0

RANIA : Princess Nathania and The Forest Troops Chapter 8

Posted by Nikki murniati on 18.12
more info about RANIA, you can follow @RaniaNovels @nikkimurniati_ on twitter

* 8 *
Aku terbangun di suatu pagi yang dingin dan berkabut, musim dingin kelihatannya tiba lebih awal tahun ini. Dan setelah mandi berendam, Aku mengenakan gaun cokelat berenda dan jaket tebal untuk menyelimuti kulit punggungku yang terbuka. Aku keluar dari kamar dan terkejut ketika mendapati 5 pengawal berjaga tanpa Lance. Dua diantara mereka ikut turun tanpa berkata apapun ketika Aku berjalan meninggalkan mereka tanpa bicara. Mau tidak mau Aku teringat beberapa hari lalu ketika menipu dua pengawalku, mereka pasti mendapat teguran keras dari Tuan Madison dan bertekad tidak akan mengulang hal yang sama kali ini. Aku menyembunyikan cengiran diwajahku.

Tiba di Aula, Aku dibuat terheran-heran. Seingatku Aku tidak terlambat pagi itu. Tapi Aula benar-benar penuh ketika Aku datang, termasuk Tuan Madison yang sudah duduk kaku di atas kursi kebesarannya dan berbincang serius bersama orang-orang kepercayaannya. Yang paling menjengkelkan Lance juga telah berada disana. Dia tersenyum lebar ketika Aku melewatinya sambil membuang muka, Aku memilih tempat duduk di samping Paman Gareth.

“Hei, Aku tidak tahu kau sudah di Rania. Kapan kau kembali?”

Paman Gareth tersenyum berseri-seri padaku. “Selamat pagi Nathania sayang. Aku kembali semalam dari Garlindow, dan Oh ya tentu saja kau sudah tidur. Well, kau tampak cantik sekali pagi ini.”

Aku membalas senyumnya, entah kenapa tidak bisa menahan dorongan hatiku untuk tidak melirik Lance. Dia tersenyum, tapi bukan kepadaku.  Aku memberengut, dan memutuskan untuk menyibukkan diri dengan sarapanku.

Setelah sarapan Tuan Madison menyuruhku untuk tetap tinggal. Oh sial! Apa lagi salahku? Aku menatap kedalam mata birunya yang tajam berbahaya, dan memaksakan diri untuk tersenyum dan menurutinya untuk tidak meninggalkan meja makan. Disana hanya tersisa kami berdua, Lance… juga James. Double sial! Kenapa ada manusia itu juga disini? Cuping hidungku melebar,

Jangan memutar mata, jangan memutar mata, Aku mengulang kata-kata itu terus dalam hati.

Tuan Madison duduk satu kursi disampingku, wajahnya keras berusaha mengamatiku. Dia semakin terlihat tua setelah menjadi Raja. Rambutnya sudah cukup panjang dan butuh dicukur, begitu pula janggutnya yang jadi amat berantakan. Dan Ya ampun, ada lingkaran hitam di bawah kantung matanya. Aku tahu menjadi Raja tentu menjadi tugas sangat sulit terutama di situasi seperti sekarang, kurasa kali ini Aku agak sedikit bersimpati.

Aku memandang Lance mencari tahu, mungkin dia akan sedikit menjelaskan lewat ekspresinya, Dan, Demi hutan terlarang! Dia malah mengamatiku tanpa ekspresi, tidak merasa terganggu akan pandangan mencelaku.

“Tidurmu nyenyak, Nat?” Suara Tuan Madison terdengar lebih keras dari biasanya. Aku menghentikan tatapan kurang ajarku pada Lance, dan berganti menatapnya, memberinya senyum dibuat-buat yang sama sekali bukan Aku. “Ya, Yang Mulia.”

Dia mengangguk sekilas, seolah-seolah sedang menimbang-nimbang kembali apakah harus berbicara denganku atau tidak, membuatku jadi semakin gugup. Lance tersenyum bersimpati, seolah membaca pikiranku. “Anda ingin mengatakan sesuatu yang mulia?” Aku kembali beralih pada Tuan Madison, mengabaikan bola mata James yang sudah hampir copot saat memberiku pandangan menyelidik pada Lance dan Aku.

“Ya, Nat.” Sang Raja mengangguk segera. Dia tak pernah lagi memanggilku Tuan Putri setelah perdebatan kami. Oh! seperti ini penting untuk kubahas.

“Dengan senang hati, Yang Mulia.” Jawabku sambil menggigit bibir, menyamarkan senyumku yang sudah lama kutahan. Sejak kapan Aku jadi sesopan ini? Setan jiwaku pasti sedang mengikik dengan gila.

“Ini soal sekolahmu. Haynsworth mengatakan padaku soal keinginanmu kembali kesana, tentang janji-janji yang kau buat–”

Aku melotot pada Lance. Apa yang sudah dikatakannya? Janji? Apa Aku pernah membuat pernjanjian? Demi Tuhan! Aku ingin menggantungnya sekarang!

“Dan Aku cukup mempertimbangkan sarannya, itu agak, Er – masuk akal menurutku.” Dia berhenti untuk menilai ekspresiku. Aku menegang dikursiku, memberinya senyum kelewat gugup. ”Menurutnya banyak hal-hal baik yang akan kau dapatkan jika kembali kesekolah,” Dia melanjutkan.

Aku segera mengangguk spontan, “Aku juga berpendapat begitu,” memberi lirikan gugup pada Lance.

“Jadi kau benar-benar ingin kembali kesekolah?”

“Ya!” Kataku keras-keras, “Er, maaf. Maksudku Aku memang menginginkannya, Yang Mulia. Dan seperti yang Lance katakan banyak hal yang bisa kupelajari disana.” Tuan Madison terkesiap mendengarku menyebut nama Lance, Ya Ampun orang ini! Apakah Dia selalu seteliti ini? “Aku yakin tidak akan terjadi apapun padaku, tidak dengan pengawalanmu yang luar biasa itu. Bukankah Aku akan tetap dijaga ketat seperti ketika aku berada di istana?” Aku mengalihkan topik pembicaraan. Dia tidak segera menjawab dan masih mengamati, sebelum kemudian mengangguk singkat, “Ya, tentu saja.”

Aku tersenyum masam, sepertinya harus memutar bumi dulu untu mendengar jawaban tidak dari Tuan Madison.  “Aku telah menugasi pihak sekolah untuk memperbaiki sistem pengawasan mereka, kerajaan juga sudah menempatkan banyak prajurit untuk berjaga disana.”

“Bagus!” ujarku tidak bisa menghindari nada sarkasme didalamnya. Lance memberiku pandangan memperingatkan, “Maksudku, apa itu artinya Aku bisa kembali kesekolah?”

Oh Dewi malam! Cepat sembunyikan saja wajahku.

“Ya, mungkin kau bisa, Nat.”

Isi perutku bergejolak. Setan jiwaku seperti tersenyum untuk pertama kalinya. Kurasa ini adalah kabar terbaik yang pernah kudengar semenjak kepergian seluruh keluarga kerajaan, dan segera saja pikiranku mengembara kembali ke sekolah, membayangkan lagi Jassie yang cerewet, Oh! Dan mungkin juga Pangeran Javan dan perhatiannya yang berlebihan.

“Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk berterimakasih pada anda, Tu.. Yang Mulia” kataku gugup.

“Berusaha menjadi putri yang baik, belajar dan persiapkan dirimu, itu saja cukup, Nat.” Tuan Madison tersenyum kaku. Aku tidak mengira dia bisa berekspresi seperti ini.

Berhenti! Jangan jadi perusak harimu sendiri, Nathania. Isi kepalaku mendesis,

“Aku akan berusaha, Yang Mulia.” Kataku sambil membungkukkan diri.

Dia mengangguk kecil padaku dan segera meninggalkan Aula tanpa bicara sepatah katapun. Aku menyeringai dengan jelas kepada James yang sejak tadi mengikuti pembicaraan kami dalam diam. Aku tahu keputusan ini jelas tidak memuaskannya. Sebenarnya sih apa masalahnya denganku?

“Ada apa?” Lance memandangku ingin tahu. Aku terkesiap dan menggeleng cepat, “Tidak ada. Well, terimakasih atas bantuanmu, Lance Haynswroth.” Aku nyengir, tak dapat menyembunyikan rasa bahagiaku. Dia tersenyum manis. Sial! Jangan lagi!

“Itu hadiah karena telah menjadi anak baik selama beberapa minggu ini.”

Dia pasti bercanda. “Dalam artian lain, kau seperti sedang memberitahuku bahwa sebelumnya Aku tidak baik.”

“Tidak. Aku hanya senang kau kembali menjadi dirimu yang sesungguhnya. Semenjak kepergian keluargamu, kau tampak agak… kacau.” Dia berkata hati-hati, tapi Aku terlanjur berbunga-bunga. Menjadi Aku kembali? Apa maksudnya?

“Apa yang kau katakan padanya?”

Dia mengangkat bahu, “hanya seperti yang kau dengar dari Sang Raja.”

“Dia bicara soal janji. Memangnya apa janjiku?”

“Percaya saja itu tidak akan cukup sulit, Aku cuma membuatnya agak sedikit dramatis seperti biasanya,“ Aku memicingkan mata curiga. Dia menatapku dengan ekspresi tak bersalah, “Apa?”

“Kau cukup dekat dengannya?”

“Tuan Madison maksudmu?”

Tentu saja! Menurutmu dengan siapa? Aku?

“Kami memang sudah kenal cukup lama.” Lance menatapku memperhatikan. “Bagaimana bisa?” tanyaku menuntut, “Mungkin lain waktu Aku bisa memberitahumu, Tuan Putri. Atau mungkin tidak–” Dia menatapku ragu-ragu, kemudian tersenyum... lagi.

“Itu akan jadi tambahan daftar pertanyaanku, Haynswoth.”

“Ya ampun, kau punya daftar?”

“Ya.” Aku menimpali sengit, “Apa contohnya selain itu?” Dia menautkan alis menggoda, Aku mengangkat bahu. “Soal jalan rahasia,”

Sesaat Dia seperti sedang menahan tawanya, Aku tak terpengaruh. “Ayahmu yang memberitahuku.”

Apa?

“Tapi… bagaimana? Maksudku, Dia mengenalmu?”

“Ya.” Dia berkata tegas, memberi indikasi untuk mengkahiri pembicaraan ini, kami sama-sama diam. Dan jujur saja, Aku masih sulit mengatasi rasa terguncangku.

“Hari ini cuaca tidak begitu baik,” lanjutnya mengalihkan topik pembicaraan, dan Aku terpancing. “Anehnya kau tetap begini di musim dingin. Memangnya kau tidak punya pakaian lain selain ini?”

“Memangnya apa yang harus kupakai untuk latihan selain Pakaian-Ini?” Dia memberiku penekanan dalam kata-katanya sambil menyeringai, Aku memberengut, tetapi kemudian terkejut lagi. “Latihan? Kau bercanda? Di musim dingin seperti ini kan tidak ada latihan.”

“Ya, itu dulu, saat ayahmu memimpin, kondisinya berbeda saat ini. Raja Tyrone tidak akan memilih cuaca seperti apa untuk memulai perang, kami harus selalu siap dalam kondisi apapun.”

Aku tersedak. Entah karena dia mengingatkanku soal Ayahku atau karena Aku benci kata-katanya yang sok bijaksana itu, Ya Ampun… berapa sih umurnya sampai berani berkata sok pintar padaku? “Mungkin setidaknya kau bisa pakai mantel.” kataku asal saja.

Apa Aku sedang berusaha untuk terus bicara dengannya? Tidak!

“Aku tidak berhak mendapat perlakuan istimewa meskipun Aku seorang pengawal pribadi Putri Nathania.” Dia kembali menyeringai.

“Oh yang benar saja! kau mau menyombongkan diri sebagai seorang pengawal?” Aku memutar mataku padanya, Dia tidak menghentikan seringaian konyolnya, “Kenapa tidak? Tidak semua seberuntung Aku. Berdekatan dengan Tuan Putri dari Rania setiap waktu,” katanya, mengangkat sebelah alisnya mencoba menggodaku.

Triple sial! Wajahku merah padam, Aku tak menanggapinya.

“Apa yang akan kau lakukan hari ini, Tuan Putri?”

“Aku punya satu permintaan untukmu.” Aku menatap langsung kedalam matanya, berusaha mengabaikan pesona apa yang tersimpan dalam mata indah itu. Ya Ampun, meracau lagi!

“Kau terlalu banyak meminta,” Lance menggerutu, tapi Aku tahu dia tidak bersungguh-sungguh.

“Tolong panggil Aku dengan namaku,”

Ekspresinya tidak terbaca, tetapi kemudian meggeleng cepat. “Aku tidak punya hak seperti itu,”

“Hak? Ya ampun. Jadi menurutmu ayahku memberiku nama untukku hanya untuk dipanggil oleh para Raja?” Dia tak  segera menjawab, kelihatan bingung. “Aku akan pergi ke taman sekarang,” kataku ketus. “Gym harusnya sudah melahirkan pagi ini. perutnya sudah besar sekali saat terakhir kali aku melihat.”

Aku berberjalan melaluinya, tapi entah kenapa Aku punya perasaan Dia sedang tersenyum dibelakangku. Ya, mungkin! Tapi Aku yakin, Dia tidak akan tahu bahwa didepannya, Aku juga tersenyum bahagia.

---

Lance meninggalkanku sore harinya dan memanggil pengawal bernama Jack dan Ashton untuk menggantikannya. Aku tidak bisa melakukan misi “mencaritahu”-ku tanpa Lance, jadi Aku memutuskan untuk menemui Bibi Marry untuk menemaniku.

Dimana Dia sejak pagi? Kemudian Aku ingat proyek membuat resapnya bersama Miss Carter – kepala juru masak kerajaan, Dia pasti sedang di Dapur Istana sekarang. Mungkin Dia tidak akan keberatan menemaniku sebentar, Aku berpikir, sebelum kemudian memutuskan pergi ke dapur dan mencarinya.

Dapur Istana merupakan ruangan super Luas dan bersih. Tungku-tungku besar, bermacam-macam ukuran piring dan perabot masak tersusun rapi. Di sisi kiri ruangan ada banyak lemari besar tempat menyimpan makanan yang biasanya dijaga sekitar empat atau lima orang penjaga. Aroma berbagai macam masakan selalu membuat nafsu makanku naik dua kali lipat saat berada disini.

Tempat ini selalu menjadi tempat yang sibuk dan ramai, tapi alangkah terkejutnya Aku ketika melihat kali ini dapur benar-benar sepi. Satu-satunya orang yang berada didalamnya adalah perempuan tua pembersih dapur, bernama Nanny Jane. Dia sedang membersihkan penghangat makanan saat Aku datang. Setelah menyuruh kedua pengawalku untuk menunggu di depan dapur, Aku mendekatinya. Nanny Jane sendiri tampaknya tidak menyadari kehadiranku bahkan setelah Aku berada disampingnya.

Diam-diam Aku berpikir, darimana Dia bisa tahu sesorang datang dan mencuri makanan?

“Aku tahu kau disini,” ucapnya pelan tak mengalihkan pandangan dari penghangat makanan yang sedang dibersihkannya. Aku melirik ke segala arah, mencari tahu dengan siapa Dia bicara. “Tuan Putri, sedang apa disini?”

Aku terkesiap, tetapi kemudian segera mengatasi keterkejutanku saat Dia memandangku untuk pertama kalinya. Dia memakai pakaian dan celemek kebesaran untuk tubuhnya yang sangat kurus, Kulitnya yang keriput tampak mengerikan saat terkena pantulan cahaya dari obor-obor yang menempel di dinding-dinding.

“Hai Nanny Jane,” Aku tersenyum gugup. “Aku mencari Bibi Marry. Apa anda melihatnya?”

“Semua orang di dapur sedang berada di kebun istana.”

“Kenapa? Sudah sangat sore, Aku bahkan tidak tahu bahwa saat ini sudah musim panen.”

Dia menggeleng padaku, Apa artinya Dia tidak tahu atau tidak mau menjawabku?

“Aku punya puding cokelat hangat, apa kau mau duduk sebentar dan memakannya?” Dia mengalihkan perhatianku, Aku tersenyum menghargai. “Tentu.”

Kami duduk di sebuah kursi kayu tua yang menghadap kearah jendela. Dari sini kami bisa melihat halaman istana yang luar biasa besar. Matahari mulai terbenam dan suara-suara yang terdengar hanya denting-denting pedang dari para Prajurit yang sedang berlatih. Pikiranku mengembara… mereka berlatih dengan cukup keras dalam cuaca buruk begini. Dadaku terasa sesak mengingat mereka akan berperang melawan Pasukan Hutan Raja Tyrone.

“Mereka prajurit-prajurit yang tangguh,” kata Nanny Jane tiba-tiba, seolah membaca pikiranku. Dia duduk disampingku, matanya yang tajam memperhatikanku, membuatku spontan duduk menjauh. “Ya, mereka  berlatih dengan sangat keras” sahutku gugup.

“Sayangnya mereka tidak akan bisa memberi kita kemenangan. Tidak dengan Pasukan Hutan sebagai musuhnya.”

Aku terkesiap, kupikir saat ini Dia menyindirku atas insidenku dengan Tuan Madison.

“Pasukan Hutan memang sulit dihadapi,” Aku berusaha tampak tak terpengaruh. “Tapi kuharap kita bisa memenangkan Perang ini, Aku tidak mau kehilangan mereka semua.”

Dia memandangku tak percaya, selama sesaat Aku menahan dorongan untuk menatapnya menantang. Akal sehatku berusaha menenangkan jiwa penuh emosiku, Apa kau mau membentak seorang nenek? “Kurasa itu cukup sulit,” Dia berkata cukup hati-hati, menilai ekspresiku.

Oh! Dia memancingku.

“Tetapi bukan berarti tidak mungkin.” Aku tersenyum dibuat-dibuat. “Dulu Rania pernah menang atas mereka, bukan tidak mungkin kita akan bisa kembali memenangkan perang ini.”

“Kau tampak tidak bersungguh-sungguh mengatakannya, Tuan Putri. Tidak, terutama setelah kata-katamu pada Sang Raja,” Dia tersenyum tenang, menggodaku.

Wajahku memerah. Sial…sial…sial! Kalau tahu akan menghadapi nenek ini nantinya, Aku tidak akan pernah mengatakan kata-kata itu pada Tuan Madison.

“Jadi mungkin sekarang Aku hanya sendirian yang tidak percaya kemenangan Rania.” Dia melanjutkan, masih sangat tenang. Aku terlonjak, udara seperti meninju wajahku. “Aku tidak yakin mengerti maksud ucapanmu.” Bola mataku membulat lebih dari seharusnya, Tetapi Dia melanjutkan, “usiaku sekarang 92 tahun, nak.”

Seperti itu penting saja kudengar, Aku mengeluh marah dalam hati. Tetapi kemudian otakku merespon. Apa? 92 tahun? Dia pasti sudah pikun menghitung umurnya. Penampilannya tak lebih tua dari Tuan Madison.

“Aku adalah keturunan ke-7 dari Isadora Hill, seluruh keturunan Isadora mati diusia lebih dari seratus tahun, kecuali mungkin Arthur Hill suami Isadora, Dia tewas dalam perang Rania dengan Elroy itu.”
Dia tersenyum masam penuh arti. Mulutku sudah terbuka lebar, berusaha memproses dengan cepat kata-katanya. Inikah? Apakah pada akhirnya Aku akan tahu kebenaran yang terjadi ratusan tahun lalu?

“Kami memiliki ramuan awet muda. Kami memiliki sedikit darah penyihir dalam tubuh kami.” Dia melanjutkan,

“Maaf?”

“Aku adalah keturunan penyihir.”

Aku menggigit bibir menahan tawa meledakku, Dia menatapku curiga dari bulu matanya.

Tidak! Aku harus berhenti membuatnya tersinggung. Kesempatan mendapat infomasi soal perang itu mungkin tidak akan terjadi lagi. Tapi apakah kata-katanya cukup bisa dipercaya? Aku meragukan.

“Penyihir? Seperti Raja Tyrone maksud anda?” Aku tidak bisa menghindari nada mencemoohku, mata Nanny Jane melebar.

“Ya dan tidak,” ujarnya singkat, Aku mengerutkan kening. “Kami memiliki kemampuan melebihi manusia biasa, Ya. Tapi tidak persis seperti Elroy atau Basil. Tidak semua sihir bersifat jahat, Nak.” Dia menambahkan sedikit mendesis. Aku mendadak paham, ekspresiku menjelaskan lebih jauh soal ketidaksukaanku terhadap apapun yang berbau sihir. Itu cukup membuatku muak… sihir, eh? Keluargaku mungkin masih bersamaku tanpa adanya hal semacam ini.

“Aku tahu kau masih sulit memahaminya,” Dia mengangguk paham atas kecamuk batinku, Aku segera menggeleng mengingat peluangku. “Apakah anda akan menceritakannya padaku? Tentang perang maksudku–” Aku memberinya pandangan penuh harap, sebelum kemudian Dia mengangguk dan tersenyum penuh ironi dan memulai ceritanya, “Aku memuji keberanian Rania yang begitu besar saat perang itu.”

Aku mencondongkan tubuhku padanya, mendengar dengan seksama sekaligus khawatir, apapun yang keluar dari mulutnya terasa aneh dan bernada persuasif dalam inderaku. “Manusia lelah atas kekejian dan kebiadaban Elroy saat berkuasa di dunia, tapi tidak ada satupun yang berani menentangnya. Kau mengerti maksudku?”

Aku mengangguk pelan, bergidik membayangkan masa-masa seperti itu. “Mereka tidak memperlakukan manusia dengan sepantasnya,” Nanny Jane mengangguk menyetujui apa yang ada di pikiranku. “Apa kau pernah dengar cerita “Pertarungan Berdarah” yang diciptakan Raja Tyrone sebelumnya?”

Aku menggeleng segera.

“Raja Tyrone membuat manusia saling bertarung sesamanya, hanya pemenanglah yang dapat bertahan hidup. Bagi mereka yang kalah dalam pertandingan, Gru telah menunggu untuk menjadikan mereka santapan. Sang Raja melakukannya setiap hari, jadi seandainya pun seseorang menenangkan pertandingan, Dia akan tetap berada dalam kesengsaraan menunggu hingga waktunya tiba untuk kalah dan mati. Itu masa-masa yang sangat berat.”

Aku merasa mual mendengarnya, bulu kudukku sepenuhnya berdiri. “Kalau seseorang menang dan tidak terkalahkan, apakah Dia bisa bertahan hidup?” Suaraku terdengar jauh di dalam kerongkongan.

“Ya.” Dia mengangguk yakin, “tapi semua orang punya batasan, Tuan Putri. Dan hidup seperti itu bukanlah hidup yang damai.”

“Tidak ada yang pernah berani menentangnya sampai sebuah negeri kecil bernama Rania mengibarkan panji-panji kebebasan, menolak atas semua penhinaan Elroy atas manusia. Rania tidak memperdulikan seberapa kuat musuh yang dihadapi, tidak peduli bahwa sang raja bisa saja melenyapkan negeri mereka dalam hitungan detik...

Mereka tetap melakukannya, menyerang Elroy maksudku. Dalam sekejap saja ribuan pasukan tewas ditangan Pasukan Hutan–” Aku menutup mata, sanggupkah Aku mendengarnya lebih jauh? “Tetapi pada akhirnya pertolongan datang untuk Rania…”

Dia berhenti untuk megukur reaksiku, tapi otakku sulit menerima ini. Rania pernah memenangkan perang atas Elroy! Semua orang pernah mengatakannya. Tapi bagaimana semua itu terjadi?

“Anakku, Rania memenangkan perang sebelumnya atas pertolongan Dewi Langit.”

***

|
0

ME AND AMAZING POSTS

Posted by Nikki murniati on 09.21

Haiahhhhh Guys!!!! *lambaikan tangan ke monitor.

Kalian harus tahu selama 30 menit ini yang aku lakukan cuma memandang bingung layar monitor. Gak tahu harus ngomong apa lagi. Berasa kayak ninggalin pacar selama sekian lama dan saat ketemu lagi ngerasa bersalah dan canggung-canggung gimana gitu. *Apasih Nik -_____-

Aku tahu gak mungkin banget bakal segera Up-date Chapter 8 Seri 1 Rania, tanpa minta maaf atau mungkin basa-basi dikit. Abaikan aja kali ya post yang ini *malu sendiri.

Ya, post kali ini lebih ke berbagi pengalaman renungan aku selama beberapa bulan pergi tanpa pertanggungjawaban aja kali ya :D

Nah, hal pertama yang aku rasakan saat memutuskan rest dari Rania adalah….. Hampa. Lebay kan? Ya gitulah. Tapi mungkin aku bersyukur juga karena setidaknya dalam hal ini untuk pertama kalinya aku bisa mencapai target (satu-satunya hal yang susah banget gue capai dalam menulis). Setidaknya gue merasa bisa istirahat dengan tenang selama beberapa bulan terakhir ini =D. targetku memang gak besar sih cuma ingin selesaian Rania seri 2 sebelum focus UN. Dan, Grateful… itu bisa tercapai.

Dan sekarang setelah melalui itu semua, justru aku merasa takut. Lebih takut dari ninggalin Rania selama beberapa bulan terakhir ini.

Kenapa? Rania seri terakhir sudah di susun, sudah di tetapkan endingnya. Dan…. Apakah gue bakal bisa menyelesaikannya sesuai harapan? Apakah gue bakal puas sama hasilnya setelah selesain semuanya? Apa bakal gagal? Apa bakal buruk? Jujur ini buruk banget di hati gue.

Ya I know, I’m not a great author. Tapi semua orang punya harapan, semua orang punya ambisinya masing-masing. Dan ini gue! seumur hidup aku berdoa suatu saat mendapat sesuatu yang bisa bikin diriku bangga menjadi seorang Nikki. Dan Tuhan seperti ngasih jalan (menurut Gue) dengan menumbuhkan ide Rania ini dalam otakku. Gak ada yang lebih membahagiakan dan bikin semangat selain duduk di sudut kamar, mendengarkan High and Dry A1, memainkan tangan di keyboard dengan pikiran sepenuhnya terbang di dunia lain. Di Rania.

Oh God, dan kini gue ragu sama diri gue sendiri? Bisakah? Apakah ini bakal jadi seperti yang gue harapkan?
Keinginan besar seseorang ketika menulis pastinya  sukses menyampaikan apa yang ditulisnya kepada pembaca. Dan Ya Ampun, gue gak siap sama tanggapan orang, belum pastinya. Merasa minder, kecil, Nothing!

Gue tahu tulisan kali ini bertentangan sama diri gue banget, karena dalam hidup gue selalu berusaha ngasih motivasi yang baik sama orang lain terbebas dari apapun yang gue rasain. Dan kali ini ke-RENDAHDIRI-an gue ini bikin malu banget.

Tapi namanya manusia, feel so many reasons in their life, termasuk gue.
Nah, lupakan tentang Sir Arthur Conan Doyle yang begitu ajaib dengan pikiran Sherlock Holmesnya, atau J.K rowling dengan dunia sihirnya, atau Nicholas Sparks dengan nuansa romantisnya. Gue Cuma berharap jadi seorang Nikki dengan dunia Fantasinya. Itu! Itu yang selama ini ada di mimpiku. Bukan berarti aku nyamain dengan mereka karena Oh my Godness! Gue dan orang-orang di atas seperti langit dan bumi, inti bumi yang paling dalam *jauuuhhh banget!!!
Tapi dari semua ke-NEGATIF-an yang telah gue bagikan, gue merasa lebih berpikir positif setelahnya. Ya, menurut gue menulis itu adalah keindahan, kekayaan yang gak terhitung, Immortality. Jad dari sekian banyak hal itu, gue percaya gak ada yang buruk dengan menulis. Problem-nya ada dalam setting pikiran gue, dan seiring berjalannya waktu gue percaya bakal nemuin kepercayaan gue tentang menulis, gue bakal menemukan keyakinan yang gak lagi bakal bikin gue ragu sama tulisan gue sendiri.
Dan, terlepas dari itu semua! Gue tetep berpikir RANIA adalah hal paling baik dalam hidup gue yang pernah muncul di kepala Gue, hal paling baik yang Tuhan kasih buat gue. Dan bagaimanapun nasibnya nanti, apakah gue bakal duduk santai menyaksikan mereka (RANIA) dibaca oleh banyak orang atau berakhir hanya jadi sejarah diri gue sendiri. Itu gak jadi soal.
Inti dari semua hal gak penting yang gue tulis ini adalah tentang Kepercayaan. Gak akan ada yang tahu tentang nasib seseorang, tapi mungkin gue bisa menghibur diri gue sendiri sampai saat ini, mungkin sampai nanti, Who Knows? Ya. I believe in what I believe, dan selama aku melakukan hal yang membuat aku bahagia, aku rasa itu gak bakal mungkin membuat aku kecewa terlepas apapun hasilnya. Aku udah melalui proses yang begitu panjang dalam ini, dan belajar begitu banyak pelajaran. Itu intinya kan?
Aduh, jadi malu sendiri. Oh Ya, masu menyampaikan terimakasih banget sama kalian-kalian yang udah memotivasiku terus. Buat adikku yang setia banget dengerin ceritaku (satu-satunya orang yang tahu ending Novel ini selain Aku dan Tuhan). Untuk teman-teman yang selalu kasih semangat dan kepercayaannya sama aku.

I will try the best thing that I can do, I’ll never stop! Insya Allah :-)

Terimakasih Reader, *buang tissue

Sebagai ganti dari kerusakan mata kalian karena membaca tulisan ini, aku bakal menebusnya dengan chapter baru Rania Horeeee *sorak sorai sendirian.

Gak janji setelah ini, tapi pasti aku bakal semakin rajin di blog setelah ini toh dengan curhatan ngawur aku ataupun dengan chapter-chapter Rania pastinya.

PS : 30 menit aku diem bengong, sedangkan tulisan ini cuma ditulis dalam waktu kurang lebih 10 menit. Jadi tahukan bagaimana gue bisa begitu cerewet sama tulisan? =D

PS 2 : Judul ini berbau sarkasme ya, Guys! jangan diambi hati;-)
Thanks.
Salam Sayang.
Nikki.

|
0

RANIA : Princess Nathania and The Forest Troops Chapter 7

Posted by Nikki murniati on 23.02

more info about RANIA, you can follow @RaniaNovels @nikkimurniati_ on twitter

* 7*

Semua mata tertuju padaku ketika Aku dan Lance tiba di Aula besar setelahnya. Makan malam telah dihidangkan dan Tuan Madison telah duduk di kursi makan raja untuk memimpin makan malam. Kami masuk dan berusaha untuk mengabaikan tatapan-tatapan penasaran seisi ruangan. Telingaku memerah, saat bersusah payah membungkuk hormat pada Sang Raja dan memohon maaf atas keterlambatanku. Well, ya. Semua orang tampak  tercengang atas sikap sopanku dan itu sangat…sangat menjengkelkan. Aku mencuri pandang pada Lance Haynsworth dan Dia tersenyum kecil menyemangatiku. Penasaran juga, apa sih yang ada dipikirannya sekarang?

Bibi Marry memekik girang atas kehadiranku. Tak malu-malu menunjukkan rasa gembiranya, Dia mencium pipiku, dan membawaku duduk di dekat Tuan Madison. Dia menghidangkan begitu banyak makanan di depanku, sejak pagi Dia pasti sudah gatal untuk memberiku semua makanan ini.

Meski telah menunjukkan perubahan yang baik, nyatanya sikap Tuan Madison tak begitu banyak berubah. Dia mengungkapkan rasa bahagianya atas kehadiranku dengan formal, tetapi setelah itu selama sisa waktu makan malam dia tidak lagi berbicara padaku sama sekali. Dia sibuk berbicara dengan orang-orang kepercayaanya dengan serius, beberapa kali saling berbisik satu sama lain.

Kau pikir Aku peduli sikapmu? Batinku berteriak padany. Oh, Jangan memutar bola mata, Nat! Bersikap baik, Nat! Ingat! Aku meninju pikiran-pikiran dalam diriku dan bersusah payah untuk fokus pada makananku. Aku melirik lagi pada Lance, Dia masih mengawasiku. Aku memberanikan diri menyeringai padanya.

Hal yang mungkin membuatku khawatir setelah itu adalah sikap Tuan Madison kepada Lance. Berkali-kali melirik kearahnya, seperti sedang mempertimbangkan… member penilaian, atau jangan-jangan dia tahu soal kepergianku siang tadi? Dia pasti berpikir bahwa ini sepenuhnya kesalahan Lance karena membiarkanku pergi, diam-diam Aku merasa bersalah. Ya Ampun! Bagaimana kalau Tuan Madison sampai memecatnya?

Aku tak menghabiskan makan malamku, pikiranku sibuk memikirkan eskpresi Tuan Madison dan apa saja kemungkinan yang akan dilakukan Tuan Madison pada Lance? Apakah Dia akan diusir dari Rania? Tidak! Kurasa kegeniusan pria itu sudah membuat Tuan Madison terkesan, Dia pasti sangat memperhitungkan untuk melakukannya, Aku mencoba menenangkan diri. Memecatnya sebagai pengawal pribadiku? Memangnya Aku peduli? Ya! Tidak! Pengawal baru bisa saja lebih buruk dari Dia kan?

“Kau sudah selesai dengan makananmu, Haynsworth? Aku mau bicara denganmu di ruanganku,”

Ouh Triple sial!

Aku memandang Tuan Madison dan Lance bergantian. Wajah Lance masih tenang tanpa ekspresi, Aku mulai berpikir dia pasti ahli dalam hal itu.

“Tentu, Yang Mulia.”

Mereka berdua pergi, meninggalkanku yang duduk dalam kemelut emosi yang sulit. Kenapa sih Aku harus sibuk memikirkan nasib orang lain seperti ini? Karena Kau sumber masalahnya, Nat! Setan dalam pikiranku sedang memandang sengit padaku.

“Kau oke?”

Aku terkesiap, tak menyadari Paman Gareth telah duduk disampingku, Bibi Marry disisi lainnya. Aku mengamati wajah mereka. Mereka berdua tampak begitu lelah tetapi bahagia melihat kehadiranku bersama disamping mereka.

“Tentu saja, Paman Gareth.” Aku tersenyum singkat, masih memandang ke pintu Aula.

Pikiran tentang Lance Haynswroth sementara teralihkan saat Aku ngobrol dengan beberapa anggota kerajaan. Raja-raja dari kerajaan lain sering berdatangan ke Istana kami menyampaikan bela sungkawa atas kepergian keluargaku, Istana kedatangan ribuan prajurit baru, pendapatan kerajaan dari pajak bertambah berkali-kali lipat. Oh, Ya Tuhan! Betapa banyak hal yang sudah kulewatkan di Istana ini? Aku merasakan kenyamanan saat berbagi perasaan bersama mereka.

Dan entah berasal darimana, suara Ayahku tiba-tiba memnuhi kepalaku, berteriak dengan lantang dan penuh kebanggaan. Sang Raja dan Ratu selalu mencintai Rakyatnya, dan Rakyatnya mencintai Raja dan Ratu mereka.

Kau benar, Ayah! Aku tersenyum mengingatnya, dan menitikkan air mata lagi. Bukan tanda-tanda kekanak-kanakkan seperti biasanya, tetapi merasa terharu ketika menyadari Aku mencintai rakyatku dan sadar atau tidak mereka juga mencintaiku. Kami akan berjuang untuk mempertahankan kebahagiaan yang kami dapat di rumah kami, di Rania.

Aku tersenyum lagi ketika menyadari bahwa Lance Haynsworth adalah salah satu yang telah membuatku menyadari semuanya.

---

Aku tahu kekhawatiranku kepada Lance Haynswoth benar-benar berlebihan. Bagaimana mungkin Aku mengkhawatirkan pria menyebalkan yang esok harinya sudah berdiri dengan kaku di depan kamarku. Dia mengangguk singkat padaku dan mengucapkan selamat pagi ketika Aku muncul, dan kami turun bersama untuk sarapan. Setelahnya dia berlatih bersama prajurit lain dan Aku berjalan-jalan ditaman bersama Bibi Marry.

Setelah itu hari-hariku berlalu dengan cukup normal lagi, normal dalam artian yang buruk tentu saja. Setidaknya tidak ada kejutan-kejutan lebih menyiksa lagi dari Tuan Madison kan? Itu sepertinya harus disyukuri.

"Apa yang mau kau lakukan hari ini?" Tanya Bibi Marry, suatu hari ketika kami bersama-sama mengantarkan kepergian Paman Gareth ke Garlindow, mengunjungi istri dan anak-anaknya yang tinggal disana. Aku tahu kali itu Bibi Marry menyadari ekspresi meranaku.

"Er, aku tidak tahu. Kembali ke menara mungkin-"

Bibi Marry mengeleng cepat, "Tidak, tidak. Terlalu banyak di dalam ruangan tidak akan memperbaiki suasana hatimu, sebaiknya kau jalan-jalan."

"Apa?" Aku membelalak, tak percaya pada apa yang baru saja kudengar.

"Di dalam istana tentu saja," Dia menambahkan, semangatku turun lagi. Dan itu tidak lepas dari pengamatan Lance Haynsworth, Dia seperti sedang menahan senyum sekarang. Aku melotot padanya,

"Dan Aku punya pekerjaan sibuk di dapur pagi ini," Bibi Marry menambahkan, menghentikan kemelut batinku. "Jadi kau akan pergi dengan Haynsworth."

"Oh, eh? Oke." Ya Ampun. Apa Aku baru saja gugup? Menyebalkan sekali. Seringaian Lance melebar di depanku. Aku mencoba menenangkan pikiranku untuk tidak meninju wajahnya.

"Kemana kau mau pergi?" tanya Lance ketika Bibi Marry sudah meninggalkan kami.

"Tidak. Aku tidak mau pergi. Aku mau kembali ke menara." Aku bersikeras.

"Aku punya usul lebih bagus." Dia mencoba menimbang ekspresiku, itu membuatku geli. Dia seperti sedang membangun benteng pertahanan di sekelilingnya untuk menghindari terpaan amarahku.

Aku mencoba memberinya ekspresi tidak tertarik, tapi aku tahu, aku gagal total.

"Bagaimana dengan ide mencari senjata rahasia?" Aku mengernyit, "Oh baiklah,” Dia melambaikan tangan padaku menyerah. “Aku cuma berpikir akan lebih menarik kalau Aku membuatnya sedikit lebih dramatis."

"Apa sih maksudmu, Lance?" Aku menekankan nadaku saat memanggil namanya, membuatnya terkesiap lagi. Kali ini Aku yang menyeringai padanya. Ya Ampun, apakah akan ada semacam lomba menyeringai diam-diam antara Aku dan Haynsworth?

“Apa yang kau pikirkan?” Dia memandangku penasaran, Aku menggeleng cepat, menepis pikiran konyol itu dari pikiranku. “Tidak ada.”

Sejenak Dia diam memandangku, kemudian mengangkat bahu, gugup? "Menurutku ini saatnya bertindak, kita sepakat soal kekuatan yang belum diketahui itu," Dia melirikku meminta dukungan, Aku mengangguk kelewat semangat, Oh sial! "Menurutku kita bisa mencari tahu." Dia menambahlan ragu-ragu.

"Jadi?"

"Kau tidak tertarik?"

"Tidak bukan begitu, maksudku, apa yang akan kita lakukan?"

"Dengar," Dia mengerutkan kening padaku, suaranya nyaris menyerupai bisikan. "Aku berpendapat sesuatu pasti bisa kita ketahui disini. Mungkin senjata, informasi, apapun."

Aku menatapnya gugup, tetapi kemudian mengangguk setuju. Lance menghela napas lega, "Kau tentunya bisa menunjukkan semua tempat di istana ini tanpa dicurigai."

Oh! Jadi dia mau memanfaatkanku untuk pekerjaan kotor ini? Tidak! Tahan dirimu Nat! Tidak masalah, ini akan saling menguntungkan. Aku menggeleng-gelengkan kepala sekali lagi, apa sih masalahku dengan isi kepalaku sendiri?

 "Kenapa?"

"Tidak. Itu mungkin ide yang bagus." Aku nyengir, berusaha rileks. Dia menarik bibirnya menjadi garis keras, terlihat agak jengkel.

"Darimana kita mulai?" Aku mengalihkan topik pembicaraan, "Itu terserah padamu, Tuan Putri. Kau tuan rumahnya." Dia menyeringai padaku, membuatku menggigit bibir gugup. Skor 2-1 untuknya pagi ini. Nat! Aku menegur diriku sendiri.

Dan begitulah hari-hariku berlalu selanjutnya, berusaha melakukan banyak hal yang cukup berguna di hari-hari berikutnya. Aku tidak pernah mendengar lagi Lance berbicara soal peluangku kembali ke sekolah, dan Aku juga tidak pernah sekalipun mengingatkannya. Aku tahu ini akan sangat sulit. Menghadapi Tuan Madison? Siapa yang bisa menyaingi sikap gila kontrolnya?

Aku berusaha bersikap lebih baik sekarang, setidaknya perubahan sikapku ini juga membawa perubahan terhadap bagaimana Lance memperlakukanku, sebagai Tuan Putri yang dilindunginya tentu saja. Dia tidak lagi mengawasiku seperti dulu. kadang jika sedang bertugas mengawalku Dia hanya duduk di kursi taman dan membaca buku-buku tua, sedangkan Aku menanam tanaman anggrek, bermain bersama kelinci-kelinci peliharaanku, dan banyak berbicara dengan  orang-orang istana, hanya untuk mengetahui berita baru yang terjadi.

Yang paling baru terjadi adalah kasus pembakaran perkampungan yang dilaporkan oleh Para Kepala Daerah. Kebakaran itu terjadi di banyak tempat, dan parahnya dilakukan secara sengaja, setidaknya itu yang dikatakan para anggota kerajaan. Sampai saat ini belum diketahui penyebab dan dalang dibalik itu semua. Tapi Aku tidak bisa menghilangkan imajinasi dalam kepalaku untuk tidak mengaitkan kasus ini dengan raja Tyrone. Tuan Madison pernah bilang padaku kalau yang tengah dilakukan Raja Tyrone kali ini adalah berusaha menyebar teror di seluruh negeri, dia tidak menunjukkan dirinya secara nyata tetapi meninggalkan jejak-jejak identitas di tiap teror yang dilakukannya.

Jadi bukankah ini berhubungan? Tidak! Aku bergidik ngeri memikirkannya, khawatir membayangkan apa mungkin yang sedang dilakukan Raja Tyrone untuk membuat rakyat negeriku hidup dalam keresahan. Dan sialnya itu malah meningkatkan rasa bersalahku. Harusnya ada sesuatu yang kulakukan. Harusnya Aku bisa sedikit saja membantu kerajaan melindungi negeriku sendiri, bukan malah bersembunyi dibalik istana seperti saat ini.

Ide Lance soal mencari senjata rahasia mungkin adalah Hal terbaik yang bisa kulakukan. Kami sepakat mencari tahu kebih banyak tentang perang Rania dan kerajaan Elroy pada masa sebelumnya, mungkin saja banyak hal-hal tersembunyi di dalam perang itu. Jadi kami sering mengelilingi istana kerajaan untuk mengetahui rahasia-rahasia yang mungkin dapat mnenjawab pertanyaan-pertanyaan kami.

Betapa menyedihkannya mengetahui kenyataan bahwa meskipun Aku adalah anggota keluarga kerajaan, anak dari Raja Rania, pengetahuanku tentang istana ini benar-benar payah. Banyak ruangan-ruangan dan benda-benda yang menggugah rasa penasaran kami, tetapi berakhir dengan wajahku yang bersemu merah ketika Lance bertanya padaku.

Aku juga menggunakan pengaruhku sebagai putri kerajaan untuk mendekati siapapun di istana ini dan berbincang dengan mereka tentang apa yang mereka ketahui tentang gambaran perang itu, tetapi kebanyakan dari cerita mereka telah kudengar, jadi ini tak banyak membuahkan hasil. Tentu saja! Perang itu sudah terjadi ratusan tahun, dan siapa yang bisa menceritakan padaku seluruh detail kejadiannya?

Oh, dan ya… langkah terakhir kami adalah mengunjungi perpustakaan di istana sesering mungkin dan membaca buku-buku sejarah Rania yang ditulis pada masa terdaluhu. Kami berusaha membaca dari berbagai sudut pandang yang berbeda, dari yang ditulis para raja, para penasehat kerajaan, penyair sampai yang ditulis budak-budak pada masa dahulu.

Satu-satunya informasi yang mungkin sedikit berguna (meskipun harus diawali perdebatan sengit antara Aku dan Lance) adalahAnugrah Dewi Langit” karya Anthony Steinerr seorang pujangga besar yang hidup pada masa raja Rania yang pertama, Raja Aldrich. Aku tak menemukan hubungan judul buku itu dengan perang itu, kuira buku itu hanya berisi syair-syair pujian untuk dewi langit – masyarakat dulu memang punya kepercayaan pada dew-dewi semacam itu. Syair-syair itu menggunakan bahsa asing yang sama sekali tidak kumengerti, dan anehnya, entah bagaimana Lance bisa mengartikannya. Oh, tenang! Ini akan masuk ke dalam daftar pertanyaan panjangku padanya selain soal jalan rahasia tentu saja. Dia menjelaskan padaku sebagian isi bukunya, bagian yang bisa kumengerti hanyalah penjelasan Lance tentang keadaan Pasukan Hutan sang Raja Kegelapan sebagai pasukan yang besar, kuat dan bengis.

Lance menutup penjelasannya dan tersenyum bangga pada dirinya sendiri, Aku mengabaikannya, pikiranku sepenuhnya ngeri memikirkan ceritanya. Oh Ya Tuhan! Bagaimana aku bisa bertahan begini?

Pikiranku berkelana, jauh semakin jauh, membiarkan setan dalam jiwaku menari meneriakkan berbagai kata-kata penuh keputusasaan…

Jika para panglima perang mengatakan untuk memenangkan suatu perang kau harus mengetahui 4 hal yaitu kelebihan, kekuranganmu, kelebihan musuh, dan kekurangannya. Saat ini yang dapat Aku simpulkan bahwa Rania hanya mengetahui satu dari keempatnya, yaitu kelemahan kami sendiri. Kami tak tahu apa kelebihan yang dapat membantu kami, apalagi kekurangan dan kelebihan musuh kami. Tetapi parahnya pihak musuh kami tampaknya telah mengetahui keempat hal itu

***

|
0

RANIA : Princess Nathania and The Forest Troops Chapter 6

Posted by Nikki murniati on 20.28

more info about RANIA, you can follow @RaniaNovels @nikkimurniati_ on twitter


* 6*

Aku berjalan di atas rerumputan, menarik napas dalam-dalam menikmati kebebasanku yang hanya sesaat. Di hadapanku terbentang lapangan luas yang ditumbuhi bunga-bunga Daisy, menakjubkan. Di seberang lapangan adalah bagian terusan hutan terlarang dengan pepohonan yang berbaris rapat. Meskipun matahari bersinar terik saat ini, hutan itu tetap gelap dan menakutkan.

Lance Haynsworth berdiri dibelakang saat Aku memutuskan duduk pada batang sebuah pohon tua yang sudah tumbang. Aku melepaskan sepatuku dan merasakan rerumputan menyentuh kakiku yang telanjang. Gym – kelinci kesayanganku yang kubawa, kubiarkan berlarian bebas di sekitar kakiku. Aku tertawa cukup keras ketika menontonnya.

Perubahan suasana hatiku yang begitu cepat ternyata mempengaruhi Lance juga, rasa khawatir yang terlintas di wajahnya sepanjang perjalanan kami sepenuhnya hilang. Sudah kubilangkan ini bukan ide yang buruk, mereka saja yang berlebihan.

Cukup bosan menonton Gym berkeliling tempat ini, iseng Aku memandang berkeliling tempat ini. Nuansa keindahan dan ketenangan yang bersatu dengan tidak biasa. Aku tidak ingat pernah punya perasaan begini sebelumnya.

Apa yang salah?

Pandanganku terpaku ke dalam hutan, tak ada yang terlihat dari dalam sana selain kesunyian dan kegelapan yang tidak wajar. Bahkan burung-burung saja enggan untuk bertengger di cabang salah satu pohonnya…

Kemudian Aku merasa sesuatu bergerak dari dalam sana, Aku menggosok-gosok mataku dengan kedua tangan dan sekali lagi memusatkan pandanganku ke dalam hutan. Aku salah. Tidak sepenuhnya gelap, ada titik-titik cahaya, lebih dari satu, dan berkedip.. terlihat seperti sepasang mata yang disebar di berbagai sudut hutan.

Aku menelan ludah, jantungku berdegup kencang seketika. Mata-mata itu memandang ke arahku

Boleh aku duduk?” Tanya Lance, entah sejak kapan sudah berdiri disampingku. Wajahku kaku tak bisa bergerak menanggapinya. Tetapi kemudian Aku menyadari pandangan Lance juga tertuju kepada mata-mata itu. Apa itu?” Aku bertanya segera. Sepersekian detik Dia mengernyit padaku kebingungan, sebelum kemudian mengangguk paham, ekspresinya lega. Kenapa?

Apa yang ada di dalam sana?” Aku mengulang tak sabar.

Wah, aku takut mengecewakanmu. Tapi aku tidak pernah masuk kesana, jadi bagaimana aku tahu apa yang ada di dalam sana?”

Kau tahu berapa luasnya hutan ini? Dimana hutan ini berakhir?” wajahku memerah, sial.. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa takutku sekarang.

Aku melihat ekspresi Lance, dia memberiku ekspresi yang sulit diungkapkan, antara geli dan penasaran.

Aku tak tahu,” dia mengangkat bahu. “Tapi mungkin cukup luas untuk ditinggali suat kaum.” Aku merasakan seringaian di wajahnya. Aku tahu dia menuntutku berpikir, batinku bergelut menyingkirkan pikiran-pikiran buruk yang sudah memenuhi kepalaku.

Ada apa?” Dia tampak khawatir melihatku pucat, aku memutar mataku padanya seolah membentangkan bendera permusahan. Dia pikir aku terkesan pada jawaban sok misteriusnya itu? “Apa yang kau pikirkan?” Dia mendesakku, memberikan tatapan mengancam membuatku menciut. Ya Ampun, Dia cuma pengawalku, kenapa Aku takut?

Hutan ini mungkin ditempati makhluk-makhluk mengerikan,kataku pada akhirnya. Dia tertawa entah karena pertanyaanku atau karena nada bicaraku yang seperti anak kecil hampir ngompol karena ketakutan. Aku melotot padanya, “Menurutmu lucu?” tanyaku setengah menggeram.

“Tidak,” Dia menggeleng cepat. Aku cuma tertarik pada apa yang membuatmu khawatir. Makhluk mengerikan yang kau katakan itu, apakah maksudnya mereka yang sedang menatap kita?” tanyanya dengan tenang, memandang geli ke arahku.

“Kau juga melihatnya?” Aku tergagap, wajahku sekali lagi memerah. Oh, andai saja ini malam hari, Aku tidak akan merasakan siksaan seperti ini.

Tentu saja,” dia terkesiap. “Memangnya menurutmu ada yang salah dengan mataku?” Dia nyengir, gagal berusaha untuk tersinggung. Aku menggigit bibir, berusaha menahan senyumku. Jadi apa itu?” tanyaku tak sabaran.

Kau tidak tahu? Itu bagian dari pasukan hutan Raja Tyrone. Dia menatapku dengan sangat berani, mencoba menilai ekspresiku. Aku tidak bisa berpura-pura lagi dan tertawa terbahak-bahak. Dia memicingkan mata heran.

Memangnya kau kira aku mudah ditakut-takuti, eh? Aku menaggapi setelah cukup lama tertawa, anehnya lagi Dia tidak ikut tertawa denganku.

Ya Ampun, selera humormu benar-benar buruk, Tuan Putri. Kau pikir aku bercanda?Dia memandangku dengan serius. Aku memberinya pandangan meragukan masih tidak percaya sepenuhnya. Pasukan hutan? Di hutan Kerajaan Rania? Kau kelewatan!

“Kau tidak percaya?” kali ini dia yang memberiku pandangan meragukan, Aku mengangkat bahu kebingungan. Jantungku berdegup semakin kencang.

“Tidak. Itu tidak mungkin–“ Aku berhenti, tidak melanjutkan ucapanku. Bergumam “Oh” pelan seakan mengerti apa isi kepala pria menyebalkan didepanku ini. Tentu saja mungkin. Kau sendiri yang menceritakannya pada kami, Pasukan Hutan bersembunyi di hutan-hutan setelah kalah perang, apa lagi yang membuatmu ragu?”

Oh Double Sial! Aku tidak menyangka Dia ingat ceritaku saat pertemuan dengan Tuan Madison sedetail itu. Mulutku kering sulit bicara. Dia menunggu tanggapanku.

“Tapi… tidak mungkin di Rania, kau tahu ini mustahil. Aku tahu mereka sembunyi di hutan, tapi kalaupun itu mereka–“ aku menambahkan ketika melihat ekspresi kesalnya. “Kalau itu mereka, kenapa semua orang tidak tahu?”

“Kau yakin semua orang tidak tahu?”

Aku terkesiap, “Apa?”

“Aku malah berpikiran cuma kau saja yang tidak tahu,”

Aku menelan kemarahanku untuk kesekian kalinya, dan menatapnya gusar.

“Dan kenapa mereka semua tidak berbuat apapun?”

“Memangnya apa yang bisa mereka lakukan?”

“Menyerang makhluk-makhluk sialan itu mungkin?” Aku bermaksud berteriak padanya, tapi suara yang keluar nyaris malah berupa bisikan. Dia tersenyum simpati, tapi segera menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat ekspresiku. “Aku tidak bermaksud menyinggungmu sungguh, ini benar-benar menggelikan kau tahu kan, Menyerang pasukan hutan? Kurasa butuh orang cukup waras mempertimbangkannya.”

“Begitu, eh? Jadi kau setuju denganku kalau begitu, soal omong kosong Tuan Madison tentang persiapan perang?”

Dia menaikkan alisnya padaku, Aku memandangnya tak gentar, sedikit butuh perjuangan memang.

“Oh ayolah Lance, kita tidak mungkin bisa menandingi Pasukan Raja Tyrone.”

Lance terkesiap, entah karena ucapanku atau karena untuk pertama kalinya aku memanggil namanya.

“Tidak. Aku tidak pernah bilang begitu.“

“Oh benarkah? Lalu apa maksudnya dengan cukup waras untuk tidak menyerang Pasukan Hutan? Kau masih mau mengelak?”

Kau cuma berusaha menantang semua yang diucapkan Raja, Tuan putri. Itulah yang kau lakukan. Aku berpendapat seperti itu karena memang begitulah keadaannya. Kita tidak bisa menandinginya. Tidak… saat ini. Aku mengerucutkan bibir padanya, Dia melanjutkan. “Dan jangan mengomentari semua yang sedang dipersiapkan Raja seolah itu hal buruk, karena sesungguhnya Kau-Tidak-Tahu!”

“Apa yang Aku tidak tahu?” tanyaku ingin tahu, mencoba mengorek informasi lebih banyak lagi. “Wah sayangnya Aku tidak berhak ikut campur akan hal itu. Tugasku hanyalah menjagamu saat ini dan bersiap menghadapi peperangan.

Dia menyeringai padaku. Sial! Dia selalu tahu apa yang kupikirkan, Aku melempar pandangan kesal padanya. Aku tahu dia tidak bersungguh-sungguh dengan perkataanya. Tidak tahu apapun? Taruh saja mukaku di pantatku, Aku berani sumpah dia tahu apapun yang Tuan Madison ketahui.

Kau cuma pura-pura, Lance. Aku yakin kau dan semua orang pun sadar apa yang akan kita hadapi, Bagaimana mungkin kita memenangkan perang melawan makhluk-makhluk sihir?”

Sepertinya Kau melupakan fakta bahwa Rania pernah menang pada perang sebelumnya,Dia berkata dengan santai tak terpengaruh emosiku.

Aku diam memikirkan kata-katanya. Dia benar. kami pernah memenangkan peperangan melawan makhluk-makhluk sihir dengan kekuatan luar biasa. Bagaiamana itu semua bisa terjadi?

Mungkin saat itu Rania memiliki semacam senjata kuat yang membuat mereka takut” kataku setelah lama kami saling diam, Dia mengangguk puas. Aku mamandangnya heran, “Kenapa?”

Aku setuju denganmu,Dia berujar. Menurutku itulah jawabannya, Tuan Putri. Kita bisa memenangkan pertarungan jika kita tahu kekuatan apa yang kita miliki.

Aku terbelalak, Jadi maksudmu, bahkan kerajaan pun tak tahu tentang senjata atau kekuatan itu?”

Kurasa mereka tidak beranggapan kalau kita punya hal semacam itu. Selama ini keyakinan yang mereka miliki adalah Rania hebat–” Dia berhenti ketika menatap ekspresiku. Kau mau menjelek-jelekkan negeriku hei pengawal sok hebat? Aku melotot padanya, dan dia melanjutkan dengan acuh, “Mereka pastilah beranggapan kemenangan Rania sebelum ini karena kekuatan mereka sendiriMungkin kebanyakan bahkan tidak sadar apa yang sedang kita hadapi sekarang.”

Aku memutar mata, muak. Merasakan gelombang rasa ngeri sekaligus kekhawatiran yang menyebalkan. Pohon-pohon di hutan bergerak tertiup angin, mata-mata itu masih menatap kami.

Lalu bagaimana mungkin kita bisa menemukan senjata yang kita pun tak tahu bentuk dan wujudnya?” Aku melanjutkan, Dia tampak terkejut karena Aku masih melanjutkan diskusi kami tentang ini. “Kita tak bisa bertanya. Tidak ada satupun diantara kita yang menyaksikan peperangan itu. Perang itu telah terjadi ratusan tahun, dan satu-satunya pihak yang mengetahui kejadian itu sekarang adalah Pasukan Hutan yang masih hidup, tapi kau kan tidak mungkin masuk kedalam hutan dan berkata, “hai, bisakah kau memberitahu kami senjata apa yang harus kami gunakan untuk mengalahkan kalian?””

Dia tertawa cukup keras, suaranya menggema ditempat ini. Ya Ampun, Apa selalu kelebihan semangat seperti ini? Dia nyengir, semakin menunjukkan nada sarkasme dalam ucapannya. Aku memberengut, sebelum kemudian dia menambahkan, “Tapi Aku setuju kalau hal itu adalah masalah tersulit yang kita hadapi sekarang. Bagaimanapun Aku senang kau berada di pihakku.

Aku tidak pernah bilang begitu,Aku memprotes, memutar mataku padanya.

“Ketika Aku memberitahu hal ini pada Raja Arthur..” Oh Ya Ampun,” Aku mengeluh mendengar nada penghormatan dalam nadanya memanggil Tuan Madison, Dia tidak memperhatikan. Saat Aku memberitahu sang raja–“ Aku memutar bola mataku, “Dia cuma menganggap ini lelucon, kita tidak memiliki hal semacam itu, Lance.” Dia memperagakan Tuan Madison berbicara, Aku tertawa mendengarnya, “Dia seperti yang lain yakin kekuatan prajurit yang besar akan bisa mengalahkan mereka.

Omong kosong, dia terlalu naif untuk mengakuinya.”

Ya, memang. Tapi caramu menyampaikan pendapatmu itu tidak benar.” Dia menepis pandangan penuh harapku, Aku mengangkat bahu sebal.

Kau tidak berhak mengomentariku soal itu, Lance. Ini tidak adil buatku. Aku kehilangan orangtua dan seluruh keluargaku, tetapi mereka malah memenjarakanku seolah-olah Raja Tyrone akan muncul kapan saja dan mencekik leherku. Dan jangan memandangku seperti itu!” Aku menambahkan menyadari ekspresinya, “Apa?” tuntutku setengah berteriak.

Lance menghela napas kecewa. “Pertama-tama, Raja Tyrone tidak mencekik, Tuan Putri. Bagaimana bisa kau berpendapat begitu?”

Double Sial! Ini bukan saat yang tepat untuk lelucon payahmu, Haynsworth! Darahku mendidih,

Kau seharusnya melihat semua ini dari sisi yang berbeda. Ini bukan hanya tentang prioritas melindungimu sebagai calon Ratu Rania, mereka mengkhawatirkanmu. Semua orang tidak mau kehilanganmu seperti mereka kehilangan ayah dan ibumu. Dia menambahkan saat aku kehilangan suaraku karena amarah. Well, selalu amarah. Apa sih masalahku dengan temperamenku yang buruk ini? Kenapa tidak bisa sebentar saja Aku mencegah diri dari marah-marah?

Aku tahu tujuan mereka baik, tapi seharusnya mereka juga sadar kalau mereka lakukan hanya membuat semuanya semakin buruk. Aku juga ingin kehidupan yang normal,” jawabku berusaha setenang mungkin, tapi jatuhnya suaraku justru bergetar. Aku memandang Lance, wajahku memerah melihat ekspresinya.

Memang ada beberapa hal yang menurutku sedikit berlebihan, melarangmu pergi kesekolah merupakan keputusan yang salah menurutku,komentar Lance berusaha bersimpati. Aku mengabaikannya, untungnya berhasil untuk tidak mendengus padanya. Kau harus tahu kalau Aku, Miss Anderson dan Tuan Gareth sedang berusaha agar kau bisa kembali ke sekolah kerajaan. Menurut kami pendidikan sangat penting untuk masa depanmu memimpin Rania.

Karena itu kami juga membutuhkan bantuanmu,Dia memandangku serius. Tolong berjanjilah untuk lebih menahan emosimu, Tuan Putri. Bersikaplah baik pada sang raja, lakukan apa yang diperintahkannya.  Aku berjanji akan membantumu kembali ke sekolah kalau kau bisa melakukannya. Aku tahu kau membutuhkannya. Berjuanglah bersama kami semua, Tuan Putri Nathania. Kita harus berjuang bersama-sama menghadapi ini.

Mulutku kering, suaraku jauh tertinggal di tenggorokan. Pria ini sedang memperjuangkanku kembali ke sekolah?

“Apa itu benar? Apa kau melakukannya?”

“Apa kau percaya padaku?” Dia balik bertanya, menautkan alisnya yang sempurna, memberiku senyum khasnya – senyum yang bisa membuat gadis remaja sepertiku meleleh. Aku terenyak atas pengakuannya, dan Dia tak menunggu jawabanku.

Matahari telah terbenam dan langit telah berwarna jingga.

Apa itu benar-benar mereka?” tanyaku setelah kami berdua saling diam cukup, Aku kembali  memandang mata-mata yang masih berkedip menatap kami. Lance mengangguk tanpa menjawab. Kenapa mereka terus menatap kita?”

Kurasa mereka memata-matai kita.

“Mata-mata?” Aku menelan ludah, gemetaran. “Haruskah kita melapor pada Tuan Madison?”

“Tidak. Kecuali kau mau mengakui kalau kau pergi keluar istana tanpa izin.” Wajahku memerah untuk kesekian kalinya, dia tidak memerhatikan kali ini. Apa Raja Tyrone bersama mereka?”

Kenapa kau bertanya padaku? Menurutmu wajahku cocok jadi bagian dari mereka? Dia nyengir padaku, menunjukkan ekspresi tololnya. “Apa aku seperti Gru?”

Aku cekikikan memandangnya, wajahnya kembali serius.Menurutku Dia tidak berada disana, Tuan Putri. Yang kudengar Raja Tyrone jarang berada ditempat yang sama dalam waktu lama, mungkin Dia masih berusaha mengumpulkan dan mencari sisa-sisa pasukannya di seluruh hutan di negeri ini.

Aku bergumam “Oh” pelan,

“Jadi itu yang kau khawatirkan sejak tadi? Raja Tyrone?”

Aku takut mereka menampakkan diri dan menyerang kita.

Mereka tidak hanya melakukan ini sekarang, Tuan Putri. Selama ini mereka terus memata-matai seluruh negeri ini dari dalam hutan, dan mereka hanya akan bergerak jika Raja Tyrone memerintahkannya keluar, dan itu artinya perang dimulai” jelas Lance.

“Aku heran kenapa Raja Tyrone dan pasukannya tidak segera melakukannya? Peperangan maksudku–”

Mereka belum sesiap itu.

Apakah Raja Tyrone perlu mempersiapkan pasukan? Pasukannya dikuasai oleh kekuatan sihir, dari sisi manapun mereka akan tetap menang melawan kami.

Apa kau sudah selesai? Sudah waktunya pergi, kita akan tertinggal makan malam kalau tidak cepat kembali. Bukankah kau belum makan apapun sejak pagi?”

Sial! Dia juga tahu?

“Dan kau punya janji yang harus tepati ingat?”

Ya… makan malam di Aula, kenapa Aku jadi gugup memikirkannya?

“Kecuali kau mau mengingkari janjimu, tapi kurasa itu bukan sikap seorang putri.” Dia menambahkan, menatapku hati-hati, mungkin mengira Aku akan meledak lagi?

“Oke,” kataku singkat. “Dan Aku juga akan berusaha bersikap baik seperti katamu.”

Aku mengatupkan mulut dan bangkit dari dudukku, sekilas Aku bisa melihat senyum lebar di wajah Lance Haynsworth.

Sial! Aku senyumnya.

***

|

Copyright © 2009 scribens de caelo !! All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.