0
RANIA : Princess Nathania and The Forest Troops Chapter 8
Posted by Nikki murniati
on
18.12
more info about RANIA, you can follow
@RaniaNovels @nikkimurniati_ on twitter
* 8 *
Aku terbangun di suatu pagi yang dingin dan berkabut, musim dingin kelihatannya
tiba lebih awal tahun ini. Dan setelah mandi berendam, Aku mengenakan gaun
cokelat berenda dan jaket tebal untuk menyelimuti kulit punggungku yang
terbuka. Aku keluar dari kamar dan terkejut ketika mendapati 5 pengawal berjaga
tanpa Lance. Dua diantara mereka ikut turun tanpa berkata apapun ketika Aku
berjalan meninggalkan mereka tanpa bicara. Mau tidak mau Aku teringat beberapa
hari lalu ketika menipu dua pengawalku, mereka pasti mendapat teguran keras
dari Tuan Madison dan bertekad tidak akan mengulang hal yang sama kali ini. Aku
menyembunyikan cengiran diwajahku.
Tiba di Aula, Aku dibuat terheran-heran. Seingatku Aku tidak terlambat
pagi itu. Tapi Aula benar-benar penuh ketika Aku datang, termasuk Tuan Madison
yang sudah duduk kaku di atas kursi kebesarannya dan berbincang serius bersama
orang-orang kepercayaannya. Yang paling menjengkelkan Lance juga telah berada
disana. Dia tersenyum lebar ketika Aku melewatinya sambil membuang muka, Aku
memilih tempat duduk di samping Paman Gareth.
“Hei, Aku tidak tahu kau sudah di Rania. Kapan kau kembali?”
Paman Gareth tersenyum berseri-seri padaku. “Selamat pagi Nathania
sayang. Aku kembali semalam dari Garlindow, dan Oh ya tentu saja kau sudah
tidur. Well, kau tampak cantik sekali pagi ini.”
Aku membalas senyumnya, entah kenapa tidak bisa menahan dorongan hatiku
untuk tidak melirik Lance. Dia tersenyum, tapi bukan kepadaku. Aku memberengut, dan memutuskan untuk
menyibukkan diri dengan sarapanku.
Setelah sarapan Tuan Madison menyuruhku untuk tetap tinggal. Oh sial!
Apa lagi salahku? Aku menatap kedalam mata birunya yang tajam berbahaya, dan
memaksakan diri untuk tersenyum dan menurutinya untuk tidak meninggalkan meja
makan. Disana hanya tersisa kami berdua, Lance… juga James. Double sial! Kenapa
ada manusia itu juga disini? Cuping hidungku melebar,
Jangan memutar mata, jangan memutar mata, Aku mengulang kata-kata itu
terus dalam hati.
Tuan Madison duduk satu kursi disampingku, wajahnya keras berusaha
mengamatiku. Dia semakin terlihat tua setelah menjadi Raja. Rambutnya sudah
cukup panjang dan butuh dicukur, begitu pula janggutnya yang jadi amat
berantakan. Dan Ya ampun, ada lingkaran hitam di bawah kantung matanya. Aku
tahu menjadi Raja tentu menjadi tugas sangat sulit terutama di situasi seperti
sekarang, kurasa kali ini Aku agak sedikit bersimpati.
Aku memandang Lance mencari tahu, mungkin dia akan sedikit menjelaskan
lewat ekspresinya, Dan, Demi hutan terlarang! Dia malah mengamatiku tanpa
ekspresi, tidak merasa terganggu akan pandangan mencelaku.
“Tidurmu nyenyak, Nat?” Suara Tuan Madison terdengar lebih keras dari
biasanya. Aku menghentikan tatapan kurang ajarku pada Lance, dan berganti
menatapnya, memberinya senyum dibuat-buat yang sama sekali bukan Aku. “Ya, Yang
Mulia.”
Dia mengangguk sekilas, seolah-seolah sedang menimbang-nimbang kembali
apakah harus berbicara denganku atau tidak, membuatku jadi semakin gugup. Lance
tersenyum bersimpati, seolah membaca pikiranku. “Anda ingin mengatakan sesuatu
yang mulia?” Aku kembali beralih pada Tuan Madison, mengabaikan bola mata James
yang sudah hampir copot saat memberiku pandangan menyelidik pada Lance dan Aku.
“Ya, Nat.” Sang Raja mengangguk segera. Dia tak pernah lagi memanggilku
Tuan Putri setelah perdebatan kami. Oh! seperti ini penting untuk kubahas.
“Dengan senang hati, Yang Mulia.” Jawabku sambil menggigit bibir,
menyamarkan senyumku yang sudah lama kutahan. Sejak kapan Aku jadi sesopan ini?
Setan jiwaku pasti sedang mengikik dengan gila.
“Ini soal sekolahmu. Haynsworth mengatakan padaku soal keinginanmu kembali
kesana, tentang janji-janji yang kau buat–”
Aku melotot pada Lance. Apa yang sudah dikatakannya? Janji? Apa Aku
pernah membuat pernjanjian? Demi Tuhan! Aku ingin menggantungnya sekarang!
“Dan Aku cukup mempertimbangkan sarannya, itu agak, Er – masuk akal
menurutku.” Dia berhenti untuk menilai ekspresiku. Aku menegang dikursiku,
memberinya senyum kelewat gugup. ”Menurutnya banyak hal-hal baik yang akan kau
dapatkan jika kembali kesekolah,” Dia melanjutkan.
Aku segera mengangguk spontan, “Aku juga berpendapat begitu,” memberi
lirikan gugup pada Lance.
“Jadi kau benar-benar ingin kembali kesekolah?”
“Ya!” Kataku keras-keras, “Er, maaf. Maksudku Aku memang
menginginkannya, Yang Mulia. Dan seperti yang Lance katakan banyak hal yang
bisa kupelajari disana.” Tuan Madison terkesiap mendengarku menyebut nama
Lance, Ya Ampun orang ini! Apakah Dia selalu seteliti ini? “Aku yakin tidak
akan terjadi apapun padaku, tidak dengan pengawalanmu yang luar biasa itu. Bukankah
Aku akan tetap dijaga ketat seperti ketika aku berada di istana?” Aku
mengalihkan topik pembicaraan. Dia tidak segera menjawab dan masih mengamati,
sebelum kemudian mengangguk singkat, “Ya, tentu saja.”
Aku tersenyum masam, sepertinya harus memutar bumi dulu untu mendengar
jawaban tidak dari Tuan Madison. “Aku
telah menugasi pihak sekolah untuk memperbaiki sistem pengawasan mereka,
kerajaan juga sudah menempatkan banyak prajurit untuk berjaga disana.”
“Bagus!” ujarku tidak bisa menghindari nada sarkasme didalamnya. Lance
memberiku pandangan memperingatkan, “Maksudku, apa itu artinya Aku bisa kembali
kesekolah?”
Oh Dewi malam! Cepat sembunyikan saja wajahku.
“Ya, mungkin kau bisa, Nat.”
Isi perutku bergejolak. Setan jiwaku seperti tersenyum untuk pertama
kalinya. Kurasa ini adalah kabar terbaik yang pernah kudengar semenjak
kepergian seluruh keluarga kerajaan, dan segera saja pikiranku mengembara
kembali ke sekolah, membayangkan lagi Jassie yang cerewet, Oh! Dan mungkin juga
Pangeran Javan dan perhatiannya yang berlebihan.
“Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk berterimakasih pada anda, Tu..
Yang Mulia” kataku gugup.
“Berusaha menjadi putri yang baik, belajar dan persiapkan dirimu, itu
saja cukup, Nat.” Tuan Madison tersenyum kaku. Aku tidak mengira dia bisa
berekspresi seperti ini.
Berhenti! Jangan jadi perusak harimu sendiri, Nathania. Isi kepalaku
mendesis,
“Aku akan berusaha, Yang Mulia.” Kataku sambil membungkukkan diri.
Dia mengangguk kecil padaku dan segera meninggalkan Aula tanpa bicara
sepatah katapun. Aku menyeringai dengan jelas kepada James yang sejak tadi
mengikuti pembicaraan kami dalam diam. Aku tahu keputusan ini jelas tidak
memuaskannya. Sebenarnya sih apa masalahnya denganku?
“Ada apa?” Lance memandangku ingin tahu. Aku terkesiap dan menggeleng
cepat, “Tidak ada. Well, terimakasih atas bantuanmu, Lance Haynswroth.” Aku
nyengir, tak dapat menyembunyikan rasa bahagiaku. Dia tersenyum manis. Sial!
Jangan lagi!
“Itu hadiah karena telah menjadi anak baik selama beberapa minggu ini.”
Dia pasti bercanda. “Dalam artian lain, kau seperti sedang memberitahuku
bahwa sebelumnya Aku tidak baik.”
“Tidak. Aku hanya senang kau kembali menjadi dirimu yang sesungguhnya.
Semenjak kepergian keluargamu, kau tampak agak… kacau.” Dia berkata hati-hati,
tapi Aku terlanjur berbunga-bunga. Menjadi Aku kembali? Apa maksudnya?
“Apa yang kau katakan padanya?”
Dia mengangkat bahu, “hanya seperti yang kau dengar dari Sang Raja.”
“Dia bicara soal janji. Memangnya apa janjiku?”
“Percaya saja itu tidak akan cukup sulit, Aku cuma membuatnya agak
sedikit dramatis seperti biasanya,“ Aku memicingkan mata curiga. Dia menatapku
dengan ekspresi tak bersalah, “Apa?”
“Kau cukup dekat dengannya?”
“Tuan Madison maksudmu?”
Tentu saja! Menurutmu dengan siapa? Aku?
“Kami memang sudah kenal cukup lama.” Lance menatapku memperhatikan.
“Bagaimana bisa?” tanyaku menuntut, “Mungkin lain waktu Aku bisa memberitahumu,
Tuan Putri. Atau mungkin tidak–” Dia menatapku ragu-ragu, kemudian tersenyum...
lagi.
“Itu akan jadi tambahan daftar pertanyaanku, Haynswoth.”
“Ya ampun, kau punya daftar?”
“Ya.” Aku menimpali sengit, “Apa contohnya selain itu?” Dia menautkan
alis menggoda, Aku mengangkat bahu. “Soal jalan rahasia,”
Sesaat Dia seperti sedang menahan tawanya, Aku tak terpengaruh. “Ayahmu
yang memberitahuku.”
Apa?
“Tapi… bagaimana? Maksudku, Dia mengenalmu?”
“Ya.” Dia berkata tegas, memberi indikasi untuk mengkahiri pembicaraan
ini, kami sama-sama diam. Dan jujur saja, Aku masih sulit mengatasi rasa
terguncangku.
“Hari ini cuaca tidak begitu baik,” lanjutnya mengalihkan topik
pembicaraan, dan Aku terpancing. “Anehnya kau tetap begini di musim dingin.
Memangnya kau tidak punya pakaian lain selain ini?”
“Memangnya apa yang harus kupakai untuk latihan selain Pakaian-Ini?” Dia
memberiku penekanan dalam kata-katanya sambil menyeringai, Aku memberengut,
tetapi kemudian terkejut lagi. “Latihan? Kau bercanda? Di musim dingin seperti
ini kan tidak ada latihan.”
“Ya, itu dulu, saat ayahmu memimpin, kondisinya berbeda saat ini. Raja
Tyrone tidak akan memilih cuaca seperti apa untuk memulai perang, kami harus
selalu siap dalam kondisi apapun.”
Aku tersedak. Entah karena dia mengingatkanku soal Ayahku atau karena
Aku benci kata-katanya yang sok bijaksana itu, Ya Ampun… berapa sih umurnya
sampai berani berkata sok pintar padaku? “Mungkin setidaknya kau bisa pakai
mantel.” kataku asal saja.
Apa Aku sedang berusaha untuk terus bicara dengannya? Tidak!
“Aku tidak berhak mendapat perlakuan istimewa meskipun Aku seorang
pengawal pribadi Putri Nathania.” Dia kembali menyeringai.
“Oh yang benar saja! kau mau menyombongkan diri sebagai seorang
pengawal?” Aku memutar mataku padanya, Dia tidak menghentikan seringaian
konyolnya, “Kenapa tidak? Tidak semua seberuntung Aku. Berdekatan dengan Tuan
Putri dari Rania setiap waktu,” katanya, mengangkat sebelah alisnya mencoba
menggodaku.
Triple sial! Wajahku merah padam, Aku tak menanggapinya.
“Apa yang akan kau lakukan hari ini, Tuan Putri?”
“Aku punya satu permintaan untukmu.” Aku menatap langsung kedalam
matanya, berusaha mengabaikan pesona apa yang tersimpan dalam mata indah itu.
Ya Ampun, meracau lagi!
“Kau terlalu banyak meminta,” Lance menggerutu, tapi Aku tahu dia tidak
bersungguh-sungguh.
“Tolong panggil Aku dengan namaku,”
Ekspresinya tidak terbaca, tetapi kemudian meggeleng cepat. “Aku tidak
punya hak seperti itu,”
“Hak? Ya ampun. Jadi menurutmu ayahku memberiku nama untukku hanya untuk
dipanggil oleh para Raja?” Dia tak segera menjawab, kelihatan bingung. “Aku akan
pergi ke taman sekarang,” kataku ketus. “Gym harusnya sudah melahirkan pagi
ini. perutnya sudah besar sekali saat terakhir kali aku melihat.”
Aku berberjalan
melaluinya, tapi entah kenapa Aku punya perasaan Dia sedang tersenyum
dibelakangku. Ya, mungkin! Tapi Aku yakin, Dia tidak akan tahu bahwa
didepannya, Aku juga tersenyum bahagia.
---
Lance meninggalkanku sore harinya dan memanggil pengawal bernama Jack
dan Ashton untuk menggantikannya. Aku tidak bisa melakukan misi
“mencaritahu”-ku tanpa Lance, jadi Aku memutuskan untuk menemui Bibi Marry
untuk menemaniku.
Dimana Dia sejak pagi? Kemudian Aku ingat proyek membuat resapnya
bersama Miss Carter – kepala juru masak kerajaan, Dia pasti sedang di Dapur Istana
sekarang. Mungkin Dia tidak akan keberatan menemaniku sebentar, Aku berpikir,
sebelum kemudian memutuskan pergi ke dapur dan mencarinya.
Dapur Istana merupakan ruangan super Luas dan bersih. Tungku-tungku
besar, bermacam-macam ukuran piring dan perabot masak tersusun rapi. Di sisi
kiri ruangan ada banyak lemari besar tempat menyimpan makanan yang biasanya
dijaga sekitar empat atau lima orang penjaga. Aroma berbagai macam masakan
selalu membuat nafsu makanku naik dua kali lipat saat berada disini.
Tempat ini selalu menjadi tempat yang sibuk dan ramai, tapi alangkah
terkejutnya Aku ketika melihat kali ini dapur benar-benar sepi. Satu-satunya
orang yang berada didalamnya adalah perempuan tua pembersih dapur, bernama
Nanny Jane. Dia sedang membersihkan penghangat makanan saat Aku datang. Setelah
menyuruh kedua pengawalku untuk menunggu di depan dapur, Aku mendekatinya.
Nanny Jane sendiri tampaknya tidak menyadari kehadiranku bahkan setelah Aku
berada disampingnya.
Diam-diam Aku berpikir, darimana Dia bisa tahu sesorang datang dan
mencuri makanan?
“Aku tahu kau disini,” ucapnya pelan tak mengalihkan pandangan dari
penghangat makanan yang sedang dibersihkannya. Aku melirik ke segala arah,
mencari tahu dengan siapa Dia bicara. “Tuan Putri, sedang apa disini?”
Aku terkesiap, tetapi kemudian segera mengatasi keterkejutanku saat Dia
memandangku untuk pertama kalinya. Dia memakai pakaian dan celemek kebesaran
untuk tubuhnya yang sangat kurus, Kulitnya yang keriput tampak mengerikan saat
terkena pantulan cahaya dari obor-obor yang menempel di dinding-dinding.
“Hai Nanny Jane,” Aku tersenyum gugup. “Aku mencari Bibi Marry. Apa anda
melihatnya?”
“Semua orang di dapur sedang berada di kebun istana.”
“Kenapa? Sudah sangat sore, Aku bahkan tidak tahu bahwa saat ini sudah
musim panen.”
Dia menggeleng padaku, Apa artinya Dia tidak tahu atau tidak mau
menjawabku?
“Aku punya puding cokelat hangat, apa kau mau duduk sebentar dan
memakannya?” Dia mengalihkan perhatianku, Aku tersenyum menghargai. “Tentu.”
Kami duduk di sebuah kursi kayu tua yang menghadap kearah jendela. Dari
sini kami bisa melihat halaman istana yang luar biasa besar. Matahari mulai
terbenam dan suara-suara yang terdengar hanya denting-denting pedang dari para
Prajurit yang sedang berlatih. Pikiranku mengembara… mereka berlatih dengan cukup
keras dalam cuaca buruk begini. Dadaku terasa sesak mengingat mereka akan berperang
melawan Pasukan Hutan Raja Tyrone.
“Mereka prajurit-prajurit yang tangguh,” kata Nanny Jane tiba-tiba,
seolah membaca pikiranku. Dia duduk disampingku, matanya yang tajam
memperhatikanku, membuatku spontan duduk menjauh. “Ya, mereka berlatih dengan sangat keras” sahutku gugup.
“Sayangnya mereka tidak akan bisa memberi kita kemenangan. Tidak dengan
Pasukan Hutan sebagai musuhnya.”
Aku terkesiap, kupikir saat ini Dia menyindirku atas insidenku dengan Tuan
Madison.
“Pasukan Hutan memang sulit dihadapi,” Aku berusaha tampak tak
terpengaruh. “Tapi kuharap kita bisa memenangkan Perang ini, Aku tidak mau
kehilangan mereka semua.”
Dia memandangku tak percaya, selama sesaat Aku menahan dorongan untuk
menatapnya menantang. Akal sehatku berusaha menenangkan jiwa penuh emosiku, Apa
kau mau membentak seorang nenek? “Kurasa itu cukup sulit,” Dia berkata cukup
hati-hati, menilai ekspresiku.
Oh! Dia memancingku.
“Tetapi bukan berarti tidak mungkin.” Aku tersenyum dibuat-dibuat. “Dulu
Rania pernah menang atas mereka, bukan tidak mungkin kita akan bisa kembali
memenangkan perang ini.”
“Kau tampak tidak bersungguh-sungguh mengatakannya, Tuan Putri. Tidak,
terutama setelah kata-katamu pada Sang Raja,” Dia tersenyum tenang, menggodaku.
Wajahku memerah. Sial…sial…sial! Kalau tahu akan menghadapi nenek ini
nantinya, Aku tidak akan pernah mengatakan kata-kata itu pada Tuan Madison.
“Jadi mungkin sekarang Aku hanya sendirian yang tidak percaya kemenangan
Rania.” Dia melanjutkan, masih sangat tenang. Aku terlonjak, udara seperti
meninju wajahku. “Aku tidak yakin mengerti maksud ucapanmu.” Bola mataku
membulat lebih dari seharusnya, Tetapi Dia melanjutkan, “usiaku sekarang 92
tahun, nak.”
Seperti itu penting saja kudengar, Aku mengeluh marah dalam hati. Tetapi
kemudian otakku merespon. Apa? 92 tahun? Dia pasti sudah pikun menghitung
umurnya. Penampilannya tak lebih tua dari Tuan Madison.
“Aku adalah keturunan ke-7 dari Isadora Hill, seluruh keturunan Isadora
mati diusia lebih dari seratus tahun, kecuali mungkin Arthur Hill suami
Isadora, Dia tewas dalam perang Rania dengan Elroy itu.”
Dia tersenyum masam penuh arti. Mulutku sudah terbuka lebar, berusaha
memproses dengan cepat kata-katanya. Inikah? Apakah pada akhirnya Aku akan tahu
kebenaran yang terjadi ratusan tahun lalu?
“Kami memiliki ramuan awet muda. Kami memiliki sedikit darah penyihir
dalam tubuh kami.” Dia melanjutkan,
“Maaf?”
“Aku adalah keturunan penyihir.”
Aku menggigit bibir menahan tawa meledakku, Dia menatapku curiga dari
bulu matanya.
Tidak! Aku harus berhenti membuatnya tersinggung. Kesempatan mendapat
infomasi soal perang itu mungkin tidak akan terjadi lagi. Tapi apakah
kata-katanya cukup bisa dipercaya? Aku meragukan.
“Penyihir? Seperti Raja Tyrone maksud anda?” Aku tidak bisa menghindari
nada mencemoohku, mata Nanny Jane melebar.
“Ya dan tidak,” ujarnya singkat, Aku mengerutkan kening. “Kami memiliki
kemampuan melebihi manusia biasa, Ya. Tapi tidak persis seperti Elroy atau
Basil. Tidak semua sihir bersifat jahat, Nak.” Dia menambahkan sedikit
mendesis. Aku mendadak paham, ekspresiku menjelaskan lebih jauh soal
ketidaksukaanku terhadap apapun yang berbau sihir. Itu cukup membuatku muak…
sihir, eh? Keluargaku mungkin masih bersamaku tanpa adanya hal semacam ini.
“Aku tahu kau masih sulit memahaminya,” Dia mengangguk paham atas
kecamuk batinku, Aku segera menggeleng mengingat peluangku. “Apakah anda akan
menceritakannya padaku? Tentang perang maksudku–” Aku memberinya pandangan
penuh harap, sebelum kemudian Dia mengangguk dan tersenyum penuh ironi dan
memulai ceritanya, “Aku memuji keberanian Rania yang begitu besar saat perang
itu.”
Aku mencondongkan tubuhku padanya, mendengar dengan seksama sekaligus
khawatir, apapun yang keluar dari mulutnya terasa aneh dan bernada persuasif
dalam inderaku. “Manusia lelah atas kekejian dan kebiadaban Elroy saat berkuasa
di dunia, tapi tidak ada satupun yang berani menentangnya. Kau mengerti
maksudku?”
Aku mengangguk pelan, bergidik membayangkan masa-masa seperti itu.
“Mereka tidak memperlakukan manusia dengan sepantasnya,” Nanny Jane mengangguk
menyetujui apa yang ada di pikiranku. “Apa kau pernah dengar cerita
“Pertarungan Berdarah” yang diciptakan Raja Tyrone sebelumnya?”
Aku menggeleng segera.
“Raja Tyrone membuat manusia saling bertarung sesamanya, hanya
pemenanglah yang dapat bertahan hidup. Bagi mereka yang kalah dalam
pertandingan, Gru telah menunggu untuk menjadikan mereka santapan. Sang Raja
melakukannya setiap hari, jadi seandainya pun seseorang menenangkan
pertandingan, Dia akan tetap berada dalam kesengsaraan menunggu hingga waktunya
tiba untuk kalah dan mati. Itu masa-masa yang sangat berat.”
Aku merasa mual mendengarnya, bulu kudukku sepenuhnya berdiri. “Kalau
seseorang menang dan tidak terkalahkan, apakah Dia bisa bertahan hidup?”
Suaraku terdengar jauh di dalam kerongkongan.
“Ya.” Dia mengangguk yakin, “tapi semua orang punya batasan, Tuan Putri.
Dan hidup seperti itu bukanlah hidup yang damai.”
“Tidak ada yang pernah berani menentangnya sampai sebuah negeri kecil
bernama Rania mengibarkan panji-panji kebebasan, menolak atas semua penhinaan
Elroy atas manusia. Rania tidak memperdulikan seberapa kuat musuh yang
dihadapi, tidak peduli bahwa sang raja bisa saja melenyapkan negeri mereka
dalam hitungan detik...
Mereka tetap melakukannya, menyerang Elroy maksudku. Dalam sekejap saja
ribuan pasukan tewas ditangan Pasukan Hutan–” Aku menutup mata, sanggupkah Aku
mendengarnya lebih jauh? “Tetapi pada akhirnya pertolongan datang untuk Rania…”
Dia berhenti untuk megukur reaksiku, tapi otakku sulit menerima ini.
Rania pernah memenangkan perang atas Elroy! Semua orang pernah mengatakannya.
Tapi bagaimana semua itu terjadi?
“Anakku, Rania
memenangkan perang sebelumnya atas pertolongan Dewi Langit.”
***
Posting Komentar