kekhawatiranku kepada Lance Haynswoth benar-benar berlebihan.
Bagaimana mungkin Aku mengkhawatirkan pria menyebalkan yang esok harinya sudah
berdiri dengan kaku di depan kamarku. Dia mengangguk
singkat padaku dan mengucapkan selamat pagi ketika
Aku muncul, dan kami turun bersama untuk sarapan.
Setelahnya dia berlatih bersama prajurit lain dan Aku berjalan-jalan ditaman
bersama Bibi Marry.
Setelah itu
hari-hariku berlalu dengan cukup normal lagi, normal dalam artian yang buruk
tentu saja. Setidaknya tidak ada kejutan-kejutan lebih menyiksa lagi dari Tuan
Madison kan? Itu sepertinya harus disyukuri.
"Apa yang mau kau
lakukan hari ini?" Tanya Bibi Marry, suatu hari ketika kami bersama-sama
mengantarkan kepergian Paman Gareth ke Garlindow, mengunjungi istri dan
anak-anaknya yang tinggal disana. Aku tahu kali itu Bibi Marry menyadari
ekspresi meranaku.
"Er, aku tidak
tahu. Kembali ke menara mungkin-"
Bibi Marry mengeleng
cepat, "Tidak, tidak. Terlalu banyak di dalam ruangan tidak akan
memperbaiki suasana hatimu, sebaiknya kau jalan-jalan."
"Apa?" Aku
membelalak, tak percaya pada apa yang baru saja kudengar.
"Di dalam istana
tentu saja," Dia menambahkan, semangatku turun lagi. Dan itu tidak lepas
dari pengamatan Lance Haynsworth, Dia seperti sedang menahan senyum sekarang.
Aku melotot padanya,
"Dan Aku punya
pekerjaan sibuk di dapur pagi ini," Bibi Marry menambahkan, menghentikan
kemelut batinku. "Jadi kau akan pergi dengan Haynsworth."
"Oh, eh?
Oke." Ya Ampun. Apa Aku baru saja gugup? Menyebalkan sekali. Seringaian
Lance melebar di depanku. Aku mencoba menenangkan pikiranku untuk tidak meninju
wajahnya.
"Kemana kau mau
pergi?" tanya Lance ketika Bibi Marry sudah meninggalkan kami.
"Tidak. Aku tidak
mau pergi. Aku mau kembali ke menara." Aku bersikeras.
"Aku punya usul
lebih bagus." Dia mencoba menimbang ekspresiku, itu membuatku geli. Dia
seperti sedang membangun benteng pertahanan di sekelilingnya untuk menghindari
terpaan amarahku.
Aku mencoba memberinya
ekspresi tidak tertarik, tapi aku tahu, aku gagal total.
"Bagaimana dengan
ide mencari senjata rahasia?" Aku mengernyit, "Oh baiklah,” Dia
melambaikan tangan padaku menyerah. “Aku cuma berpikir akan lebih menarik kalau
Aku membuatnya sedikit lebih dramatis."
"Apa sih
maksudmu, Lance?" Aku menekankan nadaku saat memanggil namanya, membuatnya
terkesiap lagi. Kali ini Aku yang menyeringai padanya. Ya Ampun, apakah akan ada
semacam lomba menyeringai diam-diam antara Aku dan Haynsworth?
“Apa yang kau
pikirkan?” Dia memandangku penasaran, Aku menggeleng cepat, menepis pikiran
konyol itu dari pikiranku. “Tidak ada.”
Sejenak Dia diam
memandangku, kemudian mengangkat bahu, gugup? "Menurutku ini saatnya
bertindak, kita sepakat soal kekuatan yang belum diketahui itu," Dia
melirikku meminta dukungan, Aku mengangguk kelewat semangat, Oh sial!
"Menurutku kita bisa mencari tahu." Dia menambahlan ragu-ragu.
"Jadi?"
"Kau tidak tertarik?"
"Tidak bukan
begitu, maksudku, apa yang akan kita lakukan?"
"Dengar,"
Dia mengerutkan kening padaku, suaranya nyaris menyerupai bisikan. "Aku berpendapat sesuatu pasti bisa kita
ketahui disini. Mungkin senjata, informasi, apapun."
Aku menatapnya gugup,
tetapi kemudian mengangguk setuju. Lance menghela napas lega, "Kau
tentunya bisa menunjukkan semua tempat di istana ini tanpa dicurigai."
Oh! Jadi dia mau
memanfaatkanku untuk pekerjaan kotor ini? Tidak! Tahan dirimu Nat! Tidak
masalah, ini akan saling menguntungkan. Aku menggeleng-gelengkan kepala sekali
lagi, apa sih masalahku dengan isi kepalaku sendiri?
"Kenapa?"
"Tidak. Itu
mungkin ide yang bagus." Aku nyengir, berusaha rileks. Dia menarik
bibirnya menjadi garis keras, terlihat agak jengkel.
"Darimana kita
mulai?" Aku mengalihkan topik pembicaraan, "Itu terserah padamu, Tuan
Putri. Kau tuan rumahnya." Dia menyeringai padaku, membuatku menggigit
bibir gugup. Skor 2-1 untuknya pagi ini. Nat! Aku menegur diriku sendiri.
Dan begitulah hari-hariku berlalu selanjutnya, berusaha melakukan banyak
hal yang cukup berguna di hari-hari berikutnya.
Aku tidak pernah mendengar lagi Lance berbicara
soal peluangku kembali ke sekolah, dan Aku juga tidak pernah sekalipun
mengingatkannya. Aku tahu ini akan sangat sulit. Menghadapi Tuan Madison? Siapa
yang bisa menyaingi sikap gila kontrolnya?
Aku berusaha bersikap lebih baik sekarang, setidaknya perubahan sikapku ini juga
membawa perubahan terhadap bagaimana Lance memperlakukanku, sebagai Tuan Putri
yang dilindunginya tentu saja. Dia tidak lagi mengawasiku seperti dulu. kadang jika sedang bertugas mengawalku Dia hanya duduk di kursi
taman dan membaca buku-buku tua, sedangkan Aku menanam tanaman anggrek, bermain bersama
kelinci-kelinci peliharaanku, dan banyak berbicara dengan orang-orang istana, hanya untuk mengetahui berita baru yang terjadi.
Yang paling baru
terjadi adalah kasus pembakaran perkampungan yang dilaporkan oleh Para Kepala Daerah. Kebakaran itu terjadi di banyak tempat, dan parahnya dilakukan secara sengaja, setidaknya itu
yang dikatakan para anggota kerajaan. Sampai saat ini
belum diketahui penyebab dan dalang dibalik itu semua. Tapi Aku tidak bisa menghilangkan imajinasi
dalam kepalaku untuk tidak mengaitkan kasus ini dengan
raja Tyrone. Tuan Madison pernah
bilang padaku kalau yang tengah dilakukan Raja Tyrone kali ini adalah berusaha menyebar teror di seluruh
negeri, dia tidak menunjukkan dirinya secara nyata tetapi
meninggalkan jejak-jejak identitas di tiap teror yang dilakukannya.
Jadi bukankah ini berhubungan? Tidak! Aku bergidik ngeri memikirkannya,
khawatir membayangkan apa mungkin yang sedang dilakukan Raja Tyrone untuk membuat rakyat negeriku hidup dalam
keresahan. Dan sialnya itu malah
meningkatkan rasa bersalahku. Harusnya ada sesuatu yang kulakukan. Harusnya Aku
bisa sedikit saja membantu kerajaan melindungi negeriku sendiri, bukan malah bersembunyi dibalik istana seperti saat ini.
Ide Lance soal mencari senjata rahasia mungkin adalah Hal terbaik yang bisa
kulakukan. Kami sepakat mencari tahu kebih banyak tentang
perang Rania dan kerajaan Elroy pada masa sebelumnya, mungkin
saja banyak hal-hal tersembunyi di dalam perang itu. Jadi
kami sering mengelilingi istana kerajaan untuk mengetahui
rahasia-rahasia yang mungkin dapat mnenjawab pertanyaan-pertanyaan kami.
Betapa menyedihkannya mengetahui kenyataan bahwa meskipun Aku adalah anggota
keluarga kerajaan, anak dari Raja
Rania, pengetahuanku tentang istana ini benar-benar payah. Banyak
ruangan-ruangan dan benda-benda yang menggugah rasa penasaran kami, tetapi berakhir dengan wajahku yang bersemu merah ketika Lance bertanya padaku.
Aku juga menggunakan
pengaruhku sebagai putri kerajaan untuk mendekati siapapun di istana ini dan
berbincang dengan mereka tentang apa yang mereka ketahui tentang gambaran
perang itu, tetapi kebanyakan dari cerita mereka telah kudengar, jadi ini tak banyak
membuahkan hasil. Tentu saja!
Perang itu sudah terjadi ratusan tahun, dan siapa yang bisa menceritakan padaku
seluruh detail kejadiannya?
Oh, dan ya… langkah terakhir kami adalah
mengunjungi perpustakaan di istana sesering
mungkin dan membaca buku-buku sejarah Rania yang ditulis
pada masa terdaluhu. Kami berusaha
membaca dari berbagai
sudut pandang yang
berbeda, dari yang ditulis para raja, para penasehat
kerajaan, penyair sampai yang ditulis budak-budak pada masa dahulu.
Satu-satunya
informasi yang mungkin sedikit
berguna (meskipun harus diawali perdebatan sengit antara Aku dan Lance) adalah “Anugrah
Dewi Langit”
karya Anthony Steinerr seorang pujangga besar yang hidup pada masa raja Rania yang
pertama, Raja Aldrich. Aku tak menemukan hubungan judul buku itu dengan perang itu, kuira buku itu hanya
berisi syair-syair pujian untuk dewi langit – masyarakat dulu memang punya kepercayaan pada dew-dewi semacam itu. Syair-syair itu
menggunakan bahsa asing yang sama sekali tidak kumengerti, dan anehnya, entah
bagaimana Lance bisa mengartikannya. Oh, tenang! Ini akan masuk ke dalam daftar
pertanyaan panjangku padanya selain soal jalan rahasia tentu saja. Dia
menjelaskan padaku sebagian isi bukunya, bagian yang bisa kumengerti hanyalah
penjelasan Lance tentang keadaan Pasukan Hutan sang Raja Kegelapan sebagai pasukan yang
besar, kuat dan bengis.
Lance menutup
penjelasannya dan tersenyum bangga pada dirinya sendiri, Aku mengabaikannya,
pikiranku sepenuhnya ngeri memikirkan ceritanya. Oh Ya Tuhan! Bagaimana aku
bisa bertahan begini?
Pikiranku berkelana, jauh semakin jauh, membiarkan setan dalam jiwaku menari
meneriakkan berbagai kata-kata penuh keputusasaan…
Jika para panglima perang mengatakan untuk
memenangkan suatu perang kau harus mengetahui 4 hal
yaitu kelebihan,
kekuranganmu,
kelebihan musuh,
dan kekurangannya. Saat ini yang dapat Aku simpulkan bahwa Rania hanya mengetahui satu dari keempatnya, yaitu
kelemahan kami sendiri. Kami tak tahu apa kelebihan yang dapat membantu kami,
apalagi kekurangan dan kelebihan musuh kami. Tetapi parahnya pihak musuh kami
tampaknya telah mengetahui keempat hal itu
***