0
RANIA : Princess Nathania and The forest Troops Chapter 2
Posted by Nikki murniati
on
19.31
more info about RANIA, you can follow @RaniaNovels @nikkimurniati_ on twitter
*
2 *
Aku tak tahu sudah
berapa lama tertidur sejak kedatangan Bibi Marry dikamarku tadi. Kata-kata Bibi Marry menari-nari di kepalaku,
seperti angin topan yang menyapu ulu hatiku. “Pemakaman akan dimulai, pemakaman
akan dimulai,”.
Oh, andaikan Aku punya lebih banyak suara, Aku siap berteriak lagi. Tapi
tenggorokanku benar-benar sakit sekarang, mataku bengkak dan sulit dibuka. Aku berusaha duduk merasakan kepalaku yang
berputar-putar. Masih ada sesuatu dalam dadaku yang menggumpal dan
terasa menyakitkan,
“Kau sendirian, Nat. Kau-Sendirian!” ejek isi kepalaku.
“Kau-tidak-punya-siapapun-lagi!”
Aku melempar bantalku frustasi, ingin sekali mengusir keluar setan jahat
yang ada di kepalaku saat ini. Aku jatuh di lantai yang dingin, dan kilasan-kilasan kejadian menyakitkan itu kembali memasuki kepalaku dan menari-nari dalam memoriku.
Aku masih berada di Kelas Tatakrama
ketika lonceng pengumuman dibunyikan. Tuan Graddy, kepala sekolah kami, mengumpulkan semua Pangeran dan Putri di aula sekolah, wajahnya tampak benar-benar kacau dan linglung saat aku
memperhatikan. Tetapi yang menggangguku adalah banyaknya prajurit berpakaian hijau
berkumpul di depan gerbang sekolah, Kenapa ada begitu banyak Prajurit Rania di
sekolah?
“Para Pangeran dan Putri sekalian,” Tuan Graddy memulai,
suaranya mirip orang terkena flu. “Ada
sebuah berita duka yang harus kusampaikan kepada kalian,
Dengan sangat
menyesal aku harus menyampaikan pengumuman ini, anak-anaku.. Raja dan Ratu kita..” kata-katanya
terputus, air mata mulai memenuhi wajahnya, aku mulai bertanya-tanya apa yang
membuat seseorang se-angkuh Tuan
Graddy menangis?
Dia memandangku sebelum melanjutkan, tidak.. tepatnya Dia sedang menatap sedih padaku, Jantungku berdegup
dengan kencang.
“Anak-anak ku raja dan ratu
kita..” dia kembali berhenti dan
menangis yang lebih keras, aku tahu Raja dan Ratu mana
yang dia maksud karena matanya
masih tertuju padaku, “Kita telah kehilangan mereka. Raja Adon dan Ratu
Feronia beserta seluruh iring-irang kerajaan di
serang saat perjalanan menuju Pesta Perayaan Panen,”
Keributan-keributan mulai terjadi di sekelilingku.
Tapi Aku tak bergeming.
Andaikan ada seseorang yang melempar granat tepat di depan matamu, dan
dia menyangkal melakukannya, Apa kau masih punya sedikit saja perasaan untuk
percaya? Kira-kira itulah yang kurasakan saat ini. Baru
beberapa jam yang lalu, Aku berdebat dengan Ayah
dan Ibu soal penolakanku untuk ikut dalam Pesta Perayaan Panen yang membosankan. Mengacuhkan kekecewaan mereka atas sikapku yang tak dewasa, Aku memilih untuk pergi
ke sekolah Kerajaan. Kini beberapa jam setelahnya
Si Angkuh Graddy bicara kalau mereka semua tewas?
Serangan, eh? Serangan macam apa yang bisa membunuh orangtuaku? Serangan
macam apa yang bisa mengalahkan Para Prajurit Rania yang tangguh? Ini tidak
masuk akal!
Aku tak bisa lagi
mendengar kelanjutan berita dari
Tuan Graddy karena keributan yang terjadi di sekelilingku.
Semua orang menatapku sekarang, dan aku berulang kali meyakinkan
hatiku ini tidak benar, tapi pada kenyataannya tubuhku memberontak, indraku seperti mati rasa. Para pengawal kerajaan berlarian ke arahku. Aku menatap mereka satu persatu
mencari kepastian tapi yang kudapati hanya
wajah-wajah berduka. Aku berusaha membuat
kakiku tetap bisa menopang tubuh, tetapi aku tetap jatuh juga pada akhirnya, dan setelahnya
aku tak dapat mengingat apapun lagi.
---
Aku baru sadarkan diri ketika
tubuhku terdorong ke depan dan ke belakang, bergoyang-goyang di atas
kereta kuda. Dua pengawal duduk di samping kiri dan kananku. Berulang kali kaki kuda yang kami tumpangi
tergelincir dan berjalan tersaru-saruk seolah gugup, aku
tetap terkulai lemas walau begitu.
Gerbang Istana hanya tinggal berjarak beberapa
meter ketika aku melihat melalui
pintu jendela, kami telah sampai di jembatan di atas sungai yang membatasi
istana megah Rania dan rumah-rumah penduduk. Orang-orang berkerumun di sepanjang
jalan di luar rumah mereka sambil berbisik sedih, itulah yang membuat perjalanan kami
terhambat. Bahkan Frank, Kusir keretaku harus terus berteriak mengusir orang-orang yang menghalangi jalan kami.
Tak sabar, Aku mendorong pintu kereta
dan melompati pengawal di kiriku. Ia tampak kaget atas gerakanku yang tiba-tiba hingga tak sempat
bergerak untuk menangkapku. Aku terjatuh dengan memar di lutut saat para pengawal berteriak
memanggilku. Tak mendengarkan
panggilan mereka, Aku berlari menuju istana, menabraki
orang-orang yang berkerumun di depan gerbang.
“Menyingkir dari sana!” Aku berteriak pada mereka.
Mereka tampak kaget dan ketakutan, tetapi
segera menyingkir. Aku segera maju menerobos masuk ke halaman istana
dan berbelok ke sayap kiri istana.
Sebagai seorang putri kerajaan, tentu aku sudah sangat
mengenal tradisi kerajaan, setiap kali keluarga kerajaan meninggal, mereka akan
dibaringkan terlebih dahulu di kastil istana untuk menjalani proses pembersihan
dan doa-doa,
sebelum dimakamkan di pemakaman kerajaan di Georgiria.
Aku memotong jalan melewati kebun istana, tersaruk-saruk melewati semak
mawar hingga kakiku lecet dipenuhi duri-duri. Sampai pada akhirnya tiba di
bangunan agung bermarmer putih dengan puncak yang tinggi hampir menyamai
menara. Saat itu Kastil telah dipenuhi ratusan orang, Aku beroikir tempat itu
tak mungkin sanggup menampung lebih banyak orang lagi.
Aku memaksakan diri untuk masuk berdesakkan, sebuah tirai hitam telah dipasang
menutupi bagian depan kastil, tak ada yang berani masuk ke dalam sana, tetapi
aku bisa mendengar suara Bibi Marry di balik sana. Jadi aku memberanikan diri
menyibakkan tirai dan merasakan otot-ototku menegang.
Ya, Aku melihat mereka semua pada akhirnya,
wajah-wajah yang terbaring tenang tetapi dalam kondisi mengenaskan, penuh luka tak manusiawi. Aku mencengkeram dadaku
seperti merasakan ketiadaan udara mengisi paru-paruku.
Suasana emosional terasa begitu dalam di tempat ini. Orang-orang menangis, berteriak, bahkan mengeluarkan kata-kata makian dan sumpah serapah atas apa yang terjadi.
Hatiku serasa
ditusuk-tusuk ketika berjalan dengan terhuyung menuju jasad kedua orangtuaku, tak bisa mengalihkan pandangan dari wajah damai mereka
yang dipenuhi sayatan-sayatan luka
memerah. Luka-luka itu membekas di wajah ibuku yang cantik. Meskipun sepertinya telah dibersihkan, bekas sayatan pedang
atau apapun benda tajam yang telah
melukainya, membekas di pipinya yang terbiasa merona merah
seperti punyaku.
aku menyentuhnya..
Tak kuasa menahan lebih lama lagi, aku menangis,
berteriak dan menjerit mengatasi
rasa tergoncangku. Aku menggoyang-goyangkan tubuh Ibu, memanggil namanya, membelai wajahnya berharap
ini semua hanya semacam mimpi
buruk, tetapi dia tak memberiku reaksi apapun.
Aku meringis ketakutan ketika berpaling pada
ayahku, dia berbaring di samping ibu.
Kondisinya lebih
mengenaskan, Kepalanya
menggantung lemah pada tubuhnya, lehernya dapat dikatakan hampir... putus.
Ingin rasanya tak memercayai ini semua, dia adalah ayahku.. ayahku
pemimpin perang yang tangguh, ayahku yang baik hati. Siapa
atau lebih tepatnya makhluk seperti apa yang mampu melakukan kejahatan sekeji ini?
Aku memandangi
anggota keluargaku yang lain. Bibi Cynthia-ku yang manis, tadi pagi dia masih sempat membantu
menyisir rambutku, suaminya paman Jeffrey juga terbaring disampingnya, ada lubang mengerikan di dahinya. Kemudian sepupuku Malcolm yang 2 tahun lebih muda dariku, ia bahkan masih memakai topi kodok
kesukaannya di atas kepala. Dan, keluargaku yang lain, semuanya... Oh teganya, mereka semua
pergi.
“Bawa Putri Nathania pergi, Marry. Sudah cukup dia menyaksikan ini,
terlalu mengerikan.” Tuan Madison berkata
dibelakangku.
Aku menggeleng
keras dan meraung marah padanya, memukuli Bibi Marry saat dia mendekatiku, tetapi tidak lama pengawal
kerajaan membantunya membawaku secara paksa menjauh dari jasad-jasad keluargaku.
“Beraninya kalian!” teriakku sakit hati. “Mereka keluargaku, kalian semua tak berhak
melakukan ini padaku!”
Bibi Marry berjalan
dibelakangku sambil menangis
tersedu-sedu ketika aku digiring paksa para pengawal menuju
kamarku di menara istana, sama
sekali tak menjawab cacian marah yang kulemparkan padanya.
Aku masih terus melawan saat mereka mendudukkanku di ranjang kamar, Bibi Marry duduk disampingku, masih terus menangis..
“Tenanglah sayang,” ucapnya dengan
terbata-bata, aku tak berusaha mendengarkannya sama sekali.
“Tenang tuan putri,
semuanya akan baik-baik saja.”
Dia membelai tanganku lembut, Baik-baik saja? ingin
rasanya aku menyuruhnya tutup mulut,
tetapi alih-alih menyuruhnya diam, aku membaringkan
tubuhku dan berkata lirih..
“Tolong tinggalkan aku, Bibi. Aku ingin sendirian,”
---
Waktu terasa
berjalan begitu lambat, aku masih berada di dalam kamarku, memandangi seluruh
isi ruangan seakan tak ada sesuatu
yang terjadi. Di luar hujan begitu deras, langit telah gelap seakan malam datang lebih
awal hari ini. Aku menganggapnya sebagai ucapan berbela
sungkawa dari sang pemilik hujan.
Aku dapat
mendengar langkah-langkah kaki bercipratan di atas tanah yang becek,
Orang-orang mungkin telah kembali dari pemakaman. Di luar sana, seluruh negeri menyaksikan pemakaman keluarga Kerajaan Rania meski hujan
mengguyur seluruh wilayah di negeri ini. Sementara di sini, satu-satunya keluarga
kerajaan yang masih tersisa memilih tinggal dalam kamar.
Seharusnya aku
mengikuti saran Bibi Marry untuk ikut ke pemakaman, meskipun Aku yakin akan merasa muak membayangkan semua orang akan
meratapiku dan mengeluhkan betapa malangnya hidupku. Aku hanya ingin berada
disamping Ibu..
Ayah.. semua
keluargaku di saat-saat terakhir mereka tanpa disaksikan ribuan mata yang memperhatikan.
Kupikir Aku mendapat jawaban pada akhirnya,
Aku menyelinap
keluar dari kamar, membulatkan tekad untuk hal berbahaya yang akan kulakukan. Untuk sesaat Aku mengira ini akan berjalan
baik-baik saja, tapi benar-benar terkejut saat seorang pria muda berdiri
didepanku. Dia memakai pakaian ala Prajurit Rania, tapi aku menyangsikan,
dia tak mungkin lebih dari pemuda biasa yang dibayar untuk
menungguiku, mencegah aku melakukan sesuatu yang gila, seperti bunuh diri
misalnya. Sudah kubilang seisi negeri pasti berusaha untuk berada di pemakaman.
Rania mungkin kehabisan Prajurit.
Semua pastilah bersedia membayar berapapun untuk bisa
berada di Georgiria saat ini.
Dia tampak sama
terkejutnya melihatku keluar dari kamar, sebenarnya
akan lebih baik andai saja aku segera mengabaikannya sementara dia mengatasi
keterkejutannya itu.
“Tuan putri,” Dia memanggilku ketika aku
berjalan melewatinya. Suaranya tenang dan hati-hati, tampak lebih tua dari wajahnya. Aku perlu bersusah payah untuk tak menghiraukannya, dan Dia menahanku.
“Kau tidak boleh pergi
kemana-mana,” ucapnya, ada nada memerintah dalam setiap kata-katanya.
“Jangan berani memerintahku!”
“Baiklah, tidak akan. Tapi
Tuan Arthur Madison
sudah menugasiku untuk menjagamu selama anggota kerajaan pergi. Kau-Harus-Tetap-Berada-Di dalam.”
Aku mendengus, lebih karena penekanan kata-katanya kurasa. “Sampaikan rasa terimakasihku
padanya, tapi bahkan dia juga tidak
berhak mengatur Aku. Jadi tolong menyingkir
karena Aku tidak mau bersikap kasar padamu.”
Emosiku memuncak ketika dia tidak menghiraukan ucapanku sama sekali. Dia
tetap berdiri mematung dengan bodoh di depanku. Oh, Ya ampun, dalam keadaan emosi yang tidak stabil seperti ini,
ingin rasanya
membenci semua manusia yang ada di muka bumi ini.
Tubuhnya yang tinggi menunduk memandangku kemudian,
“Aku mengerti ini saat-saat yang
berat untukmu, Tuan Putri ̶ ”
“Oh diamlah!!” aku mencibir. “Mengerti? Memangnya kau siapa? Kau
sama sekali tidak mengerti seperti apa perasaanku, dan bahkan aku juga meragukan ada orang lain yang
mengerti. Mereka.. ayahku, ibuku, semua anggota keluargaku. Aku bukan cuma ditinggal oleh orang yang aku cintai,
tetapi semua orang yang aku
cintai.”
Bodohnya aku! Seperti idiot menjelaskan dengan marah kepada patung ini,
dan parahnya dia sama sekali tak berusaha menghentikan ocehanku.
“Kau dan yang lainnya menyuruhku tetap tenang
seolah-olah tidak pernah terjadi apapun. Aku masih
17 tahun, bahkan baru merayakannya. Sekarang aku harus menjalani hidupku sendiri, Lelucon macam apa sih ini?”
Aku tahu aku kembali meracau, dan parahnya lagi aku melampiaskannya
kepada orang yang sama sekali tak kukenal. Aku tak peduli, hatiku benar-benar
sakit. “Aku akan pergi ke
pemakaman itu, dan jangan coba-coba menghentikanku!” Aku memperingatkan, membelalakkan kedua mataku padanya. Berjalan melewatinya sekali
lagi, dan kali ini dia tak lagi berusaha menahanku, tapi aku masih bisa mendengarnya bicara di
belakangku.
“Tidak, Tuan Putri. Aku tidak akan menghalangimu pergi. Hanya ingin memperingatkan kalau para prajurit dan pengawal
kerajaan sedang berpatroli di seluruh sudut istana, mereka tidak akan
membiarkanmu pergi…”
Aku mengacuhkannya dan tetap berjalan pergi, dia tetap melanjutkan..
“Tapi kalau kau benar-benar
ingin pergi tanpa dilihat mereka, mungkin aku bisa membantu. Dan bisa
kupastikan kau berjalan ke arah yang salah.”