0
RANIA : Princess Nathania and The Forest Troops Chapter 5
Posted by Nikki murniati
on
22.21
more info about RANIA, you can follow @RaniaNovels @nikkimurniati_ on twitter
*
5 *
Aku terbangun esok
paginya dengan mata merah dan bengkak. Aku masih menangis ketika mandi, ketika
berpakaian, dan ketika menyisir rambutku. Semua aktivitas sekecil apapun
mengingatkanku pada orang-orang yang telah meninggalkanku, dan betapa sulitnya
hidup ini tanpa mereka, ada semacam lubang menganga di hatiku tiap kali
memikirkannya.
Butuh kira-kira
setengah jam untuk Bibi Marry menyamarkan wajahku yang kacau, dan ketika turun untuk sarapan, aku menangis lagi saat melihat kursi kebesaran Ayah dan
Ibuku masih
kosong.
Semua orang
mendekatiku dengan macam-macam kata-kata penghiburan, tapi sayangnya perasaanku
justru memburuk tiap mendengarnya.
“Oh sayang, tolong
berhenti menangis,” hibur Bibi Marry, setelah mengusir dengan sopan orang-orang
yang mengerumuniku.
“Bagaimana? Aku tidak
bisa. Aku benar-benar sedih, Bibi.”
Paman Gareth muncul
dibelakangku, Aku mengabaikan mereka
yang saling pandang khawatir.
Aku tidak memiliki
banyak waktu untuk memikirkan rasa terguncangku, karena siangnya Aku disibukkan oleh pelantikan Tuan Madison untuk
menjadi raja pengganti Rania. Sebenarnya Aku akan merasa lebih senang jika dibiarkan
sendiri di Menaraku, tetapi mengingat apa yang dikatakan Tuan Madison tentang
harapan Rakyat Rania padaku, Aku harus terlihat mendukung Tuan Madison sepenuh hati.
Rasa sakit
menjalari tubuhku saat menyaksikan Tuan Madison dimahkotai oleh Mahkota dan jubah
Kebesaran Ayahku, sebagian diriku tak merelakannya dan masih membayangkan sosok
Ayahku-lah yang berdiri dan melambaikan tangan pada Rakyat Rania. Meskipun begitu, Aku bersyukur Rania
memiliki seseorang seperti Tuan Madison yang dapat diandalkan dalam situasi
seperti ini. Setidaknya Tuan Madison akan lebih baik, jika dibandingkan aku.
Dan aku yakin Ayahku akan menyetujuinya dengan sepenuh hati atas keputusan ini.
Karena itulah aku berbesar hati, dan ikut bertepuk tangan bersama yang lain
ketika Tuan Masidon resmi menduduki jabatannya.
Banyak Rakyat Rania
hadir berdesakan di luar pagar untuk dapat menyaksikan pelantikan. Hal yang menggangguku
adalah bahwa kehadiran mereka bukanlah ingin melihat keseluruhan
jalannya pelantikan melainkan untuk melihat keadaan diriku saat ini. Mereka semua terus
menengok ke arahku, mengamati sambil berbisik satu sama lain.
Aku menyadari bukan satu-satunya yang merasakan
duka mendalam atas kematian Ayah dan ibuku, mereka merasakan kesedihan yang
sama atas kehilangan Raja dan Ratu yang sangat mereka dicintai, dan kini mereka
mengkhawatirkan keadaanku.
Harapan akan nasib
Rania yang berada ditanganku, membuat dadaku semakin sesak.
Pidato Tuan Madison sampai pada bagian betapa pentingnya menjaga
persatuan dalam situasi seperti ini
dan tentang prioritas Kerajaan untuk melindungiku. Seperti
saat berbicara kepadaku, Tuan
Madison tak berusaha menutupi fakta apapun yang diketahui
pihak kerajaan meskipun melihat ekspresi terkejut dan ketakutan di wajah mereka yang hadir disana.
Banyak tindakan
yang dilakukannya setelah menjadi Raja untuk mempersiapkan Kerajaan Rania. Ia
mengadakan seleksi di desa-desa dan Sekolah-sekolah pengawal di seluruh penjuru
Negeri untuk mendapatkan lebih banyak prajurit dan pengawal tangguh kerajaaan,
mereka semua dibawa ke Pelatihan “Pasukan Kerajaan Rania” untuk mendapatkan
latihan yang keras.
Ia juga melakukan perubahan terhadap Istana
Kerajaan dengan merenovasi banyak bangunan di istana dan membangun Istana yang kuat demi Kesiapan
Perang. Kuakui langkah yang dilakukannya ini sepenuhnya benar. Istana memang
harus dibuat setangguh dan sekuat mungkin, Aku hanya tak suka karena dia berusaha merubah
istana indah yang dibangun Raja-Ratu Rania sebelumnya menjadi Istana yang
menurutku sedikit menakutkan. Selain istana, dia juga banyak mendirikan benteng-benteng
pertahanan yang kuat. Perekonomian Rania yang kuat memang membuat kerajaan
tidak begitu kesulitan untuk mewujudkan sebuah kerajaan yang disiapkan untuk
perang.
Pabrik-pabrik
senjata semakin banyak dibangun di
desa-desa. Hal yang membuatku gembira adalah melihat kenyataan bahwa Rakyat Rania begitu
mendukung usaha keras Kerajaan, para Orangtua mendaftarkan anak-anak mereka
ikut seleksi menjadi prajurit kerajaan. Saat panen tiba, mereka dengan
kesadaran penuh membayar pajak. Mereka menyadari dalam situasi seperti ini,
Kerajaan membutuhkan lebih banyak dana untuk biaya perang. Melihat Rakyat Rania
bahu-bahu membahu dalam upayanya untuk mempertahankan Negeri kami, memunculkan
sebuah harapan baru dalam benakku, Aku yakin Ayahku akan bahagia melihat kesetiaan
rakyatnya yang begitu besar.
Sang raja
mempertemukan Aku dengan Pengawal baruku. Aku telah mencurigai sebelumnya, Aku seperti mengenal namanya saat Tuan Madison
menyebutkan padaku pertama kali, dan benar saja pengawal pribadiku adalah si penunggang kuda yang membawaku ke Georgiria.
Dia tak mengungkit
soal keberangkatan kami ke Georgiria, begitu juga Bibi Marry, jadi Aku tak perlu menjelaskan apapun kepada Tuan Madison. Aku memalingkan
wajah untuk menahan tawa Saat Dia membungkukkan badan padaku tanda perkenalan,
kepura-puraan yang menggelikan.
Hal yang kudengar
tentangnya dari
Tuan Madison adalah bahwa Dia berasal dari sebuah desa kecil di bagian utara Kerajaan Cordelia. Cordelia sendiri saat
ini menjadi kerajaan taklukan Rania. Dia telah masuk sekolah Prajurit sejak
usianya 12 tahun dan menjadi salah satu Prajurit Teladan tahun ini, semacam penghargaan
yang diberikan Ayahku untuk prajurit-prajurit terbaik yang dimiliki kerajaan.
Ini berarti bukan pertemuan kami, aku hanya tak mengingatknya.
Baiklah, kuaikui postur tubuhnya memang cukup meyakinkan, tegap dan begitu tangguh
dengan kulit kecoklatan dan bekas-bekas luka di tubuh, membuatnya terlihat
telah menjalani kehidupan yang begitu keras. Dia memiliki mata biru yang tajam
dan rambut tembaga yang menurutku cukup mempesona. Mungkin itulah yang membuatnya begitu
cepat terkenal dikalangan kerajaan, terutama ya.. wanita. Tetapi saja, apakah Tuan
Madison yakin memperkerjakan seorang semuda ini untuk menjagaku?
Aku memperhatikan meskipun hanya sebagai seorang pengawal
biasa, Dia
mendapat tempat istimewa di mata Sang Raja, karena Dia selalu duduk di meja
yang sama bersama kami saat makan.
Satu hal yang
membuatku tak menyukainya adalah kenyataan bahwa Dia adalah pengawal pribadiku.
Tuan Madison
sungguh-sungguh atas ucapannya untuk memprioritaskan penjagaan terhadapku. Dia
menjaga ketat menaraku, menempatkan pengawal di seluruh penjuru Istana. Aku di
awasi dengan ketat dan diikuti oleh pengawal kemanapun aku pergi. Belum lagi
larangan-larangan untuk mengunjungi tempat-tempat di luar lingkungan istana
yang diberlakukan untukku, bahkan Aku sudah dilarang pergi bersama gadis-gadis kerajaan ke sungai, atau ke
lapangan penuh ilalang di dekat istana.
Lance Haynsowrth
selalu mengekorku kemanapun aku
pergi, meskipun hanya untuk turun ke dapur dan mengambil makanan untuk kelinci-kelinci
peliharaanku. Itu benar-benar menjengkelkan.
Bibi Marry tak lebih
baik, saat berada di kamar, Dia tak meninggalkanku walau sebentar saja. Dia hanya pergi saat Aku tidur, dan telah
berada di kamarku saat Aku membuka mata esoknya. Semua perlakuan yang kudapatkan hanya membuatku merasa
lebih merana dan kesepian.
Puncaknya adalah di
suatu malam, saat sedang makan malam di hari ke-7 setelah masa berkabung.
Ketika itu aku sedang membahas tentang kegiatan sekolahku bersama Paman Gareth,
Sekolah diliburkan selama 7
hari atas kematian keluarga
kerajaan, Aku mengatakan betapa Aku merindukan sekolah,
Jassie dan Cala sahabatku, Ibu Puff Guru favoritku, ketika tiba-tiba saja Tuan Madison menyelaku, “Kurasa kau tidak akan kembali ke Sekolah Kerajaan Tuan Putri, esok dan seterusnya.”
Aku memandangnya
tak percaya, seolah dia sedang menceritakan kenyataan bahwa dia selalu memakai
underwear berwarna merah muda.
“Apa maksud anda, Yang Mulia?” tanyaku, Aku sengaja merubah
panggilanku untuknya. Ia jelas tak senang dengan sikap kanak-kanakku ini, tapi Aku menjadikannya semacam
hiburan. Membuat sang Raja
mengerutkan alis saat Aku memanggilnya begitu membuat Aku tertawa dalam hati.
Tapi kali ini dia tak berusaha mengingatkanku memanggilnya seperti biasa, dia begitu
serius.
“Kau tahu saat ini kau
sedang berada dalam perlindungan penuh kerajaan. Kau dilarang berada jauh dari
lingkungan kerajaan. Hal itu membuatmu tidak mungkin lagi berada di sana.”
Aku mendengus padanya, “Perlindungan penuh, eh? Aku malah
lebih pantas disebut tahanan kerajaan dibanding sedang
dilindungi” kataku panas.
Itulah aku, gadis
penuh emosi. Aku tak tahu darimana sifat itu muncul melihat kedua orangtuaku
adalah orang paling sabar yang pernah kutemui.
“Baiklah.. jelaskan padaku,
Yang Mulia Raja Arthur Albert Madison, bagaimana caraku bisa menjadi Ratu Rania
suatu hari jika aku tidak memiliki pemahaman apapun untuk menjadi Ratu?”
tanyaku gusar.
“Kau bisa mendapatkan itu
di istana, kami bisa memanggilkan para guru untukmu.”
“Apa yang bisa kulakukan di
sini? Aku bahkan tidak akan memiliki teman,” protesku.
Aku merasakan
sebuah pandangan tertuju ke arahku.
“Jangan Konyol, Nat! Tentu
saja kau memiliki teman di
istana,”
“Aku tidak harus menuruti
kata-kata anda, yang Mulia.”
“Sayangnya kau harus, Nak”
tegasnya.
“Karena kau Raja sekarang? dan jika Aku tidak salah, kau hanya
sedang menjadi Raja Pengganti.” Aku
menimpali dengan kejam.
“Kendalikan dirimu Tuan
Putri, kau tidak boleh berkata seperti itu kepada sang Raja” kata Paman Gareth,
kaget dengan tindakan kurang ajarku. Tuan Madison memandangku dingin, jika
selama ini Dia
berusaha memahami sikapku sebagai bagian dari rasa kehilangan, Aku yakin setelah ini dia
tak akan berusaha kembali bersikap baik padaku.
“Ya, Aku memang hanya raja
Pengganti, tetapi bukan berarti
karena kau adalah putri kerajaan kau bisa menentangku. Mungkin saat ini kau
masih sulit menerima kenyataan Ayahmu telah tiada dan Aku kini menggantikan
posisinya. Tapi sebagai calon pangganti mereka, harusnya kau bisa bersikap
lebih baik. Jika kau bisa melihat sisi positif dari usaha keras yang kami
lakukan, Aku
yakin kau akan memikirkan kembali apa yang akan kau katakan,” ucapnya keras.
Aku memandangnya penuh kemarahan, dia telah mengungkit
perasaanku yang sama sekali tak dimengertinya. “Aku sangat menghargai usaha
kerasmu, Yang Mulia. Tapi Aku juga menyayangkannya sebagai tindakan membuang-buang waktu melihat siapa musuh yang
akan kau hadapi, seberapapun kerasnya kau berusaha dia tetap akan bisa
menghancurkan kerajaan ini, bahkan tanpa harus mengeluarkan keringat.”
Setelah mengatakannya, Aku pergi..
---
Suasana hatiku
semakin memburuk hari-hari berikutnya, semua yang telah kukatakan kepada Tuan
Madison terus terngiang-ngiang dikepalaku. Terlepas dari caraku yang buruk dalam menyampaikan, Aku harus mengakui
bahwa memang
itulah yang selama ini kupikirkan.
Raja Tyrone memang
tak memiliki prajurit sebanyak prajurit yang dimiliki Rania, tapi jika
pasukannya terdiri dari makhluk-makhluk sihir, memenangkan peperangan bukanlah hal yang sulit bagi mereka. Hal itu dapat dilihat dari pembantaian besar-besaran yang terjadi
pada orangtuaku. Mereka bisa melakukannya dengan mudah dan menghilang begitu saja dengan cepat.
Meskipun begitu Aku menyadari bahwa tak sepantasnya Aku mengatakan hal itu di depan sang Raja. Saat ini dia dan seluruh
rakyat Rania sedang berjuang untuk mempertahankan Negeri kami. Jadi terlepas dari perlakuan
yang kuterima di istana saat ini, Dia sepenuhnya benar. Aku seharusnya bisa menjaga sikapku.
Tetapi setelah
kejadian itu, Aku seakan tak memiliki kesempatan untuk memperbaiki kelakuanku. Kabar tentang
pertengkaranku dengan Tuan Madison menyebar begitu cepat dan dari sudut pandang siapapun Aku tetaplah
pihak yang bersalah, dan harus kuakui hal itu membuatku kehilangan seluruh rasa
percaya diriku untuk bertemu siapapun di Istana.
Semenjak itu Aku mengurung diriku di Menara setiap hari. Bibi Marry
membawakan makananku secara rutin 3 kali sehari, Dia menjadi satu-satunya orang yang kutemui tiap
hari. Meskipun kadang dari dalam kamarku Aku mendengar suara Lance Haynsworth, si pengawal
pribadiku sedang berbicara dengan pengawal yang lain. Dia masih terus
mengawasiku meskipun tahu Aku tidak akan pernah keluar kamar. Mungkin itulah satu-satunya hal yang membuatku
bingung. Setelah secara
terang-terangan mendapat perlakuan buruk dariku Tuan Madison tak merubah pengawalan
terhadapku sedikitpun. Hanya bedanya kali ini dia berusaha mengabaikanku. Dia
juga tak berkomentar apapun tentang keputusanku untuk mengurung diri.
Bibi Marry adalah orang yang paling
terganggu atas ini, Dia selalu berusaha berada disisiku setiap saat, membujukku agar sekali saja keluar dari kamar
dan turun ke Aula, dan tentu saja Aku menolak. Tapi untuk
menghargai usahanya Aku selalu berusaha bersikap ceria didepannya. Well, kurasa Dia tidak akan tahu Aku menangis setiap malam
dibalik bantalku. Dan yang kutahu, Dia juga melakukan hal yang sama. Jika sedang sendirian, Dia sering menangis
seorang diri. Aku tahu dia menangisiku karena saat Aku memergokinya, Dia kadang menangis sambil
menyebut namaku.
Oh Bibi Marry! Kurasa di dunia ini tak akan ada
lagi orang sebaik dan setulus dia.
Hari ini, tepat 30
hari setelah kematian orangtuaku dan Aku sedang berdiri di depan jendela kamarku
menyaksikan orang-orang istana berlalu lalang dari atas menaraku. Bibi Marry sedang
tidak berada dikamarku, jadi Aku tidak perlu berpura-pura menyembunyikan kesedihanku. Entah kesibukan
macam apa yang membuatnya juga melupakan sarapan dan makan siangku, karena
hingga tengah hari dia belum muncul juga.
Aku menatap iri para gadis dan anak-anak
yang berlarian bermain di halaman istana, perutku sedikit mual karena belum
terisi makanan sejak pagi. Saat mengintip dari lubang kecil di pintu kamarku, hanya ada dua
orang pengawal berjaga sambil menahan kantuknya. Lance Haynsworth tidak berada disana.
Aku memutuskan
keluar menghampiri dua petugas itu, mereka terkejut ketika melihatku dan segera
memperbaiki posisi untuk menyembunyikan kantuknya.
“Anda memerlukan sesuatu,
Tuan Putri?” tanya salah satunya.
Aku menggeleng
cepat. “Tidak,
Aku sedang mencari
Bibi Marry, apa diantara kalian ada yang melihatnya?”
“Kurasa Dia sedang bersama Sang
Raja, saya melihat mereka di Aula
saat sarapan tadi pagi.”
“Kalau begitu Aku akan menemui mereka,” kataku berbohong. Jika
memang mereka
benar-benar sibuk sebenarnya Aku tidak peduli. Tapi Aku penasaran,
apa sih yang mereka lakukan sampai melupakan makananku begini? Tapi jelas ini akan menjadi kesempatanku untuk bebas dari pengawalan.
“Saya akan mengantar anda
menemui mereka,Tuan Putri” salah satu pengawal itu menawarkan diri.
“Kurasa tidak perlu, menara
ini harus dijaga lebih dari satu orang. Lagi pula aku hanya akan turun menuju
Aula Utama, tidak akan ada yang mencegatku disana.” Aku
berusaha meyakinkan.
Mereka saling pandang, menimbang-nimbang ucapanku, Aku berusaha memberi mereka
ekspresi datarku.
“Baiklah Tuan putri, segera
beritahu kami jika anda membutuhkan sesuatu.”
Oh, Demi Hutan Terlarang! Aku belum pernah se-beruntung ini dibiarkan
bebas.
Aku yakin mereka
sedang melakukan kesalahan besar membiarkanku pergi tanpa pengawasan, Tuan Madison akan murka jika mengetahui hal ini. Jadi untuk menebus rasa bersalahku, Aku
memberi mereka senyumku yang langsung membuat mereka saling pandang gugup.
“Dimana Lance Haynsworth?” Tanyaku sebelum pergi.
“Lance berlatih
bersama para prajurit baru di Barat Halaman Istana, Tuan Putri. Dia akan
kembali tak lama lagi.”
“Baiklah terimakasih.” kataku riang.
Satu lagi keberuntungan! Tidak ada si penguntit Haynsworth.
Aku turun dan
berjalan di lorong istana, yang akan kulakukan adalah menyelinap ke dapur
kerajaan dan mengambil makanan untukku, setelah itu mungkin aku bisa menghabiskan waktu
di taman istana bersama kelinci-kelinci peliharaanku dengan bebas untuk pertama kalinya.
Ketika hendak
berbelok ke lorong berikutnya, Aku menghentikan langkahku dan bersembunyi di balik tembok secara naluriah. Aku
mendengar suara-suara dan jelas mengenal suaranya. Tuan Madison sedang berdebat dengan beberapa orang,
ada suara perempuan dan juga laki-laki. Aku mendengarkan dengan baik perdebatan
mereka.
“Kita tidak bisa membiarkan
ini, Arthur. Aku harus melayaninya, Aku telah berjani kepada Ratu Feronia untuk melayani putri Nathania sepanjang
hidupku,”
isak si perempuan. Bodoh sekali!
Tentu saja ini Bibi Marry.
“Tenanglah Marry, Dia akan kelaparan
dan turun tidak lama lagu. Jangan bersikap seolah-olah
kau mendukung tindakannya yang kekanak-kanakkan,” jawab Tuan Madison.
Kupingku memanas. Aku merapatkan telingaku ke tembok berharap mendengar
percakapan mereka lebih jelas.
“Ya, kurasa Dia harus menyadari
kesalahannya.
Seisi kerajaan berusaha keras meyakinkan seluruh rakyat untuk berjuang
menghadapi peperangan ini, mereka yakin Rania akan menang seperti peperangan
biasanya. Dan saat ini Putri Nathania telah menjatuhkan mental rakyatnya sendiri
dengan kata-katanya,” kali ini aku tidak mengenal si pemilik suara. Tapi darahku mendidih mendengar kata-katanya.
Siapapun dia, kapanpun Aku bertemu dengannya, Aku tidak akan menyukainya.
“Omong kosong, James. Dia
hanya tidak mengerti apa yang Dia bicarakan. Kau harus memahaminya jiwanya teguncang saat ini,” sanggah Bibi Marry.
“Dia terlalu muda untuk
mengalami semua ini,” suara lambat Paman Gareth terdengar.
“Semua ini tidak akan mudah
dialami oleh semua orang berapapun usia mereka. Aku mengerti, Gareth. Aku hanya
ingin dia menyadari posisinya saat ini” kata Tuan Madison.
“Kerajaan terlalu
memanjakannya.”
“YA TUHAN, JAMES! BUKAN HAKMU MENGKRITIK APA
YANG SUDAH KAMI LAKUKAN!”
“Marry, kendalikan
dirimu. Jangan berteriak-teriak disini.”
“Tidak, Arthur. Dia ini–”
Oh cukup! Aku tidak mau mendengar lebih banyak. Setelahnya Aku segera berbalik menjauhi mereka, mengurungkan niat untuk mengambil makanan. Dari yang bisa kutangkap adalah sepertinya Bibi Marry sedang berusaha mengambilkanku makanan, tapi Tuan Madison
melarangnya. Oh Haruskah mereka melakukan semua perdebatan ini hanya untuk memutuskan
apakah Aku
harus di beri makan atau tidak?
Aku berjalan cepat di lorong yang kulalui sebelumnya, kemudian mengambil arah berlawanan dari arahku datang, mengabaikan orang-orang
yang menatapku heran berkeliaran
bebas memutari Istana Kerajaan. Beberapa bertanya apa yang sedang kulakuan dan Aku menjawab mereka dengan
cepat, “mencari..Lance Haynsworth”
ucapku asal.
Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang kubicarakan.
Kurasa kabar aku
berlarian seperti orang tidak waras ini juga akan tersebar dengan cepat, Baiklah.. Aku memang telah menjadi pusat
perhatian kerajaan akhir-akhir
ini. Mungkin yang dikatakan bibi Marry tentangku benar,
jiwaku terguncang dan sebentar lagi Aku
akan menjadi gila.
Aku telah sampai di
halaman istana tempat berlatih para prajurit kerajaan. Lance telah berdiri
disana seolah tahu Aku akan datang, siapapun yang tadi kutemui pasti telah memberitahu bahwa Aku sedang mencarinya. Aku sendiri juga sebenarnya tak mengerti
apa yang sedang kulakukan. Hanya satu yang ada di benakku saat ini yaitu Aku harus keluar dari istana sebentar saja,
dan dialah satu-satunya orang yang bisa membantuku.
Dia memandangiku selama aku berlarian
menyeberangi halaman istana, dan tidak berusaha mengalihkan pandangannya ketika
aku telah berada tepat di depan matanya. Dengan terengah-engah aku berbicara padanya segera tanpa berbasa-basi.
“Aku kesini mencarimu–”
“Aku tahu.” Dia memotong ucapanku, wajahku memerah seketika. “Kau
harus membawaku keluar dari istana ini.... lagi” bisikku hingga hanya kami yang
bisa mendengarnya.
Dia tak menjawab,
masih memandangiku. Aku
memalingkan wajahku darinya, Sejak kapan aku jadi pemalu begini?
“Aku tidak bisa
melakukannya, Tuan Putri.” Pada akhirnya dia
menjawab.
“Kau bisa, kau melakukannya
saat ayah dan ibuku meninggal. Kau harus membantuku!”
“Aku melakukannya kemarin
karena aku tahu kau sedang berduka, sekarang aku tidak bisa.”
“Kalau begitu anggap saja
kali ini kau harus kembali membantu seorang gadis yang sudah hampir gila.”
“Apa maksudmu?” Dia mengangkat alis heran ketika Aku menyelesaikan
kata-kataku.
“Kau sudah mendengar cukup jelas, Haynswroth.”
“Aku tidak bisa.”
“Oke, terserah kau saja. Kali ini mungkin Aku harus berusaha
melakukannya sendiri,” kataku memancing.
Dia tersenyum tenang, tampak geli mendengarku. “Kau
tidak bisa keluar dari istana ini, Tuan Putri.”
“Benarkah? Tapi kau kan
sudah mengingatkanku soal jalan rahasia itu. Kurasa tidak sulit. dan jika kau berusaha menghalangiku, Kau harusnya sadar siapa
yang mengajariku menggunakannya.”
Wajahnya mengeras, aku tertawa melihat ekspresi
wajahnya.
“Apa yang kau inginkan?” tanyanya kemudian,
“Aku ingin berada di
lapangan di seberang istana sampai matahari terbenam, dan Aku ingin kau menemani. Setelah ini Aku janji tidak akan mengungkit soal jalan rahasia itu lagi,” kataku meyakinkannya.
Dia tampak memikirkan tawaranku dan kalau di pikir-pikir sebenarnya
permintaanku sama sekali tidak berbahaya jika dibandingkan kepergian
kami ke Georgiria tempo hari.
“Baik.” Dia mengangguk setuju, “Tapi Aku juga punya satu syarat.”
“Kau tidak berhak
mengajukan syarat apapun!” protesku.
“Tentu saja berhak, Aku akan menemanimu pergi
hanya jika kau berjanji setelah pulang, terhitung malam ini dan seterusnya kau
harus kembali makan bersama kami di Aula kerajaan.” katanya.
Aku menatapnya
marah
“Kau tidak berhak mengatur
hidupku!”
“Memang tidak, tentu saja.
Aku tidak akan keberatan kau menolak tawaran ini, Aku bisa
kembali berlatih dan sebaiknya kau kembali ke menara.
Karena kalau kau berusaha melakukannya seorang diri, Aku menjamin kau takkan
berhasil, Aku akan melakukan
segala cara untuk menggagalkan rencanamu, apapun resikonya.” Dia menyeringai padaku, Aku menatapnya penuh
kemarahan. “Jadi apa kau setuju Tuan Putri?”
Sial.. Aku tidak pernah berhasil
dengannya. Aku
tak menjawab ucapannya bahkan
seringaiannya, hanya menggumamkan tanda persetujuan. Dia memandangiku lagi,
dan kemudian tersenyum dengan tulus.
Aku sedikit heran kenapa saat itu hatiku tiba-tiba
bergetar..
***