0
RANIA : Princess Nathania and The Forest Troops Chapter 6
Posted by Nikki murniati
on
20.28
more info about RANIA, you can follow @RaniaNovels @nikkimurniati_ on twitter
*
6*
Aku berjalan di atas rerumputan,
menarik napas
dalam-dalam menikmati kebebasanku yang hanya sesaat. Di hadapanku terbentang lapangan luas
yang ditumbuhi bunga-bunga Daisy,
menakjubkan. Di
seberang lapangan adalah bagian terusan hutan terlarang dengan pepohonan yang berbaris rapat. Meskipun matahari
bersinar terik saat ini, hutan itu tetap gelap dan menakutkan.
Lance Haynsworth
berdiri dibelakang saat Aku memutuskan duduk pada
batang sebuah pohon tua yang sudah tumbang. Aku melepaskan sepatuku dan
merasakan rerumputan menyentuh kakiku yang telanjang. Gym – kelinci kesayanganku yang kubawa, kubiarkan berlarian bebas di sekitar kakiku. Aku tertawa cukup keras ketika menontonnya.
Perubahan suasana
hatiku yang begitu cepat ternyata mempengaruhi Lance juga, rasa khawatir yang
terlintas di wajahnya sepanjang perjalanan kami sepenuhnya hilang. Sudah kubilangkan ini bukan ide yang buruk, mereka saja yang
berlebihan.
Cukup bosan menonton Gym berkeliling tempat ini, iseng Aku memandang berkeliling tempat ini.
Nuansa keindahan dan ketenangan yang
bersatu dengan tidak biasa. Aku tidak ingat pernah punya perasaan begini
sebelumnya.
Apa yang salah?
Pandanganku terpaku ke dalam hutan, tak ada yang terlihat
dari dalam sana selain kesunyian dan kegelapan yang tidak wajar. Bahkan
burung-burung saja enggan untuk bertengger di cabang salah satu pohonnya…
Kemudian Aku merasa sesuatu bergerak dari dalam sana, Aku
menggosok-gosok mataku dengan kedua tangan dan sekali lagi memusatkan
pandanganku ke dalam hutan. Aku salah. Tidak sepenuhnya gelap, ada titik-titik
cahaya, lebih dari satu, dan berkedip.. terlihat seperti sepasang mata yang disebar
di berbagai sudut hutan.
Aku menelan ludah, jantungku berdegup kencang seketika. Mata-mata itu memandang ke arahku…
“Boleh aku duduk?” Tanya Lance, entah sejak kapan sudah berdiri
disampingku. Wajahku kaku tak bisa
bergerak menanggapinya. Tetapi
kemudian Aku menyadari
pandangan Lance juga tertuju kepada mata-mata itu. “Apa itu?” Aku bertanya segera. Sepersekian detik Dia
mengernyit padaku kebingungan, sebelum kemudian mengangguk paham, ekspresinya
lega. Kenapa?
“Apa yang ada di dalam
sana?” Aku mengulang tak sabar.
“Wah, aku takut mengecewakanmu. Tapi aku tidak pernah masuk kesana,
jadi bagaimana aku tahu apa yang ada di dalam sana?”
“Kau tahu berapa luasnya hutan ini? Dimana
hutan ini berakhir?” wajahku
memerah, sial..
Aku tidak bisa menyembunyikan rasa takutku sekarang.
Aku melihat ekspresi Lance, dia memberiku ekspresi yang sulit
diungkapkan, antara geli dan penasaran.
“Aku tak tahu,” dia mengangkat bahu. “Tapi mungkin cukup luas untuk ditinggali suat kaum.” Aku merasakan seringaian di wajahnya. Aku tahu dia menuntutku berpikir, batinku bergelut
menyingkirkan pikiran-pikiran buruk yang sudah memenuhi kepalaku.
“Ada apa?” Dia tampak khawatir melihatku pucat, aku
memutar mataku padanya seolah membentangkan bendera permusahan. Dia pikir aku
terkesan pada jawaban sok misteriusnya itu? “Apa yang kau pikirkan?” Dia
mendesakku, memberikan tatapan mengancam membuatku menciut. Ya Ampun, Dia cuma
pengawalku, kenapa Aku takut?
“Hutan ini mungkin ditempati makhluk-makhluk
mengerikan,” kataku pada akhirnya. Dia tertawa entah karena pertanyaanku atau karena nada
bicaraku yang seperti anak kecil hampir ngompol karena ketakutan. Aku melotot
padanya, “Menurutmu lucu?” tanyaku setengah menggeram.
“Tidak,” Dia menggeleng cepat. “Aku cuma tertarik pada apa yang membuatmu
khawatir. Makhluk mengerikan yang kau katakan itu, apakah maksudnya mereka yang
sedang menatap kita?” tanyanya dengan tenang, memandang geli ke arahku.
“Kau juga
melihatnya?” Aku tergagap, wajahku
sekali lagi memerah. Oh, andai saja ini malam hari, Aku tidak akan merasakan
siksaan seperti ini.
“Tentu saja,” dia terkesiap. “Memangnya menurutmu ada yang
salah dengan mataku?” Dia nyengir, gagal berusaha
untuk tersinggung. Aku menggigit bibir, berusaha menahan senyumku. “Jadi apa itu?” tanyaku tak sabaran.
“Kau tidak tahu? Itu bagian dari pasukan hutan Raja
Tyrone.” Dia menatapku dengan sangat berani, mencoba
menilai ekspresiku. Aku tidak bisa berpura-pura lagi dan tertawa
terbahak-bahak. Dia memicingkan mata heran.
“Memangnya kau kira aku mudah ditakut-takuti,
eh?” Aku
menaggapi setelah cukup lama tertawa, anehnya lagi Dia tidak ikut tertawa
denganku.
“Ya Ampun, selera humormu
benar-benar buruk, Tuan Putri.
Kau pikir aku bercanda?” Dia memandangku dengan serius.
Aku memberinya pandangan meragukan masih tidak percaya sepenuhnya. “Pasukan
hutan? Di hutan Kerajaan Rania? Kau
kelewatan!”
“Kau tidak percaya?” kali ini dia yang memberiku pandangan meragukan,
Aku mengangkat bahu kebingungan. Jantungku berdegup semakin kencang.
“Tidak. Itu tidak mungkin–“ Aku berhenti, tidak melanjutkan ucapanku.
Bergumam “Oh” pelan seakan mengerti apa isi kepala pria menyebalkan didepanku
ini. “Tentu saja mungkin. Kau
sendiri yang
menceritakannya pada kami, Pasukan
Hutan bersembunyi di hutan-hutan setelah kalah perang, apa lagi yang membuatmu
ragu?”
Oh Double Sial! Aku tidak menyangka Dia ingat ceritaku saat pertemuan dengan Tuan Madison sedetail itu. Mulutku kering sulit bicara. Dia menunggu
tanggapanku.
“Tapi… tidak mungkin di Rania, kau tahu ini mustahil. Aku tahu mereka
sembunyi di hutan, tapi kalaupun itu mereka–“ aku menambahkan ketika melihat
ekspresi kesalnya. “Kalau itu mereka, kenapa semua orang tidak tahu?”
“Kau yakin semua orang tidak tahu?”
Aku terkesiap, “Apa?”
“Aku malah berpikiran cuma kau saja yang tidak tahu,”
Aku menelan kemarahanku untuk kesekian kalinya, dan menatapnya gusar.
“Dan kenapa mereka semua tidak berbuat apapun?”
“Memangnya apa yang bisa mereka lakukan?”
“Menyerang makhluk-makhluk sialan itu mungkin?” Aku bermaksud berteriak
padanya, tapi suara yang keluar nyaris malah berupa bisikan. Dia tersenyum simpati,
tapi segera menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat ekspresiku. “Aku tidak
bermaksud menyinggungmu sungguh, ini benar-benar menggelikan kau tahu kan,
Menyerang pasukan hutan? Kurasa butuh orang cukup waras mempertimbangkannya.”
“Begitu, eh? Jadi kau setuju denganku kalau begitu, soal omong kosong Tuan Madison tentang persiapan
perang?”
Dia menaikkan alisnya padaku, Aku memandangnya tak gentar, sedikit butuh
perjuangan memang.
“Oh ayolah Lance, kita tidak mungkin bisa menandingi Pasukan Raja Tyrone.”
Lance terkesiap, entah karena ucapanku atau karena untuk pertama kalinya
aku memanggil namanya.
“Tidak. Aku tidak pernah bilang begitu.“
“Oh benarkah? Lalu apa maksudnya dengan cukup waras untuk tidak
menyerang Pasukan Hutan? Kau masih mau mengelak?”
“Kau cuma berusaha menantang semua yang diucapkan Raja,
Tuan putri. Itulah yang kau
lakukan. Aku berpendapat seperti itu karena memang begitulah keadaannya. Kita
tidak bisa menandinginya. Tidak… saat ini.” Aku mengerucutkan bibir padanya, Dia
melanjutkan. “Dan jangan mengomentari semua yang sedang dipersiapkan Raja
seolah itu hal buruk, karena sesungguhnya Kau-Tidak-Tahu!”
“Apa yang Aku tidak tahu?” tanyaku ingin tahu, mencoba mengorek
informasi lebih banyak lagi. “Wah sayangnya Aku tidak
berhak ikut campur akan hal itu. Tugasku hanyalah menjagamu saat ini dan
bersiap menghadapi peperangan.”
Dia menyeringai padaku. Sial! Dia selalu tahu apa yang kupikirkan,
Aku melempar
pandangan kesal padanya. Aku tahu dia tidak bersungguh-sungguh dengan perkataanya. Tidak tahu apapun? Taruh
saja mukaku di pantatku, Aku berani sumpah dia tahu apapun yang Tuan Madison
ketahui.
“Kau cuma
pura-pura, Lance. Aku yakin kau dan semua orang pun sadar apa
yang akan kita hadapi, Bagaimana mungkin kita memenangkan perang melawan makhluk-makhluk
sihir?”
“Sepertinya Kau melupakan
fakta bahwa Rania pernah menang pada perang sebelumnya,” Dia berkata dengan santai
tak terpengaruh emosiku.
Aku diam memikirkan
kata-katanya. Dia benar. kami pernah memenangkan peperangan melawan makhluk-makhluk sihir dengan
kekuatan luar biasa. Bagaiamana itu semua bisa terjadi?
“Mungkin saat itu Rania
memiliki semacam senjata kuat yang membuat mereka takut” kataku
setelah lama kami saling diam, Dia mengangguk puas. Aku
mamandangnya heran, “Kenapa?”
“Aku setuju denganmu,” Dia berujar. “Menurutku itulah
jawabannya, Tuan
Putri. Kita bisa memenangkan
pertarungan jika kita tahu kekuatan apa yang kita miliki.”
Aku terbelalak, “Jadi maksudmu, bahkan kerajaan pun tak tahu tentang
senjata atau kekuatan itu?”
“Kurasa mereka tidak
beranggapan kalau kita punya hal semacam itu. Selama ini keyakinan yang mereka miliki adalah
Rania hebat–” Dia berhenti
ketika menatap ekspresiku. Kau mau menjelek-jelekkan negeriku hei pengawal sok
hebat? Aku melotot padanya, dan dia melanjutkan dengan acuh, “Mereka pastilah beranggapan kemenangan Rania sebelum ini karena kekuatan mereka sendiri. Mungkin kebanyakan bahkan tidak sadar apa yang sedang kita hadapi
sekarang.”
Aku memutar mata, muak. Merasakan gelombang rasa ngeri sekaligus kekhawatiran
yang menyebalkan. Pohon-pohon di hutan bergerak tertiup angin, mata-mata itu
masih menatap kami.
“Lalu bagaimana mungkin
kita bisa menemukan senjata yang kita pun tak tahu bentuk dan wujudnya?” Aku melanjutkan, Dia tampak terkejut karena
Aku masih melanjutkan diskusi kami tentang ini. “Kita tak
bisa bertanya. Tidak ada satupun diantara
kita yang menyaksikan peperangan itu. Perang itu telah terjadi ratusan tahun, dan satu-satunya pihak
yang mengetahui kejadian itu
sekarang adalah Pasukan Hutan yang masih hidup, tapi kau
kan tidak mungkin masuk kedalam hutan dan berkata, “hai, bisakah kau memberitahu kami senjata apa yang harus kami gunakan untuk
mengalahkan kalian?””
Dia tertawa cukup
keras, suaranya menggema ditempat
ini. “Ya Ampun, Apa selalu kelebihan semangat seperti ini?” Dia nyengir, semakin
menunjukkan nada sarkasme dalam ucapannya. Aku memberengut, sebelum kemudian dia menambahkan, “Tapi Aku setuju kalau hal itu adalah masalah tersulit yang kita hadapi sekarang. Bagaimanapun Aku senang kau berada di pihakku.”
“Aku tidak pernah bilang begitu,” Aku memprotes, memutar mataku padanya.
“Ketika Aku memberitahu hal ini pada Raja Arthur..” “Oh Ya Ampun,” Aku mengeluh mendengar nada
penghormatan dalam nadanya memanggil Tuan Madison, Dia tidak memperhatikan. “Saat
Aku
memberitahu sang raja–“ Aku
memutar bola mataku, “Dia cuma menganggap ini lelucon, kita tidak memiliki hal semacam itu, Lance.” Dia memperagakan Tuan Madison berbicara, Aku
tertawa mendengarnya, “Dia seperti yang lain yakin kekuatan prajurit yang besar akan
bisa mengalahkan mereka.”
“Omong kosong, dia terlalu
naif untuk mengakuinya.”
“Ya, memang. Tapi caramu menyampaikan pendapatmu itu tidak benar.” Dia menepis pandangan penuh harapku, Aku mengangkat bahu sebal.
“Kau tidak berhak
mengomentariku soal itu, Lance. Ini tidak adil buatku. Aku kehilangan orangtua dan seluruh keluargaku, tetapi
mereka malah memenjarakanku
seolah-olah Raja Tyrone akan muncul kapan saja dan mencekik leherku. Dan jangan memandangku
seperti itu!” Aku menambahkan menyadari ekspresinya, “Apa?” tuntutku setengah
berteriak.
Lance menghela napas kecewa. “Pertama-tama, Raja Tyrone tidak mencekik,
Tuan Putri. Bagaimana bisa kau berpendapat begitu?”
Double Sial! Ini bukan saat yang tepat untuk lelucon payahmu, Haynsworth!
Darahku mendidih,
“Kau seharusnya melihat semua
ini dari sisi yang berbeda. Ini bukan hanya tentang prioritas melindungimu
sebagai calon Ratu Rania, mereka mengkhawatirkanmu. Semua orang tidak mau kehilanganmu
seperti mereka kehilangan ayah dan ibumu.” Dia
menambahkan saat aku kehilangan suaraku karena amarah. Well, selalu amarah. Apa
sih masalahku dengan temperamenku yang buruk ini? Kenapa tidak bisa sebentar
saja Aku mencegah diri dari marah-marah?
“Aku tahu tujuan mereka
baik, tapi seharusnya mereka juga sadar kalau mereka lakukan hanya membuat semuanya semakin buruk. Aku juga ingin
kehidupan yang normal,” jawabku berusaha
setenang mungkin, tapi jatuhnya suaraku justru bergetar. Aku memandang Lance, wajahku memerah melihat
ekspresinya.
“Memang ada beberapa hal yang
menurutku sedikit berlebihan, melarangmu pergi kesekolah merupakan keputusan
yang salah menurutku,” komentar Lance berusaha
bersimpati. Aku mengabaikannya, untungnya berhasil untuk tidak mendengus
padanya. “Kau harus tahu kalau Aku, Miss Anderson dan Tuan
Gareth sedang berusaha agar kau bisa kembali ke sekolah kerajaan. Menurut kami pendidikan sangat penting
untuk masa depanmu memimpin Rania.
Karena itu kami juga membutuhkan bantuanmu,” Dia memandangku serius. “Tolong berjanjilah untuk lebih menahan emosimu,
Tuan Putri. Bersikaplah
baik pada sang raja, lakukan apa yang diperintahkannya. Aku berjanji akan membantumu kembali ke sekolah kalau kau bisa
melakukannya. Aku tahu kau membutuhkannya. Berjuanglah bersama kami semua, Tuan
Putri Nathania. Kita harus berjuang bersama-sama menghadapi ini.”
Mulutku kering, suaraku jauh tertinggal di tenggorokan. Pria ini sedang
memperjuangkanku kembali ke sekolah?
“Apa itu benar? Apa kau melakukannya?”
“Apa kau percaya padaku?” Dia balik bertanya, menautkan alisnya yang
sempurna, memberiku senyum khasnya – senyum yang bisa membuat gadis remaja
sepertiku meleleh. Aku terenyak atas pengakuannya, dan Dia tak menunggu
jawabanku.
Matahari telah
terbenam dan langit
telah berwarna
jingga.
“Apa itu benar-benar mereka?” tanyaku
setelah kami berdua saling diam cukup, Aku kembali memandang mata-mata yang
masih berkedip menatap kami. Lance mengangguk tanpa menjawab. “Kenapa mereka terus menatap kita?”
“Kurasa mereka memata-matai
kita.”
“Mata-mata?” Aku menelan ludah, gemetaran. “Haruskah kita melapor pada
Tuan Madison?”
“Tidak. Kecuali kau mau mengakui kalau kau pergi keluar istana tanpa
izin.” Wajahku memerah untuk kesekian kalinya, dia tidak memerhatikan kali ini.
“Apa Raja Tyrone bersama mereka?”
“Kenapa kau bertanya padaku? Menurutmu wajahku
cocok jadi bagian dari mereka?” Dia nyengir padaku, menunjukkan ekspresi
tololnya. “Apa aku seperti Gru?”
Aku cekikikan memandangnya, wajahnya kembali serius. “Menurutku
Dia tidak
berada disana, Tuan Putri. Yang kudengar Raja Tyrone jarang berada ditempat
yang sama dalam waktu lama, mungkin Dia masih berusaha mengumpulkan dan mencari sisa-sisa pasukannya di seluruh hutan
di negeri ini.”
Aku bergumam “Oh” pelan,
“Jadi itu yang kau khawatirkan sejak tadi? Raja Tyrone?”
“Aku takut mereka menampakkan
diri dan menyerang
kita.”
“Mereka tidak hanya melakukan ini sekarang, Tuan Putri. Selama ini mereka terus memata-matai seluruh negeri ini
dari dalam hutan, dan mereka hanya akan bergerak jika Raja Tyrone memerintahkannya keluar,
dan itu artinya perang dimulai” jelas
Lance.
“Aku heran kenapa Raja Tyrone dan pasukannya tidak segera melakukannya?
Peperangan maksudku–”
“Mereka belum sesiap itu.”
Apakah Raja Tyrone perlu mempersiapkan pasukan? Pasukannya dikuasai oleh
kekuatan sihir, dari sisi manapun mereka
akan tetap menang melawan kami.
“Apa kau sudah selesai? Sudah
waktunya pergi, kita akan tertinggal makan malam kalau tidak cepat kembali. Bukankah kau belum makan apapun
sejak pagi?”
Sial! Dia juga tahu?
“Dan kau punya janji yang harus tepati ingat?”
Ya… makan malam di Aula, kenapa Aku jadi gugup memikirkannya?
“Kecuali kau mau
mengingkari janjimu, tapi kurasa itu bukan sikap seorang putri.” Dia
menambahkan, menatapku hati-hati, mungkin mengira Aku akan meledak lagi?
“Oke,” kataku singkat.
“Dan Aku juga akan berusaha bersikap baik seperti katamu.”
Aku mengatupkan mulut
dan bangkit dari dudukku, sekilas Aku bisa melihat senyum lebar di wajah Lance
Haynsworth.
Sial! Aku senyumnya.
***