0

RANIA : Princess Nathania and The forest Troops Chapter 4

Posted by Nikki murniati on 19.21
more info about RANIA, you can follow @RaniaNovels @nikkimurniati_ on twitter


Aku tak mengerti kenapa semua orang ketakutan setengah mati ketika mendengar nama itu disebut? Memangnya menyebutka nama itu bisa membunuhku saat itu juga?

Apa anda sedang membuat lelucon, Tuan Madison? Memangnya apa hubungannya kematian orangtuaku dengan nama itu?” Dia terlihat gugup mendengar tanggapanku, tapi kemudian menggeleng sekali lagi meyakinkan dirinya sendiri. “Setahuku dia cuma tokoh fiksi yang jahat di dongeng “3 kerajaan”” Aku menambahkan.

Kau yakin mengenalnya dalam dongeng?”

Tentu saja, Itu kan yang Bibi Marry ceritakan setiap malam saat kecil.”

Paman Gareth tersenyum memandangku, Aku memberinya pandangan seolah sedang berkata, “Apa-apaan sih ini?”

Aku sama sekali tak menyalahkanmu,” keluh Tuan Madison, memberiku pandangan meremehkan saat ini, lalu bangkit berdiri dan berjalan memutariku sambil terus mengoceh..

“Semua orang berusaha menyembunyikan kenyataan dan melupakan masa lalu mereka yang mengerikan. Tapi anakku, Raja Tyrone dan kerajaannya memang benar-benar ada. Belum sempat aku mengomentari penjelasannya yang tak masuk akal, dia telah menyelaku lebih dulu. Meskipun kau hanya mengetahuinya sebagai dongeng, maukah kau menceritakan kepada kami isi dongeng itu?”

Aku terkesiap, berusaha tampak sewajar mungkin ketika menceritakan semua yang kutahu tentang dongeng 3 kerajaan yang pernah di ceritakan Bibi Marry padaku berulang kali, tentang siapa Raja Tyrone, kekejamannya saat Kerajaan Elroy berkuasa, tentang Pasukan Hutan mengerikan yang dimilikinya, tentang keadaan pada saat peperangan dengan Kerajaan Rania terjadi, tentang kemungkinan Raja Tyrone untuk menuntut balasan pada Rania akan kekalahannya. Tentu saja aku sangat hapal, dongeng itu memang menarik seolah menyihirku.

Kemudian aku mengakhiri, Tapi itu kan cuma dongeng? Maksudku, tentu saja itu tidak benar-benar terjadi,

Ya, memang mustahil terjadi, kalau kau masih saja beranggapan mereka itu tidak  benar-benar nyata. Tapi semua yang kau ceritakan pada kami bukan sekedar dongeng biasa, Nat. itu adalah kebenaran yang terjadi beratus-ratus tahun yang lalu.” Aku memberinya pandangan meragukan, menurutku setengah dari jiwanya juga seperti berontak terhadap apa yang dikatakanya. “Kerajaan kita memang telah mengalami peperangan besar dengan Kerajaan Elroy pada masa itu. Kejayaan yang kita memiliki tidak datang begitu saja,” Dia melanjutkan.  “Sebelum Rania, Kerajaan Elroy-lah yang berkuasa di dunia. Dan seperti yang kau katakan di akhir ceritamu, Raja Tyrone akan kembali untuk merebut kekuasaan yang pernah dimilikinya,

“Wow,” Aku tak tahu harus berkomentar apa lagi, sementara Tuan Madison dan Paman Gareth saling pandang prihatin. “Tunggu dulu,” selaku. “Apa anda sedang berusaha menjelaskan kalau apa yang selama ini kudengar sebagai dongeng adalah nyata?’

Mereka mengangguk  bersamaan,

“Raja Tyrone benar-benar ada?”

Paman Gareth mengangguk lagi,

“Pasukan hutan nyata? Benar-benar ada Gru – monster tanah? Elroy benar-benar ada?”

“Ya, Nak.”

“Ini benar-benar tidak lucu,”

“Memang tidak, tapi itu benar.”

“Sori tapi Aku bukan anak kecil yang bisa ditakut-takuti.”

“Aku juga merasa begitu  ̶ ”

“Darimana anda tahu bahwa itu benar? Anda kan juga tidak hidup beratus-ratus tahun yang lalu, anda juga sepertiku cuma mendengarkannya dari cerita yang turun temurun. Bagaimana kalau yang anda yakini ini salah, dan Aku yang benar?” tanyaku, mulai kehilangan kesabaran.

Tuan Madison masih bersikap sangat tenang. Akan sangat menyenangkan kalau itu kebenarannya. Aku tidak menyaksikannya secara langsung, tentu saja. Tapi kita memiliki banyak bukti-bukti kuat, bukan hanya cerita turun menurun seperti yang kau katakan..

Kita tidak pernah tahu dimana atau kemana Raja Tyrone setelah kekalahannya, itu tentu saja menguatkan pendapatmu. Tetapi yang kudengar, saat ini dia tak lagi sekeras itu menyembunyikan diri. Kurasa dia semakin percaya diri akan kekuatan baru yang sedang dibangunnya.”

Apa seseorang pernah melihatnya secara langsung?” tantangku.

Belum, Nak.” Aku tidak lagi bisa menahan dengusanku, “Tak mungkin secepat itu. Yang dilakukannya saat ini baru sebatas menyebar teror supaya semua orang hidup dalam keraguan dan ketakutan, sebelum kemudia dia melakukan apa yang menjadi tujuan utamanya yaitu menyerang Rania.” Dia menambahkan segera.

Kemudian Dia menghentikan ceritanya, menarik napas dengan lelah.

Baiklah aku memang bukan tipe orang yang mudah diyakinkan atas sesuatu, tapi harus kuaikui yang di katakan Tuan Madison memanglah benar, banyak hal-hal yang sulit diterima akal sehat terjadi akhir-akhir ini, yang paling mencolok adalah adalah cerita yang kudengar tentang munculnya Lambang Burung Gagak di suatu malam. Burung Gagak sendiri, memang menjadi Lambang bendera Kerajaan Elroy. Mungkinkah ini semua berkaitan?

 “Baik. Anggap aku percaya dengan yang anda katakan-“

“Kau memang harus percaya!“

“Itu masih belum menjawab apapun,” potongku.Kenapa mereka harus membunuh semua keluargaku?”

Itulah kenapa kau ada di sini!” Dia mulai tidak sabar, “Dan apakah kau benar-benar tidak bisa melihat hubungannya? Kalau rakyat Rania telah hidup dalam ketakutan dan kemudian kita kehilangan pemimpin kita, pegangan kita, mereka membuat kita semua merasa seolah-olah tidak memiliki harapan bertahan. Dengan begitu mereka akan dengan mudah menghancurkan kita.

Memang Tidak. Aku setuju akan hal itu. Memang itulah yang kurasakan sekarang.

Saat itu Tuan Madison menghentikan kegiatan berjalan berkelilingnya dan berdiri menghadap padaku.

Tetapi itu tidak sepenuhnya benar, kita semua tidak kehilangan harapan, karena dia telah melewatkan sesuatu.”

Apa?”

“Kau,

Oh! Aku menahan napas, menyembunyikan kengerian yang memenuhi kepalaku ini.

“Jadi apa rupanya yang membuatku jadi yang terlewatkan?”

“kalau Dia berusaha menghabisi seluruh keturunan kerajaan Rania, dan mengetahui bahwa kau masih hidup. Aku yakin menghabisimu adalah tujuan pertamanya sekarang.

Wah, dia menyampaikan kabar itu dengan penuh kelembutan. Aku akan dihabisi? Kalau ada kabar baik yang ingin kudengar setelah kematian orangtuaku, mungkin berita ini memang yang paling tepat.

“Kita tidak bisa menyembunyikan fakta ini lebih lama, Peperangan itu akan terjadi lagi.”

Oh, Aku khawatir kau terlalu cepat, Arthur.Paman Gareth menyela.  “Kau membuat keadaan semakin terlihat begitu buruk di matanya.”

Kau tahu Itu bukan tujuanku, Gareth. Aku hanya berusaha menyampaikan apa yang harus dihadapinya.

Mereka saling melempar pandangan sengit. Sesaat aku mengira akan ada semacam perdebatan diantara mereka, tetapi kemudian mereka saling mengangguk mengerti, situasinya sudah buruk sekali tanpa harus ditambah pertengkaran mereka.

Tuan Putri, kita tidak bisa menghindari perang ini. Kerajaan kita akan kembali berperang, perang yang akan menjadi penentu nasib Rania. Tetapi kau pun tahu bahwa kita semua masih jauh menuju itu. Hal yang segera akan dilakukan adalah mempersiapkan sebaik mungkin. Dan tentu saja, saat ini melindungimu adalah prioritas utama Kerajaan.”

Aku tidak sadar mulutku setengah menganga saat ini,

Baiklah fakta yang bisa disimpulkan adalah, Aku seorang gadis 17 tahun, yang baru di tinggal mati seluruh keluargaku, aku harus memimpin sebuah Negeri menghadapi masa Peperangan, dan parahnya saat ini aku menjadi buruan seorang Raja yang jahat.

Dengan sangat menyesal Aku harus mengatakan Aku akan kembali menduduki jabatan Raja Pengganti, menggantikan posisi ayahmu untuk sementara waktu sampai kau siap melanjutkan takhta ayahmu menjadi Ratu Rania.”

Seolah itu penting untuk kuketahui, gerutuku dalam hati.

“Ya, aku tahu kau tidak siap, Nak. Tapi kau harus. Negeri ini akan berperang, dan bukan perang seperti biasanya. Kita semua membutuhkan seorang pemimpin dan itu harus kau. Tidak perlu takut, Nathania. Kami semua akan melindungimu, tentu saja.”

Takut? Tentu saja ya! Ya, Aku takut mati tentu saja, tapi lebih menakutkan mendengar harus memimpin negeri dalam kondisi begini.

Tapi kemudian Aku gemetaran ketika mendengar sorak sorai memenuhi Aula, bahkan samar kudengar beberapa meneriakkan kata-kata “Panjang umur, Ratu Nathania”. Tuan Madison benar, mereka masih memiliki Harapan di dalam mata mereka karena keberadaanku. Dan Aku tidak tahu harus bersyukur atau justru sedih melihat ini. Mereka begitu percaya kami akan bisa melaluinya dengan kemenangan seperti biasa.

Tapi apa yang bisa kulakukan?

Rania melawan Elroy?

Memangnya mereka tidak pernah mendengar dongeng itu apa? Aku akan menjadi Ratu Rania sementara kerajaan akan berperang melawan makhluk-makhluk sihir? Yang benar saja!

“Kurasa cukup untuk malam ini. Silahkan para juru masak untuk kembali ke dapur untuk  menghidangkan makanan. Jangan sampai kita semua mati kelaparan sebelum peperangan itu terjadi,” kata Paman Gareth, seolah perang adalah seperti sekedar menantikan pertandingan gulat kerajaan. Dia pasti bercanda!

Tuan Madison menepuk pundakku, Aku tersenyum dengan setengah hati dan berjalan bersama yang lain menuju meja makan.

Ini adalah makan malam terburuk seumur hidupku, bukan saja karena tak ada lagi ibu cerewet yang tak pernah berhenti mengingatkanku menghabiskan makanan, tapi informas-informasi yang baru saja kudengar, cukup untuk memporak-porandakan hatiku. Mau tak mau Aku berpikir di sini di Aula ini kami semua makan dengan tenang, sampai kapan kami bisa merasakan ini lebih lama lagi?

Aku tak langsung pergi ke menaraku setelah makan malam, mengamati orang-orang meninggalkan Aula sambil mengucapkan selamat malam padaku. Mengabaikan kakunya tubuhku karena kelelahan, Aku mendekati Tuan Madison yang telah bersiap untuk meninggalkan Aula.

“Tuan Madison,” panggilku.

Kau belum kembali ke menaramu? Dimana Marry, bukankah harusnya dia menemanimu naik?” Dia tampak terkejut, memandang berkeliling Aula yang mulai kosong.

“Er, Aku menyuruh Bibi Marry menunggu.Aku berkata gugup, tak tahu kenapa Aku harus bersikap begitu. Tuan Madison memandangku curiga, tapi tak berkomentar dan menungguku melanjutkan. 

“Apa anda keberatan bicara sebentar denganku?”

Sesaat, dia tampak akan menolak, tetapi Dia kembali memandang berkeliling Aula, mempertimbangkan. Baiklah, tapi kita akan bicara di ruanganku,” katanya.

Lalu, dia membawaku ke lorong istana berlantai marmer yang dingin bahkan untuk sepatuku. Kami berbelok ke kanan dua kali sebelum menemui sebuah pintu kayu tua yang catnya sudah mengelupas, tidak ada kirai jendela, tidak ada ventilasi udara, hanya dinding gelap yang lembab, tapi aku yakin ini adalah yang dikatakan Tuan Madison sebagai ruangannya.

Seingatku, dia memang tak memiliki keluarga, seluruh hidupnya di serahkan untuk mengabdi pada Rania, benar-benar mengharukan.

Aku belum pernah masuk keruangannya, dan memang tak memiliki alasan untuk berada disana.
Tuan Madison memutar kunci, terdengar bunyi klik nyaring dan ruangan itu terbuka. Yang pertama terlintas dalam benakku adalah Ruang Tahanan bawah tanah untuk para penjahat dan pembelot. Tempat ini sama sekali tidak pantas disebut sebagai kamar seorang Raja, bahkan Raja Pengganti sekalipun. Kalau dibandingkan Ruangan Khusus Ayahku, tempat ini lebih mirip Gua tempat tinggal raksasa dalam dongeng “Raksasa yang baik hati”, dongeng lain yang sering dibacakan Bibi Marry. 

Kamarku mungkin tak semewah milik ayahku, tetapi lebih luas dan indah jika di banding ini.
Ruangannya hanya terdiri atas ranjang kecil di sudut ruangan, meja kerja teronggok di sudut lainnya dan beberapa perabotan yang dapat dihitung jari jumlahnya. Hal yang menggangguku adalah, bahwa ruangan ini hanya memiliki satu penerangan, dari obor yang menancap di dinding. Aku tak mengerti mengapa, kenapa Tuan Madison tidak meminta lebih banyak Obor atau bahkan ruangan yang layak? Aku yakin pihak istana tidak akan menolak apapun yang diinginkannya.

Belum puas atas rasa tercengangku, Tuan Madison menyuruhku duduk di sebuah kursi tua di depan meja kerjanya. Ia sendiri duduk di kursinya. Apa yang ingin kau bicarakan denganku, Tuan Putri?” tanyanya, tak tergganggu atas pandanganku terhadap ruangan ini. Aku berusaha memusatkan diriku pada Tuan Madison.

Aku hanya memiliki beberapa pertanyaan,”

Dan apakah itu?”

Dimana Paman Steve? Dia tak berada di pemakaman.”

Paman Stephen, adalah adik kandung ayahku. Kakek dan Nenekku hanya memiliki 2 orang putra, dan seingatkuPaman Steve meninggalkan istana saat aku masih kecil, dia menjadi raja di sebuah kerajaan Haermes, di Timur Rania.

Aku sangat heran kau baru menanyakannya sekarang,cetusnya sembari tersenyum padaku.

“Kalian berbicara seolah-olah hanya aku yang tersisa dalam keluargaku, masih ada Paman Steve, dan Dia juga seorang keturunan Rania,” tanggapku, mengabaikannya.

Benar, tuan putri. Itulah sebabnya dia tak ada di pemakaman itu.

“Er, aku tidak mengerti  ̶  ”

Karena kau bukan satu-satunya keluarga kerajaan yang tersisa, dan Raja Tyrone tahu itu. Karena itulah dia juga memburu pamanmu. Dia bersembunyi saat ini,jelas Tuan Madison.

Bagaimana anda tahu?”

Itu mudah sekali di tebak, Nak. Apa yang kau lakukan, saat mengetahui seluruh keluargamu mati dibantai dan kau menjadi salah satu yang selamat?”Aku ingin menjawab itu kan memang yang saat ini terjadi padaku, tetapi dia telah lebih dulu menyelaku. Kau beruntung terlindungi dengan aman di istana ini, setidaknya Raja Tyrone harus menampakkan diri dan melawan kita semua untuk mendapatkanmu. Berbeda dengan Pamanmu, Dia hanya tinggal  di sebuah kerajaan kecil, kau tidak bisa mengandalkan itu

Lagipula kami sudah mengirim utusan kepadanya untuk memberitahu kematian keluargamu, tapi seperti dugaanku, dia tak lagi berada di istananya.”

Kalau begitu kenapa kita tidak melindunginya juga? Dia punya kesempatan yang sama denganku untuk menjadi Raja Rania.”

Itu tidak benar, dia tidak memiliki hak sama sekali. Sejak dia meninggalkan istana ini, pamanmu telah melepaskan ikatannya dengan Rania.”

Dia berada dalam bahaya saat ini, dan kalian akan membiarkannya begitu saja?”tanyaku tak percaya. Kedengaran lucu juga ketika aku sendiri berada dalam bahaya yang sama, nyawa orang lain justru yang kupikirkan.

Bukan kami yang memutuskan, dialah yang membuat pilihan. Dia membuat kesalahan, dan mungkin itu yang Dia inginkan untuk menebusnya. Kau terlalu kecil saat itu untuk mengerti.”
Aku tak berkomentar, masih merasa kasihan atas ketidakadilan yang menimpa pamanku. Tapi Aku punya firasat Tuan Madison tidak akan mau membicarakannya lagi.

Apa kau sudah selesai dengan pertanyaanmu?” tanyanya.

Belum, ada satu lagi yang ingin Aku tanyakan.”

Dengan senang hati, Tuan Putri.Ada nada sarkasme dalam kata-katanya, aku tahu itu.

Aku mendengar kabar tentang hilangnya Aaron,

Aaron adalah pengawal pribadiku, sudah lebih dari seminggu Aku tak melihatnya. Kabar hilangnya Dia mulai beredar di kalangan kerajaan. Aku tak tahu seberapa penting ini tapi Aku merasakan sesuatu yang aneh saat membahasnya.

Aku khawatir itu benar, Tuan Putri. Dia memang menghilang, dan kami belum menemukan tanda-tanda dimana dia berada. Tapi kurasa kau tidak perlu khawatir, dalam kondisi seperti ini keamananmu tentu saja menjadi sangat penting, dan aku juga sudah mendapatkan pengganti Aaron, kurasa dia sangat pantas

Aku tidak sedang mengkhawatirkan keadaanku, sanggahku.

Lalu apa yang kau khawatirkan?”

Aku tidak tahu, cuma merasakan sesuatu yang aneh.”

Kau sudah mengalami banyak hal berat hari ini, Aku mengerti. Aku akan mengantarmu ke menara,dan mulai sekarang menaramu akan benar-benar terawasi, beberapa pengawal akan ditempatkan di sana. sekarang  kau bisa Beristirahat. Besok setelah pelantikanku, aku akan mengajakmu bertemu pengawal barumu.

Namanya Lance Haynsworth.”

***

|
0

RANIA : Princess Nathania and The forest Troops Chapter 3

Posted by Nikki murniati on 20.41

more info about RANIA, you can follow @RaniaNovels @nikkimurniati_ on twitter


* 3 *

Seumur hidup, aku tak pernah membayangkan berkuda menembus langit yang gelap dalam derai hujan bersama orang yang sama sekali tak kukenal. Entah bagaimana caranya aku bisa mempercayai kata-katanya. Kadang dalam kondisi-kondisi seperti ini, naluri memang lebih sering bertindak dibanding akal sehat.

Pemakaman kerajaan Georgiria berada di utara Rania, dan aku tak tahu bagaimana pria ini akan membawaku kesana. Si penunggang kuda yang tak kukenal ini menunggangi kudanya dengan begitu percaya diri seolah yakin tak akan ada yang mampu membuat kami terjatuh. Kami berkuda dengan cepat menyusuri sepanjang sungai, menembus siluet-siluet pepohonon melewati bibir hutan Rania. Tubuhku menggigil kedinginan meskipun telah terbalut dengan mantel bepergian.

Aku tak bisa mengingat berapa lama perjalanan kami, tahu-tahu kami sudah berada di lapangan luas yang kukenali sebagai area Georgiria. Aku pernah kesini sebelumnya, saat nenekku, Felicia, dimakamkan.

Georgiria adalah pembaringan terakhir bagi semua keturunan dan petinggi kerajaan, Makam untuk Para Raja dan Ratu Rania yang terdahulu berada di sebuah ruangan semacam aula yang berada dalam di sudut Georgiria.

Aku melihat ribuan manusia berkumpul di tempat ini tanpa perduli hujan yang turun dengan deras atau tanah yang becek. Aku bersyukur Si Penunggang Kuda bisa mengerti bahwa Aku tidak ingin ribuan orang ini menyadari kehadarinku dengan menyembunyikanku di balik pepohonan. Barulah kami merengsek keluar saat upacara pemakaman selesai.

Sambil memandangi satu per satu mereka meninggalkan Georgiria, Aku berpikir, mereka tentunya masih akan terus membicarakan peristiwa setelahnya. Jenis pembicaraan yang tak akan habis hingga mereka sampai dirumah, obrolan yang akan terus berlanjut saat mereka berada diranjang tidurnya, mereka masih akan membicarakannya esok, esoknya lagi... dan seterusnya.

Hari ini akan menjadi sejarah baru bagi Rania…

Kelompok terakhir yang meninggalkan Georgiria adalah rombongan kerajaan, dengan Tuan Madison di atas kudanya memimpin kepergian mereka.

Aku turun dari kuda dan berjalan mendekat ke Gerbang dimana ruang makam untuk Para Raja dan Ratu berada. Rasa dingin ganjil menyeruak ke dalam tubuhku ketika turun dari kuda dan berjalan bersama pria itu. selama perjalanan, Aku belum mengeluarkan sepatah kata pun, dan dia juga  kelihatannya tak terganggu dengan sikapku. Dia mengikutiku dalam diam sambil menuntun kudanya menuju para penjaga pemakaman.

Mereka adalah tiga lelaki berseragam hitam yang duduk di pos jaga mereka. Satu dari mereka baru selesai menutup pintu gerbang Georgiria, tampak terperangah ketika Aku datang menghampiri mereka. Ketika menatap mereka Aku menyadari mata mereka juga memerah oleh tangisan, siapa di dunia ini yang tidak merasa kehilangan Raja dan Ratu kesayangan mereka? AKu menarik napas, menahan diri untuk tidak menangis lagi dan memberi isyarat pada salah satu penjaga untuk membukakan kembali pintu gerbang.

Si penunggang kuda mengikat kudanya pada gerbang sementara Aku masuk lebih dulu. Tolong Jangan membayangkan tempat ini sebagai tempat berlatar kuno dan sakral, sebaliknya Aku malah sedikit  menyukainya. Aku terpesona akan atapnya yang tinggi berwana biru laut dengan lubang ventilasi besar tempat masuknya cahaya matahari, kurasa karena itulah bermacam bunga berwarna-warni tampak tumbuh dengan cukup indah. Berpuluh-puluh nisan berjajar rapi di sekelilingnya, ada plang berisi kalimat favorit masing-masing dari mereka di samping nisan-nisan itu.

Mataku mencari, dan menemukan nisan baru terukirkan nama ayah dan ibuku. Aku menghampirinya dan membaca sebuah plang yang ditulis dengan tinta hitam yang baru,

Di sini terbaring Raja Adon dan Ratu Feronia penguasa Rania yang ke-21. Semoga kebahagiaan selalu menyertai mereka,

Disampingnya ada plang lain berisi kalimat favorit ayahku,

“Hiduplah untuk kebaikan meski kejahatan berada di sekelilingmu.”

Aku tersenyum, Dia pernah membisikkan kata-kata itu sebelum tidur.

Pelan-pelan Aku mendekati kedua gundukan tanah yang masih basah itu.  Aku menangis tersedu-sedu, tak kuasa lagi menahan emosi yang membuncah seolah kepalaku hampir meledak saat itu juga. Si penunggang kuda berdiri jauh dariku, membiarkanku larut dalam air mata dalam waktu yang lama.
Di luar hujan mulai mereda dan langit semakin gelap, tak ada suara lain yang terdengar selain isakanku. Aku memberanikan diri mengamati nisan lain disini.

Raja Aldrich, Raja Rania yang pertama adalah yang mencetuskan berdirinya Georgiria untuk para keturunan Rania, Dia tentu menjadi orang pertama yang menempati bangunan ini. Aku yakin Dia sangat populer bagi orang-orang Rania, Aku tak bisa mengaikatkannya selain sebagai pahlawan yang heroik dalam perang bersejarah Elroy dan Rania di dalam dongeng “3 Kerajaan”. Aku mengesampingkan pikiran bahwa kisah itu hanya semacam Kamuflase. Tragisnya kematian orangtuaku, itu baru kenyataan.

Pemakaman terbesar disini adalah milik Ratu Tanya yang menjadi Ratu Rania yang ke-7 dalam usianya yang begitu muda yaitu 18 tahun dan Raja Eric raja ke-11 yang terkenal akan kepandaiannya.
Si penunggang kuda tadi berjalan pelan dan berdiri disampingku menjaga jarak, aku tahu ini saatnya pergi. Kau akan bisa melalui ini semua, Tuan Putri.” Dia berkata pelan.Aku yakin semuanya akan baik-baik saja.

Baik-baik saja?

Aku mulai benci kata-kata itu..

----

Kami kembali ke istana setelahnya, masuk melalui jalan rahasia istana Rania. Pria inilah yang mengusulkan kepadaku untuk menggunakan jalan yang sama sekali tak pernah ada di pikiranku. Jalan rahasia di istana Rania, seperti kebanyakan jalan rahasia di kerajaan lain, tersembunyi dan hanya di ketahui pihak-pihak tertentu dalam kerajaan, karena itu tempat ini tak pernah dijaga oleh satupun pengawal kerajaan. Saat umurku 12, Ayah pernah menunjukannya padaku dan menjelaskan alasan dibuatnya jalan ini. Dulu saat terjadi peperangan besar, kalangan kerajaan menggunakannya sebagai tempat melarikan diri bagi para wanita dan anak-anak keluarga kerajaan saat perang. Aku tak pernah mendengar digunakannya jalan itu selama ini, tentu saja aku terkejut bagaimana pria asing ini tahu tentang  jalan rahasia istana kami. Tapi berhubung dia telah membantuku hari ini, Aku berjanji tidak akan membahasnya sekarang.

Dia mengantarkanku sampai menara seperti sebelumnya. Belum sempat Aku mengucapkan terimakasih, suara melengking Bibi Marry memanggil namaku, tubuhnya muncul dari balik tangga setelahnya, Dia berlari kepadaku dengan panik.

“Tuan Putri Nathania!!” jeritnya. “Oh Tuhan Kau membuat seisi istana ketakutan. Aku kira.. Aku kira..” Dia tak melanjutkan, menjaga perasaanku.

Aku kira kau sudah bunuh diri, itukan pikiranmu?

Syukurlah kau kembali dan baik-baik saja sayang.” Dia menambahkan cepat-cepat,

Aku baik-baik saja, jangan khawatir,” sahutku dengan lelah.

Bibi Marry kelihatannya tak begitu mempercayaiku dan terus mendesak.

“Apa yang kau lakukan? Darimana saja kau sejak tadi? Tuan Madison telah menyuruh prajurit mencarimu ke seluruh penjuru negeri. Oh Ya ampun, kenapa pakaianmu basah kuyup begini?” cecar Bibi Marry.

Tenanglah Miss Anderson, dia baik-baik saja persis seperti yang dikatakannya,Pria itu bicara pada akhirnya. Bibi Marry terpekik kaget ketika menyadari keberadaannya disampingku.

Haynsworth!Biby Marry menegur. “apa yang kau lakukan? Kupikir..kupikir kau-“

“Aku tidak melakukan apapun,” sela pria bernama Haynsworth itu, menunjukkan ekspresi datarnya.

“Tapi kau yang ditugasi menjaga Tuan Putri Nathania, kemana kau pergi?” Bibi Marry memberinya pandangan menyelidik, “Oh.. Ya ampun. Bahkan pakainmu juga basah. Ada apa ini? Apa yang terjadi? Darimana kalian?”

Sungguh Miss Anderson, tidak terjadi apa-apa. Putri Nathania hanya berubah pikiran, itu saja.” Jelasnya. Meskipun tak mengerti apa yang dikatakannya, Aku tak membantah sama sekali.

Kau pergi ke Georgiria, Sayang?” tanya Bibi Marry terkejut. Aku mengangguk kecil padanya, Kau bilang tidak mau pergi bersama kami. Aku kira kau tidak mau berada di sana, maafkan aku, Nak-“

Kata-kata Bibi Marry putus, matanya mulai bekaca-kaca membuatku sedikit risih. Kalau tahu begini rasanya melihat orang lain menangis, Aku mungkin akan lebih menahan air mataku. Seandainya bisa –

Tidak apa-apa, Bibi. Aku cuma merasa harus berada di sana, itu saja.“

Bibi Marry tak dapat menahan diri, dia kembali terisak, tetapi tak lama dia segera menghapus air matanya, dan memberiku senyuman.

Ya, Sayang. Kau benar, sekarang ayo masuk ke kamarmu dan Aku akan membantumu membersihkan diri. Masih ada waktu sebelum makan malam dimulai, Aku membiarkan Bibi Marry menuntunku ke kamar, sementara dia berkata kepada Haynsworth tadi, Kau juga sebaiknya cepat membersihkan diri sebelum turun ke Aula, Haynsworth.

Tentu Miss Anderson” jawabnya singkat, kemudian pergi.

Bibi Marry segera sibuk menyiapkan air hangat dan handuk untukku, Aku menunggunya di ranjang tidurku.

Bibi Marry Anderson adalah pengasuhku sejak kecil. Dulu dia hanya perawatku sampai aku berusia 5 tahun, tetapi karena terlalu menyayangiku, Dia memohon kepada ibuku untuk tetap tinggal di istana dan merawatku hingga saat ini. Suaminya yang seorang prajurit, meninggal dalam pertempuran, dan mereka tidak memiliki keturunan. Aku sepakat untuk alasan itu dia begitu mencintaiku, dan sejak saat itu juga, Aku memanggilnya dengan sebutan Bibi.

Bibi?” panggilku, dia menoleh padaku ketika sedang sibuk memilih gaun di lemari pakaian.

Ada sesuatu yang kau butuhkan, nak?” tanyanya lembut.

 “Harusnya tadi pagi aku tidak menolak permintaan ayah dan ibu ikut ke perayaan itu, gumamku meracau.

Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan,

Kalau Aku ikut bersama mereka, Aku akan tahu apa yang terjadi. Dan mungkin Aku tidak akan ditinggalkan seorang diri begini,

Bibi Marry diam sesaat, menahan dorongan hatinya untuk menangis lagi, menyadari bahwa terlalu banyak menangis akan membuat perasaanku semakin buruk, kemudian dia duduk disampingku.

Sayang, Aku tidak akan bilang ini mudah dilalui oleh gadis muda sepertimu, apa yang terjadi pada Ayah, Ibumu dan yang lainnya memang benar-benar tragis, Aku yakin tak mengharapkan hal yang sama jika Aku jadi dirimu. Tapi Nak, kadang kau hanya harus percaya apa yang Tuhan gariskan untuk hidupmu,

Aku sangat yakin kau akan melalui ini semua dengan kuat, dan sejujurnya Aku sangat bersyukur kau masih disini bersama kami, Sayang. Aku tak bisa membayangkan kehilanganmu juga,Dia berhenti, dan membelai rambutku dengan hangat.

Entah mengapa kata-katanya justru mengingatkanku akan hal lain. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan dalam benakku seumur hidup. Aku satu-satunya keturunan Rania yang tersisa, Aku harus menggantikan Ayahku memimpin negeri ini, Seorang diri.

Ini benar-benar kelihatan konyol, memangnya apa yang bisa dilakukan gadis 17 tahun sepertiku untuk Rania? Aku sendiri saja tak yakin akan bisa mengatasi rasa dukaku untuk waktu yang lama.

“Aku tidak bisa jadi Ratu Rania, Aku masih 17 tahun dan aku seorang anak perempuan. Aku tidak tahu caranya menjalankan pemerintahan” kataku segera.

Bibi Marry tampak terkejut mendengarku, tetapi dia menggeleng lembut menenangkan.

Dalam situasi tertentu kau harus bisa menjadi lebih dewasa dari umurmu, Nak. Ratu Tanya saja bisa menjadi Ratu Rania ketika berumur 18 tahun, hanya selisih satu tahun denganmu.”

Aku tertawa getir. Dia tidak ditinggalkan sendirian oleh seluruh keluarganya sepertiku, Bibi. Dia jadi ratu karena ayahnya – Raja Ethan sakit keras.

Dan kau juga tidak ditinggalkan sendirian, Sayang. Kau masih memiliki rakyatmu dan Aku. Kami ada dibelakangmu. Kami mencintaimu, Aku mencintaimu..”  ucapnya lembut.

Aku memeluknya, menangis dipangkuannya seperti gadis kecil ketakutan, sungguh memalukan untuk ukuran seorang calon ratu. “Aku juga menyayangimu,” ucapku tersentuh.

Kau harus bersabar, Sayangku. Aku tahu ini cobaan yang berat untukmu, tapi kau masih punya aku. Kau masih punya kami semua, kami tidak akan meninggalkanmu,” janjinya.“Sekarang bersihkan dirimu. Air hangatnya akan segera dingin kalau kau tidak cepat-cepat. Dan kalau kau sudah siap panggil Aku, kita akan turun ke Aula untuk makan malam. Tuan Madison sedang mengadakan rapat penting dengan para petinggi dan dewan. Dia mau kau bergabung bersama mereka,

Aku merasa tubuhku sangat lelah, akan sangat menyenangkan jika Aku segera tidur saat itu juga. Tapi Bibi Marry benar. Jika Aku menjadi satu-satunya keluarga kerajaan yang tersisa, jika Aku satu-satunya harapan mereka mungkin aku harus bisa bersikap lebih dewasa. Tapi benarkah hanya Aku saja yang tersisa?

“Bibi Marry?

Dia sudah akan meninggalkan kamarku, sebelum kemudian kembali berbalik padaku. Ya, Nak?”

Di mana paman Steve? Aku tidak melihatnya di pemakaman,

Lama aku tak mendengar jawaban keluar dari mulutnya, Kurasa Tuan Madison dan yang lainnya mungkin akan membahasnya di bawah. Dia akan punya jawaban yang tepat untukmu.”

Aku tidak mengerti, apa yang membuatnya seragu itu untuk menjawab pertanyaanku?

---

Bibi Marry menemaniku turun ke Aula Kerajaan setelahnya. Aku merasa cukup heran ketika Aula kerajaan yang begitu luas penuh sesak. Hampir Seluruh anggota kerajaan berada di sana. Para Petinggi Kerajaan, Menteri, Dewan dan seluruh Staff Istana. Seluruh kursi terisi penuh, kecuali kursi-kursi di atas undakan, Kursi kebesaran milik Raja Adon dan Ratu Feronia.

Aku memandang kursi-kursi itu dengan hampa, seperti yang dilakukan kebanyakan orang. Mengingatnya membuat ada semacam desiran aneh di dalam hatiku.

Tuan Madison pasti sengaja mengumpulkan orang-orang sebanyak ini untuk membicarakan hal yang benar-benar penting dengan kami. Kalau bukan karena itu, Kenapa bahkan para prajurit dan juru masak istana juga ikut berdesakkan di Aula?

Tuan Arthur Albert Madison duduk di kursinya seperti biasa. Ia adalah laki-laki berbadan tinggi dan ramping dengan janggut abu-abu dan kacamata tua yang selalu terpasang di matanya. Dia memakai jubah panjang berwarna hitam, yang memaknai lebih dalam rasa dingin di dalam matanya yang sebiru laut. Tapi hari ini, Wajahnya terlihat begitu lelah. Garis-garis wajahnya terlihat jelas membuatnya terlihat semakin tua.

Dari penjelasan Bibi Marry saat kami turun dari menara, Dia akan kembali menjadi Raja Pengganti Rania. Dia memang sering memegang jabatan itu ketika Ayah tak berada di Rania. Ia satu-satunya orang yang paling dipercaya Ayah seumur hidupnya. Dia seorang yang cerdas dengan gagasan dan ide-ide yang cemerlang, sejauh ini kemajuan yang dicapai Rania dalam kepemimpinan ayahku pastilah ada peran besar Tuan Madison. Bisa dibilang dialah Sang Pion Rania, sedangkan ayahku hanya semacam Pemeran. Dia memang bukan seseorang yang ramah dan menyenangkan, tetapi Aku harus mengakui orang seperti Tuan Madison memang sangat dibutuhkan.

Selain Tuan Madison, Ayahku memiliki seorang Penasehat kepercayaan bernama Gareth Lawrence, aku memanggilnya Paman Gareth. Jika harus memilih, tentu saja Aku lebih menyukai satu Paman Gareth dibanding 5 orang semacam Tuan Madison. Dia adalah Lelaki bertubuh gempal yang selalu memakai jubah kerja berwarna ungu, menurutnya sih itu adalah warna keberuntungannya, dan meski terlihat konyol kadang-kadang, Dia itu seorang Panglima perang yang menakjubkan, setidaknya itu kata Ayah setiap kali Aku berusaha membuat lelucon tentangnya. Dia seorang yang lembut dan penyayang, dan cukup dekat denganku, menjadi Satu-satunya orang yang akan bertanya tentang sekolahku saat makan malam – yang bahkan tak dilakukan orangtuaku saking sibuknya.

Kemarilah, Tuan Putri,” panggil Tuan Madison. Dia memberiku isyarat agar mendekat. Paman Gareth dan Tuan Madison malam itu duduk berdampingan.

Aku menghampiri mereka, bersyukur memiliki alasan untuk menghindari kursiku yang biasa, di samping kursi ibuku.

“Arthur!” tegur Bibi Marry. “Putri Nathania harus makan sesuatu sebelum dia ikut dalam rapat ini, perutnya belum diisi apapun sejak pulang dari sekolah Kerajaan.

Lihat kan? Bibi Marry memang selalu tahu apapun tentangku, seolah aku ini bagian dari dirinya atau apa. Kurasa dia bahkan sudah tahu kalau aku sering menyembunyikan gaun tidurnya selama ini.

Aku tidak keberatan jika itu memang yang diinginkannya, Marry.Kata Tuan Madison tenang.

Kurasa aku bisa ikut bergabung saat ini juga, Tuan Madison.” Timpalku keras kepala, mengabaikan rasa lelah yang menggelayuti tubuhku.

Tuan Madison menautkan alis padaku. Omong-omong, satu lagi faktanya adalah dia tidak begitu suka dengan panggilanku padanya, dia sering memberengut tiap Aku memanggil. Aku berani sumpah dia akan mengurungku di penjara bawah tanah jika Ayah dan Ibu tidak ada, dan apa itu artinya sekarang? Kelihatannya Dia tidak ingin melakukan itu di tengah banyak orang seperti ini.

Tidak, Nak. Kau harus mengisi perutmu sebelum ikut pertemuan,” paksa Bibi Marry.

Jangan memaksaku, Bibi Marry! Aku bukan anak kecil! Aku benar-benar ingin semuanya cepat berakhir.

Wah, Tuan Putri. Kau terlalu bersemangat. Bahkan kita belum sepakat memulai apapun, dan kau sudah mengatakan tentang mengakhiri ini semua?”

Apa maksud Tuan Madison? Dia sedang berusaha menyindirku dengan keras atau memang kepalaku ini punya kecenderungan sulit mencerna kata-kata?

Baiklah kalau begitu, kenapa tidak mulai sekarang saja?” usulku dengan ragu-ragu.

Dia tersenyum penuh arti, di sampingnya Paman Gareth mengentakkan kakinya, sedikit gelisah.

Kalau itu memang yang kau inginkan, tuan Putri. Mari kita mulai..”

Aku gelisah, merasa makna dimulai dan berakhir yang kami maksud berbeda arti, tetapi tentu saja tak mau bersusah payah untuk bertanya. Ketika memandang berkeliling, rasa gugup tiba-tiba menyerangku. Ya Tuhan, semua mata kini menatapku. Baiklah mungkin pada dasarnya Aku telah terbiasa menjadi pusat perhatian seisi Aula saat makan Malam atau kegiatan apapun di Aula ini. Sebagai satu-satunya Tuan Putri di sini, hampir semua perilakuku akan menjadi perhatian semua orang, dan sejujurnya sih aku bukan seorang Tuan Putri penurut yang layak dijadikan contoh rakyatnya. Tetapi malam ini segalanya seperti berubah tanpa Ayah dan Ibuku, Aku tidak bisa bersikap seenaknya seperti biasanya, Aku gugup.

Silahkan duduk, Tuan Putri.Tuan Madison mengagetkanku, Aku tak ingat kapan Tuan Madison menyuruh seorang pengawal membawakanku sebuah kursi, tahu-tahu di depannya sudah ada sebuah kursi kayu. Dan disanalah Aku, duduk di depan Tuan Madison, seperti seorang terdakwa.

Dia kelihatan sedang berpikir untuk memilih kata-kata yang tepat untuk di katakan padaku atau tepatnya memilih kata-kata yang mampu di mengerti seorang gadis berusia 17 tahun berotak tumpul sepertiku.

“Nah, nak.. Apa yang pertama ingin kau ketahui?” tanyanya.

Apa? Aku?” Aku tersentak kaget layaknya seorang idiot. Setahuku ini sidangnya, bukan acara curahan hatiku.

Ya, Tuan Putri. Akan lebih baik kalau Aku membiarkan kau mengetahui apa yang paling ingin kau ketahui, tentang semua kejadian ini tentu saja,Dia mengangguk sabar.

Aku tiba-tiba saja paham kalau dia ingin aku mengetahui sesuatu tentang kematian keluargaku.

Aku menghela napas, membiarkan kesakitan itu kembali menguasai, sekali lagi.

“Aku sudah mendengar semua beritanya, tapi tidak ada yang utuh. Sebenarnya siapa yang melakukan semua pada mereka, Tuan Madison?”

Aku berusaha memilih kata-kata yang tepat untuk menggambarkan tragedi ini. Tak perlu bersusah payah, menurutku Tuan Madison pun telah mengerti apa yang kumaksud.

Kau memulai dengan yang paling berat. Tapi baiklah, kalau memang itu hal pertama yang ingin kau ketahui, aku akan berusaha menjelaskan..

Nah, Nat. Kau sudah melihat bagaimana keadaan mereka saat di Kastil Istana, benar-benar.. tidak biasa”

Mengenaskan tepatnya, pikirku.

Mungkin kau bisa sedikit menyimpulkan apa yang sesungguhnya terjadi pada mereka?” tanya tuan Madison.

Aku paling tidak suka ketika bertanya dan pertanyaan itu berbalik lagi padaku, tapi mau tidak mau pikiranku kembali dibayang-bayangi akan luka-luka cabikkan, wajah-wajah pucat tanpa darah, kali ini perutku benar-benar mual.

Ya aku melihatnya, itu sangat mengerikan. Agak sedikit tidak masuk akal dibanding berita yang menyebar. Maksudku  ̶  Apakah kejadian yang sesungguhnya tidak seperti itu, Tuan Madison?”Aku balik bertanya. Huh, aku juga bisa bukan membalikkan pertanyaan kepadanya kan? Oh sudahlah..
tidak..tidak, bukan begitu.” Dia menggeleng cepat, “Kurasa memang itulah yang terjadi pada mereka semua. Aku cuma berusaha membuka pikiranmu tentang kebenarannya, tentang kenapa ini terjadi.

Bagus, itu memang sangat ingin aku ketahui.

Tanpa sadar aku sudah mendorong kursiku lebih maju, mencondongkan tubuhku dengan penasaran.

“Siapa menurutmu yang menyerang mereka, Nat?”

Aku menggeleng cepat, Aku sama sekali tidak bisa membayangkan. Tapi kalau melihat luka-luka pada mereka, mustahil semua itu dilakukan oleh manusia,ungkapku.

Mungkin saja,” Tuan Madison mengangguk setuju. “Aku setuju tentang luka-luka tidak biasa yang kau katakan. Tetapi kami punya sedikit kesimpulanyang lebih baik tentang ini,

Kalau sudah tahu, kenapa tidak langsung mengatakannya, Tuan Arthur Madison?

Aku menahan dorongan hatiku untuk memutar mata dengan tidak sopan padanya, dan tetap memandangnya, seperti haus akan informasi. Semua orang berusaha memajukan tubuh mereka ke arah kami sekarang, tak mau tertinggal sepotongpun percakapan antara Aku dan Tuan Madison.

Seluruh anggota kerajaan sudah membicarakan ini secara serius setelah kepulangan kami dari Georgiria. Dari informasi yang kami punya, dan dari segala hal yang bisa kami amati, termasuk dari luka-luka tidak biasa yang kau sebutkan tadi, Kami menyimpulkan bahwa pembantaian yang terjadi sangat berkaitan dengan Raja Tyrone. Suaranya nyaris hilang ketika bicara, seolah dipaksa mengucapkan kata paling memalukan seumur hidup.

Aku menahan diri untuk tidak tertawa keras saat itu, karena semua orang dalam ruangan menahan napas ketika mendengarnya.


***


|

Copyright © 2009 scribens de caelo !! All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.