0

RANIA : Princess Nathania and The Forest Troops Chapter 8

Posted by Nikki murniati on 18.12
more info about RANIA, you can follow @RaniaNovels @nikkimurniati_ on twitter

* 8 *
Aku terbangun di suatu pagi yang dingin dan berkabut, musim dingin kelihatannya tiba lebih awal tahun ini. Dan setelah mandi berendam, Aku mengenakan gaun cokelat berenda dan jaket tebal untuk menyelimuti kulit punggungku yang terbuka. Aku keluar dari kamar dan terkejut ketika mendapati 5 pengawal berjaga tanpa Lance. Dua diantara mereka ikut turun tanpa berkata apapun ketika Aku berjalan meninggalkan mereka tanpa bicara. Mau tidak mau Aku teringat beberapa hari lalu ketika menipu dua pengawalku, mereka pasti mendapat teguran keras dari Tuan Madison dan bertekad tidak akan mengulang hal yang sama kali ini. Aku menyembunyikan cengiran diwajahku.

Tiba di Aula, Aku dibuat terheran-heran. Seingatku Aku tidak terlambat pagi itu. Tapi Aula benar-benar penuh ketika Aku datang, termasuk Tuan Madison yang sudah duduk kaku di atas kursi kebesarannya dan berbincang serius bersama orang-orang kepercayaannya. Yang paling menjengkelkan Lance juga telah berada disana. Dia tersenyum lebar ketika Aku melewatinya sambil membuang muka, Aku memilih tempat duduk di samping Paman Gareth.

“Hei, Aku tidak tahu kau sudah di Rania. Kapan kau kembali?”

Paman Gareth tersenyum berseri-seri padaku. “Selamat pagi Nathania sayang. Aku kembali semalam dari Garlindow, dan Oh ya tentu saja kau sudah tidur. Well, kau tampak cantik sekali pagi ini.”

Aku membalas senyumnya, entah kenapa tidak bisa menahan dorongan hatiku untuk tidak melirik Lance. Dia tersenyum, tapi bukan kepadaku.  Aku memberengut, dan memutuskan untuk menyibukkan diri dengan sarapanku.

Setelah sarapan Tuan Madison menyuruhku untuk tetap tinggal. Oh sial! Apa lagi salahku? Aku menatap kedalam mata birunya yang tajam berbahaya, dan memaksakan diri untuk tersenyum dan menurutinya untuk tidak meninggalkan meja makan. Disana hanya tersisa kami berdua, Lance… juga James. Double sial! Kenapa ada manusia itu juga disini? Cuping hidungku melebar,

Jangan memutar mata, jangan memutar mata, Aku mengulang kata-kata itu terus dalam hati.

Tuan Madison duduk satu kursi disampingku, wajahnya keras berusaha mengamatiku. Dia semakin terlihat tua setelah menjadi Raja. Rambutnya sudah cukup panjang dan butuh dicukur, begitu pula janggutnya yang jadi amat berantakan. Dan Ya ampun, ada lingkaran hitam di bawah kantung matanya. Aku tahu menjadi Raja tentu menjadi tugas sangat sulit terutama di situasi seperti sekarang, kurasa kali ini Aku agak sedikit bersimpati.

Aku memandang Lance mencari tahu, mungkin dia akan sedikit menjelaskan lewat ekspresinya, Dan, Demi hutan terlarang! Dia malah mengamatiku tanpa ekspresi, tidak merasa terganggu akan pandangan mencelaku.

“Tidurmu nyenyak, Nat?” Suara Tuan Madison terdengar lebih keras dari biasanya. Aku menghentikan tatapan kurang ajarku pada Lance, dan berganti menatapnya, memberinya senyum dibuat-buat yang sama sekali bukan Aku. “Ya, Yang Mulia.”

Dia mengangguk sekilas, seolah-seolah sedang menimbang-nimbang kembali apakah harus berbicara denganku atau tidak, membuatku jadi semakin gugup. Lance tersenyum bersimpati, seolah membaca pikiranku. “Anda ingin mengatakan sesuatu yang mulia?” Aku kembali beralih pada Tuan Madison, mengabaikan bola mata James yang sudah hampir copot saat memberiku pandangan menyelidik pada Lance dan Aku.

“Ya, Nat.” Sang Raja mengangguk segera. Dia tak pernah lagi memanggilku Tuan Putri setelah perdebatan kami. Oh! seperti ini penting untuk kubahas.

“Dengan senang hati, Yang Mulia.” Jawabku sambil menggigit bibir, menyamarkan senyumku yang sudah lama kutahan. Sejak kapan Aku jadi sesopan ini? Setan jiwaku pasti sedang mengikik dengan gila.

“Ini soal sekolahmu. Haynsworth mengatakan padaku soal keinginanmu kembali kesana, tentang janji-janji yang kau buat–”

Aku melotot pada Lance. Apa yang sudah dikatakannya? Janji? Apa Aku pernah membuat pernjanjian? Demi Tuhan! Aku ingin menggantungnya sekarang!

“Dan Aku cukup mempertimbangkan sarannya, itu agak, Er – masuk akal menurutku.” Dia berhenti untuk menilai ekspresiku. Aku menegang dikursiku, memberinya senyum kelewat gugup. ”Menurutnya banyak hal-hal baik yang akan kau dapatkan jika kembali kesekolah,” Dia melanjutkan.

Aku segera mengangguk spontan, “Aku juga berpendapat begitu,” memberi lirikan gugup pada Lance.

“Jadi kau benar-benar ingin kembali kesekolah?”

“Ya!” Kataku keras-keras, “Er, maaf. Maksudku Aku memang menginginkannya, Yang Mulia. Dan seperti yang Lance katakan banyak hal yang bisa kupelajari disana.” Tuan Madison terkesiap mendengarku menyebut nama Lance, Ya Ampun orang ini! Apakah Dia selalu seteliti ini? “Aku yakin tidak akan terjadi apapun padaku, tidak dengan pengawalanmu yang luar biasa itu. Bukankah Aku akan tetap dijaga ketat seperti ketika aku berada di istana?” Aku mengalihkan topik pembicaraan. Dia tidak segera menjawab dan masih mengamati, sebelum kemudian mengangguk singkat, “Ya, tentu saja.”

Aku tersenyum masam, sepertinya harus memutar bumi dulu untu mendengar jawaban tidak dari Tuan Madison.  “Aku telah menugasi pihak sekolah untuk memperbaiki sistem pengawasan mereka, kerajaan juga sudah menempatkan banyak prajurit untuk berjaga disana.”

“Bagus!” ujarku tidak bisa menghindari nada sarkasme didalamnya. Lance memberiku pandangan memperingatkan, “Maksudku, apa itu artinya Aku bisa kembali kesekolah?”

Oh Dewi malam! Cepat sembunyikan saja wajahku.

“Ya, mungkin kau bisa, Nat.”

Isi perutku bergejolak. Setan jiwaku seperti tersenyum untuk pertama kalinya. Kurasa ini adalah kabar terbaik yang pernah kudengar semenjak kepergian seluruh keluarga kerajaan, dan segera saja pikiranku mengembara kembali ke sekolah, membayangkan lagi Jassie yang cerewet, Oh! Dan mungkin juga Pangeran Javan dan perhatiannya yang berlebihan.

“Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk berterimakasih pada anda, Tu.. Yang Mulia” kataku gugup.

“Berusaha menjadi putri yang baik, belajar dan persiapkan dirimu, itu saja cukup, Nat.” Tuan Madison tersenyum kaku. Aku tidak mengira dia bisa berekspresi seperti ini.

Berhenti! Jangan jadi perusak harimu sendiri, Nathania. Isi kepalaku mendesis,

“Aku akan berusaha, Yang Mulia.” Kataku sambil membungkukkan diri.

Dia mengangguk kecil padaku dan segera meninggalkan Aula tanpa bicara sepatah katapun. Aku menyeringai dengan jelas kepada James yang sejak tadi mengikuti pembicaraan kami dalam diam. Aku tahu keputusan ini jelas tidak memuaskannya. Sebenarnya sih apa masalahnya denganku?

“Ada apa?” Lance memandangku ingin tahu. Aku terkesiap dan menggeleng cepat, “Tidak ada. Well, terimakasih atas bantuanmu, Lance Haynswroth.” Aku nyengir, tak dapat menyembunyikan rasa bahagiaku. Dia tersenyum manis. Sial! Jangan lagi!

“Itu hadiah karena telah menjadi anak baik selama beberapa minggu ini.”

Dia pasti bercanda. “Dalam artian lain, kau seperti sedang memberitahuku bahwa sebelumnya Aku tidak baik.”

“Tidak. Aku hanya senang kau kembali menjadi dirimu yang sesungguhnya. Semenjak kepergian keluargamu, kau tampak agak… kacau.” Dia berkata hati-hati, tapi Aku terlanjur berbunga-bunga. Menjadi Aku kembali? Apa maksudnya?

“Apa yang kau katakan padanya?”

Dia mengangkat bahu, “hanya seperti yang kau dengar dari Sang Raja.”

“Dia bicara soal janji. Memangnya apa janjiku?”

“Percaya saja itu tidak akan cukup sulit, Aku cuma membuatnya agak sedikit dramatis seperti biasanya,“ Aku memicingkan mata curiga. Dia menatapku dengan ekspresi tak bersalah, “Apa?”

“Kau cukup dekat dengannya?”

“Tuan Madison maksudmu?”

Tentu saja! Menurutmu dengan siapa? Aku?

“Kami memang sudah kenal cukup lama.” Lance menatapku memperhatikan. “Bagaimana bisa?” tanyaku menuntut, “Mungkin lain waktu Aku bisa memberitahumu, Tuan Putri. Atau mungkin tidak–” Dia menatapku ragu-ragu, kemudian tersenyum... lagi.

“Itu akan jadi tambahan daftar pertanyaanku, Haynswoth.”

“Ya ampun, kau punya daftar?”

“Ya.” Aku menimpali sengit, “Apa contohnya selain itu?” Dia menautkan alis menggoda, Aku mengangkat bahu. “Soal jalan rahasia,”

Sesaat Dia seperti sedang menahan tawanya, Aku tak terpengaruh. “Ayahmu yang memberitahuku.”

Apa?

“Tapi… bagaimana? Maksudku, Dia mengenalmu?”

“Ya.” Dia berkata tegas, memberi indikasi untuk mengkahiri pembicaraan ini, kami sama-sama diam. Dan jujur saja, Aku masih sulit mengatasi rasa terguncangku.

“Hari ini cuaca tidak begitu baik,” lanjutnya mengalihkan topik pembicaraan, dan Aku terpancing. “Anehnya kau tetap begini di musim dingin. Memangnya kau tidak punya pakaian lain selain ini?”

“Memangnya apa yang harus kupakai untuk latihan selain Pakaian-Ini?” Dia memberiku penekanan dalam kata-katanya sambil menyeringai, Aku memberengut, tetapi kemudian terkejut lagi. “Latihan? Kau bercanda? Di musim dingin seperti ini kan tidak ada latihan.”

“Ya, itu dulu, saat ayahmu memimpin, kondisinya berbeda saat ini. Raja Tyrone tidak akan memilih cuaca seperti apa untuk memulai perang, kami harus selalu siap dalam kondisi apapun.”

Aku tersedak. Entah karena dia mengingatkanku soal Ayahku atau karena Aku benci kata-katanya yang sok bijaksana itu, Ya Ampun… berapa sih umurnya sampai berani berkata sok pintar padaku? “Mungkin setidaknya kau bisa pakai mantel.” kataku asal saja.

Apa Aku sedang berusaha untuk terus bicara dengannya? Tidak!

“Aku tidak berhak mendapat perlakuan istimewa meskipun Aku seorang pengawal pribadi Putri Nathania.” Dia kembali menyeringai.

“Oh yang benar saja! kau mau menyombongkan diri sebagai seorang pengawal?” Aku memutar mataku padanya, Dia tidak menghentikan seringaian konyolnya, “Kenapa tidak? Tidak semua seberuntung Aku. Berdekatan dengan Tuan Putri dari Rania setiap waktu,” katanya, mengangkat sebelah alisnya mencoba menggodaku.

Triple sial! Wajahku merah padam, Aku tak menanggapinya.

“Apa yang akan kau lakukan hari ini, Tuan Putri?”

“Aku punya satu permintaan untukmu.” Aku menatap langsung kedalam matanya, berusaha mengabaikan pesona apa yang tersimpan dalam mata indah itu. Ya Ampun, meracau lagi!

“Kau terlalu banyak meminta,” Lance menggerutu, tapi Aku tahu dia tidak bersungguh-sungguh.

“Tolong panggil Aku dengan namaku,”

Ekspresinya tidak terbaca, tetapi kemudian meggeleng cepat. “Aku tidak punya hak seperti itu,”

“Hak? Ya ampun. Jadi menurutmu ayahku memberiku nama untukku hanya untuk dipanggil oleh para Raja?” Dia tak  segera menjawab, kelihatan bingung. “Aku akan pergi ke taman sekarang,” kataku ketus. “Gym harusnya sudah melahirkan pagi ini. perutnya sudah besar sekali saat terakhir kali aku melihat.”

Aku berberjalan melaluinya, tapi entah kenapa Aku punya perasaan Dia sedang tersenyum dibelakangku. Ya, mungkin! Tapi Aku yakin, Dia tidak akan tahu bahwa didepannya, Aku juga tersenyum bahagia.

---

Lance meninggalkanku sore harinya dan memanggil pengawal bernama Jack dan Ashton untuk menggantikannya. Aku tidak bisa melakukan misi “mencaritahu”-ku tanpa Lance, jadi Aku memutuskan untuk menemui Bibi Marry untuk menemaniku.

Dimana Dia sejak pagi? Kemudian Aku ingat proyek membuat resapnya bersama Miss Carter – kepala juru masak kerajaan, Dia pasti sedang di Dapur Istana sekarang. Mungkin Dia tidak akan keberatan menemaniku sebentar, Aku berpikir, sebelum kemudian memutuskan pergi ke dapur dan mencarinya.

Dapur Istana merupakan ruangan super Luas dan bersih. Tungku-tungku besar, bermacam-macam ukuran piring dan perabot masak tersusun rapi. Di sisi kiri ruangan ada banyak lemari besar tempat menyimpan makanan yang biasanya dijaga sekitar empat atau lima orang penjaga. Aroma berbagai macam masakan selalu membuat nafsu makanku naik dua kali lipat saat berada disini.

Tempat ini selalu menjadi tempat yang sibuk dan ramai, tapi alangkah terkejutnya Aku ketika melihat kali ini dapur benar-benar sepi. Satu-satunya orang yang berada didalamnya adalah perempuan tua pembersih dapur, bernama Nanny Jane. Dia sedang membersihkan penghangat makanan saat Aku datang. Setelah menyuruh kedua pengawalku untuk menunggu di depan dapur, Aku mendekatinya. Nanny Jane sendiri tampaknya tidak menyadari kehadiranku bahkan setelah Aku berada disampingnya.

Diam-diam Aku berpikir, darimana Dia bisa tahu sesorang datang dan mencuri makanan?

“Aku tahu kau disini,” ucapnya pelan tak mengalihkan pandangan dari penghangat makanan yang sedang dibersihkannya. Aku melirik ke segala arah, mencari tahu dengan siapa Dia bicara. “Tuan Putri, sedang apa disini?”

Aku terkesiap, tetapi kemudian segera mengatasi keterkejutanku saat Dia memandangku untuk pertama kalinya. Dia memakai pakaian dan celemek kebesaran untuk tubuhnya yang sangat kurus, Kulitnya yang keriput tampak mengerikan saat terkena pantulan cahaya dari obor-obor yang menempel di dinding-dinding.

“Hai Nanny Jane,” Aku tersenyum gugup. “Aku mencari Bibi Marry. Apa anda melihatnya?”

“Semua orang di dapur sedang berada di kebun istana.”

“Kenapa? Sudah sangat sore, Aku bahkan tidak tahu bahwa saat ini sudah musim panen.”

Dia menggeleng padaku, Apa artinya Dia tidak tahu atau tidak mau menjawabku?

“Aku punya puding cokelat hangat, apa kau mau duduk sebentar dan memakannya?” Dia mengalihkan perhatianku, Aku tersenyum menghargai. “Tentu.”

Kami duduk di sebuah kursi kayu tua yang menghadap kearah jendela. Dari sini kami bisa melihat halaman istana yang luar biasa besar. Matahari mulai terbenam dan suara-suara yang terdengar hanya denting-denting pedang dari para Prajurit yang sedang berlatih. Pikiranku mengembara… mereka berlatih dengan cukup keras dalam cuaca buruk begini. Dadaku terasa sesak mengingat mereka akan berperang melawan Pasukan Hutan Raja Tyrone.

“Mereka prajurit-prajurit yang tangguh,” kata Nanny Jane tiba-tiba, seolah membaca pikiranku. Dia duduk disampingku, matanya yang tajam memperhatikanku, membuatku spontan duduk menjauh. “Ya, mereka  berlatih dengan sangat keras” sahutku gugup.

“Sayangnya mereka tidak akan bisa memberi kita kemenangan. Tidak dengan Pasukan Hutan sebagai musuhnya.”

Aku terkesiap, kupikir saat ini Dia menyindirku atas insidenku dengan Tuan Madison.

“Pasukan Hutan memang sulit dihadapi,” Aku berusaha tampak tak terpengaruh. “Tapi kuharap kita bisa memenangkan Perang ini, Aku tidak mau kehilangan mereka semua.”

Dia memandangku tak percaya, selama sesaat Aku menahan dorongan untuk menatapnya menantang. Akal sehatku berusaha menenangkan jiwa penuh emosiku, Apa kau mau membentak seorang nenek? “Kurasa itu cukup sulit,” Dia berkata cukup hati-hati, menilai ekspresiku.

Oh! Dia memancingku.

“Tetapi bukan berarti tidak mungkin.” Aku tersenyum dibuat-dibuat. “Dulu Rania pernah menang atas mereka, bukan tidak mungkin kita akan bisa kembali memenangkan perang ini.”

“Kau tampak tidak bersungguh-sungguh mengatakannya, Tuan Putri. Tidak, terutama setelah kata-katamu pada Sang Raja,” Dia tersenyum tenang, menggodaku.

Wajahku memerah. Sial…sial…sial! Kalau tahu akan menghadapi nenek ini nantinya, Aku tidak akan pernah mengatakan kata-kata itu pada Tuan Madison.

“Jadi mungkin sekarang Aku hanya sendirian yang tidak percaya kemenangan Rania.” Dia melanjutkan, masih sangat tenang. Aku terlonjak, udara seperti meninju wajahku. “Aku tidak yakin mengerti maksud ucapanmu.” Bola mataku membulat lebih dari seharusnya, Tetapi Dia melanjutkan, “usiaku sekarang 92 tahun, nak.”

Seperti itu penting saja kudengar, Aku mengeluh marah dalam hati. Tetapi kemudian otakku merespon. Apa? 92 tahun? Dia pasti sudah pikun menghitung umurnya. Penampilannya tak lebih tua dari Tuan Madison.

“Aku adalah keturunan ke-7 dari Isadora Hill, seluruh keturunan Isadora mati diusia lebih dari seratus tahun, kecuali mungkin Arthur Hill suami Isadora, Dia tewas dalam perang Rania dengan Elroy itu.”
Dia tersenyum masam penuh arti. Mulutku sudah terbuka lebar, berusaha memproses dengan cepat kata-katanya. Inikah? Apakah pada akhirnya Aku akan tahu kebenaran yang terjadi ratusan tahun lalu?

“Kami memiliki ramuan awet muda. Kami memiliki sedikit darah penyihir dalam tubuh kami.” Dia melanjutkan,

“Maaf?”

“Aku adalah keturunan penyihir.”

Aku menggigit bibir menahan tawa meledakku, Dia menatapku curiga dari bulu matanya.

Tidak! Aku harus berhenti membuatnya tersinggung. Kesempatan mendapat infomasi soal perang itu mungkin tidak akan terjadi lagi. Tapi apakah kata-katanya cukup bisa dipercaya? Aku meragukan.

“Penyihir? Seperti Raja Tyrone maksud anda?” Aku tidak bisa menghindari nada mencemoohku, mata Nanny Jane melebar.

“Ya dan tidak,” ujarnya singkat, Aku mengerutkan kening. “Kami memiliki kemampuan melebihi manusia biasa, Ya. Tapi tidak persis seperti Elroy atau Basil. Tidak semua sihir bersifat jahat, Nak.” Dia menambahkan sedikit mendesis. Aku mendadak paham, ekspresiku menjelaskan lebih jauh soal ketidaksukaanku terhadap apapun yang berbau sihir. Itu cukup membuatku muak… sihir, eh? Keluargaku mungkin masih bersamaku tanpa adanya hal semacam ini.

“Aku tahu kau masih sulit memahaminya,” Dia mengangguk paham atas kecamuk batinku, Aku segera menggeleng mengingat peluangku. “Apakah anda akan menceritakannya padaku? Tentang perang maksudku–” Aku memberinya pandangan penuh harap, sebelum kemudian Dia mengangguk dan tersenyum penuh ironi dan memulai ceritanya, “Aku memuji keberanian Rania yang begitu besar saat perang itu.”

Aku mencondongkan tubuhku padanya, mendengar dengan seksama sekaligus khawatir, apapun yang keluar dari mulutnya terasa aneh dan bernada persuasif dalam inderaku. “Manusia lelah atas kekejian dan kebiadaban Elroy saat berkuasa di dunia, tapi tidak ada satupun yang berani menentangnya. Kau mengerti maksudku?”

Aku mengangguk pelan, bergidik membayangkan masa-masa seperti itu. “Mereka tidak memperlakukan manusia dengan sepantasnya,” Nanny Jane mengangguk menyetujui apa yang ada di pikiranku. “Apa kau pernah dengar cerita “Pertarungan Berdarah” yang diciptakan Raja Tyrone sebelumnya?”

Aku menggeleng segera.

“Raja Tyrone membuat manusia saling bertarung sesamanya, hanya pemenanglah yang dapat bertahan hidup. Bagi mereka yang kalah dalam pertandingan, Gru telah menunggu untuk menjadikan mereka santapan. Sang Raja melakukannya setiap hari, jadi seandainya pun seseorang menenangkan pertandingan, Dia akan tetap berada dalam kesengsaraan menunggu hingga waktunya tiba untuk kalah dan mati. Itu masa-masa yang sangat berat.”

Aku merasa mual mendengarnya, bulu kudukku sepenuhnya berdiri. “Kalau seseorang menang dan tidak terkalahkan, apakah Dia bisa bertahan hidup?” Suaraku terdengar jauh di dalam kerongkongan.

“Ya.” Dia mengangguk yakin, “tapi semua orang punya batasan, Tuan Putri. Dan hidup seperti itu bukanlah hidup yang damai.”

“Tidak ada yang pernah berani menentangnya sampai sebuah negeri kecil bernama Rania mengibarkan panji-panji kebebasan, menolak atas semua penhinaan Elroy atas manusia. Rania tidak memperdulikan seberapa kuat musuh yang dihadapi, tidak peduli bahwa sang raja bisa saja melenyapkan negeri mereka dalam hitungan detik...

Mereka tetap melakukannya, menyerang Elroy maksudku. Dalam sekejap saja ribuan pasukan tewas ditangan Pasukan Hutan–” Aku menutup mata, sanggupkah Aku mendengarnya lebih jauh? “Tetapi pada akhirnya pertolongan datang untuk Rania…”

Dia berhenti untuk megukur reaksiku, tapi otakku sulit menerima ini. Rania pernah memenangkan perang atas Elroy! Semua orang pernah mengatakannya. Tapi bagaimana semua itu terjadi?

“Anakku, Rania memenangkan perang sebelumnya atas pertolongan Dewi Langit.”

***

|
0

ME AND AMAZING POSTS

Posted by Nikki murniati on 09.21

Haiahhhhh Guys!!!! *lambaikan tangan ke monitor.

Kalian harus tahu selama 30 menit ini yang aku lakukan cuma memandang bingung layar monitor. Gak tahu harus ngomong apa lagi. Berasa kayak ninggalin pacar selama sekian lama dan saat ketemu lagi ngerasa bersalah dan canggung-canggung gimana gitu. *Apasih Nik -_____-

Aku tahu gak mungkin banget bakal segera Up-date Chapter 8 Seri 1 Rania, tanpa minta maaf atau mungkin basa-basi dikit. Abaikan aja kali ya post yang ini *malu sendiri.

Ya, post kali ini lebih ke berbagi pengalaman renungan aku selama beberapa bulan pergi tanpa pertanggungjawaban aja kali ya :D

Nah, hal pertama yang aku rasakan saat memutuskan rest dari Rania adalah….. Hampa. Lebay kan? Ya gitulah. Tapi mungkin aku bersyukur juga karena setidaknya dalam hal ini untuk pertama kalinya aku bisa mencapai target (satu-satunya hal yang susah banget gue capai dalam menulis). Setidaknya gue merasa bisa istirahat dengan tenang selama beberapa bulan terakhir ini =D. targetku memang gak besar sih cuma ingin selesaian Rania seri 2 sebelum focus UN. Dan, Grateful… itu bisa tercapai.

Dan sekarang setelah melalui itu semua, justru aku merasa takut. Lebih takut dari ninggalin Rania selama beberapa bulan terakhir ini.

Kenapa? Rania seri terakhir sudah di susun, sudah di tetapkan endingnya. Dan…. Apakah gue bakal bisa menyelesaikannya sesuai harapan? Apakah gue bakal puas sama hasilnya setelah selesain semuanya? Apa bakal gagal? Apa bakal buruk? Jujur ini buruk banget di hati gue.

Ya I know, I’m not a great author. Tapi semua orang punya harapan, semua orang punya ambisinya masing-masing. Dan ini gue! seumur hidup aku berdoa suatu saat mendapat sesuatu yang bisa bikin diriku bangga menjadi seorang Nikki. Dan Tuhan seperti ngasih jalan (menurut Gue) dengan menumbuhkan ide Rania ini dalam otakku. Gak ada yang lebih membahagiakan dan bikin semangat selain duduk di sudut kamar, mendengarkan High and Dry A1, memainkan tangan di keyboard dengan pikiran sepenuhnya terbang di dunia lain. Di Rania.

Oh God, dan kini gue ragu sama diri gue sendiri? Bisakah? Apakah ini bakal jadi seperti yang gue harapkan?
Keinginan besar seseorang ketika menulis pastinya  sukses menyampaikan apa yang ditulisnya kepada pembaca. Dan Ya Ampun, gue gak siap sama tanggapan orang, belum pastinya. Merasa minder, kecil, Nothing!

Gue tahu tulisan kali ini bertentangan sama diri gue banget, karena dalam hidup gue selalu berusaha ngasih motivasi yang baik sama orang lain terbebas dari apapun yang gue rasain. Dan kali ini ke-RENDAHDIRI-an gue ini bikin malu banget.

Tapi namanya manusia, feel so many reasons in their life, termasuk gue.
Nah, lupakan tentang Sir Arthur Conan Doyle yang begitu ajaib dengan pikiran Sherlock Holmesnya, atau J.K rowling dengan dunia sihirnya, atau Nicholas Sparks dengan nuansa romantisnya. Gue Cuma berharap jadi seorang Nikki dengan dunia Fantasinya. Itu! Itu yang selama ini ada di mimpiku. Bukan berarti aku nyamain dengan mereka karena Oh my Godness! Gue dan orang-orang di atas seperti langit dan bumi, inti bumi yang paling dalam *jauuuhhh banget!!!
Tapi dari semua ke-NEGATIF-an yang telah gue bagikan, gue merasa lebih berpikir positif setelahnya. Ya, menurut gue menulis itu adalah keindahan, kekayaan yang gak terhitung, Immortality. Jad dari sekian banyak hal itu, gue percaya gak ada yang buruk dengan menulis. Problem-nya ada dalam setting pikiran gue, dan seiring berjalannya waktu gue percaya bakal nemuin kepercayaan gue tentang menulis, gue bakal menemukan keyakinan yang gak lagi bakal bikin gue ragu sama tulisan gue sendiri.
Dan, terlepas dari itu semua! Gue tetep berpikir RANIA adalah hal paling baik dalam hidup gue yang pernah muncul di kepala Gue, hal paling baik yang Tuhan kasih buat gue. Dan bagaimanapun nasibnya nanti, apakah gue bakal duduk santai menyaksikan mereka (RANIA) dibaca oleh banyak orang atau berakhir hanya jadi sejarah diri gue sendiri. Itu gak jadi soal.
Inti dari semua hal gak penting yang gue tulis ini adalah tentang Kepercayaan. Gak akan ada yang tahu tentang nasib seseorang, tapi mungkin gue bisa menghibur diri gue sendiri sampai saat ini, mungkin sampai nanti, Who Knows? Ya. I believe in what I believe, dan selama aku melakukan hal yang membuat aku bahagia, aku rasa itu gak bakal mungkin membuat aku kecewa terlepas apapun hasilnya. Aku udah melalui proses yang begitu panjang dalam ini, dan belajar begitu banyak pelajaran. Itu intinya kan?
Aduh, jadi malu sendiri. Oh Ya, masu menyampaikan terimakasih banget sama kalian-kalian yang udah memotivasiku terus. Buat adikku yang setia banget dengerin ceritaku (satu-satunya orang yang tahu ending Novel ini selain Aku dan Tuhan). Untuk teman-teman yang selalu kasih semangat dan kepercayaannya sama aku.

I will try the best thing that I can do, I’ll never stop! Insya Allah :-)

Terimakasih Reader, *buang tissue

Sebagai ganti dari kerusakan mata kalian karena membaca tulisan ini, aku bakal menebusnya dengan chapter baru Rania Horeeee *sorak sorai sendirian.

Gak janji setelah ini, tapi pasti aku bakal semakin rajin di blog setelah ini toh dengan curhatan ngawur aku ataupun dengan chapter-chapter Rania pastinya.

PS : 30 menit aku diem bengong, sedangkan tulisan ini cuma ditulis dalam waktu kurang lebih 10 menit. Jadi tahukan bagaimana gue bisa begitu cerewet sama tulisan? =D

PS 2 : Judul ini berbau sarkasme ya, Guys! jangan diambi hati;-)
Thanks.
Salam Sayang.
Nikki.

|

Copyright © 2009 scribens de caelo !! All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.