0
RANIA : Princess Nathania and The forest Troops Chapter 3
Posted by Nikki murniati
on
20.41
more info about RANIA, you can follow @RaniaNovels @nikkimurniati_ on twitter
*
3 *
Seumur hidup, aku
tak pernah membayangkan berkuda menembus langit yang gelap dalam derai hujan
bersama orang yang sama sekali tak kukenal. Entah bagaimana caranya aku bisa mempercayai
kata-katanya. Kadang dalam kondisi-kondisi seperti ini, naluri memang lebih sering bertindak dibanding akal
sehat.
Pemakaman kerajaan Georgiria berada di utara Rania, dan aku tak tahu bagaimana pria ini akan membawaku kesana.
Si penunggang kuda yang tak kukenal ini menunggangi kudanya dengan begitu percaya
diri seolah yakin tak akan ada yang mampu membuat kami terjatuh. Kami berkuda dengan cepat menyusuri
sepanjang sungai, menembus siluet-siluet pepohonon melewati bibir hutan Rania. Tubuhku menggigil kedinginan
meskipun telah terbalut dengan mantel bepergian.
Aku tak bisa mengingat berapa lama perjalanan kami, tahu-tahu kami sudah berada di lapangan luas yang kukenali sebagai area Georgiria. Aku pernah kesini sebelumnya, saat nenekku,
Felicia, dimakamkan.
Georgiria adalah pembaringan terakhir bagi semua keturunan dan
petinggi kerajaan, Makam untuk Para Raja dan Ratu Rania yang terdahulu berada di sebuah ruangan semacam aula yang berada dalam di sudut Georgiria.
Aku melihat ribuan manusia berkumpul di tempat ini tanpa perduli hujan
yang turun dengan deras atau tanah yang becek. Aku bersyukur Si Penunggang Kuda
bisa mengerti bahwa Aku tidak ingin ribuan orang ini menyadari kehadarinku
dengan menyembunyikanku di balik pepohonan. Barulah kami merengsek keluar saat
upacara pemakaman selesai.
Sambil memandangi satu per satu mereka meninggalkan Georgiria, Aku
berpikir, mereka tentunya masih akan
terus membicarakan peristiwa setelahnya. Jenis pembicaraan yang tak
akan habis hingga mereka sampai dirumah, obrolan yang akan terus berlanjut saat
mereka berada diranjang tidurnya, mereka masih akan membicarakannya esok,
esoknya lagi...
dan seterusnya.
Hari ini akan menjadi sejarah baru bagi Rania…
Kelompok terakhir yang
meninggalkan Georgiria adalah rombongan kerajaan, dengan Tuan Madison di atas kudanya
memimpin kepergian mereka.
Aku turun dari kuda dan berjalan mendekat ke Gerbang dimana ruang makam
untuk Para Raja dan Ratu berada. Rasa dingin ganjil menyeruak ke dalam tubuhku ketika turun dari kuda dan berjalan bersama pria itu. selama perjalanan, Aku belum mengeluarkan
sepatah kata pun, dan dia juga kelihatannya tak terganggu dengan sikapku. Dia mengikutiku dalam diam sambil menuntun kudanya menuju para penjaga pemakaman.
Mereka adalah tiga lelaki berseragam hitam yang
duduk di pos jaga mereka. Satu dari mereka baru
selesai menutup pintu gerbang Georgiria, tampak terperangah
ketika Aku
datang menghampiri mereka.
Ketika menatap mereka Aku
menyadari mata mereka juga memerah oleh tangisan, siapa di dunia ini yang tidak merasa
kehilangan Raja dan Ratu kesayangan mereka? AKu menarik napas, menahan diri
untuk tidak menangis lagi dan memberi isyarat pada salah satu penjaga untuk membukakan kembali pintu gerbang.
Si penunggang kuda mengikat kudanya pada gerbang sementara Aku masuk
lebih dulu. Tolong Jangan membayangkan tempat ini sebagai
tempat berlatar kuno dan sakral, sebaliknya Aku malah sedikit menyukainya. Aku terpesona akan atapnya yang tinggi berwana
biru laut dengan lubang ventilasi besar tempat masuknya cahaya matahari, kurasa karena itulah
bermacam bunga berwarna-warni tampak tumbuh dengan cukup indah. Berpuluh-puluh
nisan berjajar rapi di sekelilingnya, ada plang berisi kalimat favorit
masing-masing dari mereka di samping nisan-nisan itu.
Mataku mencari, dan
menemukan nisan baru terukirkan nama ayah dan ibuku. Aku menghampirinya dan
membaca sebuah plang yang ditulis
dengan tinta hitam yang baru,
“Di
sini terbaring Raja Adon dan Ratu Feronia penguasa Rania
yang ke-21. Semoga kebahagiaan selalu menyertai mereka,”
Disampingnya ada plang lain berisi kalimat favorit ayahku,
“Hiduplah untuk kebaikan meski
kejahatan berada di sekelilingmu.”
Aku tersenyum, Dia pernah membisikkan kata-kata itu sebelum tidur.
Pelan-pelan Aku mendekati kedua gundukan tanah yang masih basah
itu. Aku menangis tersedu-sedu, tak kuasa lagi menahan emosi yang membuncah seolah kepalaku hampir meledak saat itu juga. Si penunggang kuda
berdiri jauh dariku, membiarkanku larut dalam air mata dalam waktu yang lama.
Di luar hujan mulai
mereda dan
langit semakin gelap, tak ada
suara lain yang terdengar selain isakanku. Aku memberanikan diri mengamati
nisan lain disini.
Raja Aldrich, Raja Rania yang pertama adalah yang mencetuskan berdirinya Georgiria
untuk para keturunan Rania, Dia tentu menjadi orang pertama yang menempati
bangunan ini. Aku yakin Dia sangat populer bagi
orang-orang Rania, Aku tak bisa mengaikatkannya selain sebagai pahlawan yang heroik dalam perang
bersejarah Elroy dan Rania di
dalam dongeng “3 Kerajaan”. Aku mengesampingkan pikiran bahwa kisah itu hanya
semacam Kamuflase. Tragisnya kematian orangtuaku, itu baru kenyataan.
Pemakaman terbesar disini adalah milik Ratu Tanya
yang menjadi Ratu Rania yang ke-7 dalam usianya yang begitu muda yaitu 18 tahun dan Raja Eric raja ke-11 yang terkenal akan
kepandaiannya.
Si penunggang kuda
tadi berjalan pelan dan berdiri disampingku menjaga jarak, aku tahu ini saatnya pergi. “Kau akan bisa melalui ini
semua, Tuan Putri.” Dia berkata pelan. “Aku yakin semuanya akan
baik-baik saja.”
Baik-baik
saja?
Aku mulai benci kata-kata itu..
----
Kami kembali ke
istana setelahnya, masuk melalui jalan rahasia istana Rania. Pria inilah yang mengusulkan kepadaku untuk menggunakan jalan yang sama sekali tak pernah ada di pikiranku.
Jalan rahasia di istana Rania,
seperti kebanyakan jalan rahasia di kerajaan lain, tersembunyi dan hanya di
ketahui pihak-pihak tertentu dalam kerajaan, karena itu
tempat ini tak pernah dijaga oleh satupun pengawal kerajaan. Saat umurku 12, Ayah pernah menunjukannya padaku dan menjelaskan
alasan dibuatnya jalan ini. Dulu saat terjadi peperangan besar, kalangan
kerajaan menggunakannya sebagai tempat melarikan diri bagi para wanita dan
anak-anak keluarga kerajaan saat
perang. Aku tak pernah mendengar digunakannya jalan itu selama ini,
tentu saja aku terkejut bagaimana pria asing ini tahu tentang jalan rahasia istana kami. Tapi berhubung dia telah membantuku hari ini,
Aku berjanji tidak akan membahasnya sekarang.
Dia mengantarkanku
sampai menara seperti sebelumnya. Belum sempat Aku mengucapkan terimakasih, suara melengking Bibi Marry
memanggil namaku, tubuhnya muncul
dari balik tangga setelahnya, Dia berlari kepadaku dengan panik.
“Tuan Putri
Nathania!!” jeritnya. “Oh Tuhan Kau membuat seisi istana ketakutan. Aku kira.. Aku kira..” Dia tak melanjutkan,
menjaga perasaanku.
Aku kira kau sudah bunuh diri, itukan pikiranmu?
“Syukurlah kau kembali dan baik-baik saja sayang.” Dia menambahkan cepat-cepat,
“Aku baik-baik saja, jangan
khawatir,”
sahutku dengan lelah.
Bibi Marry kelihatannya tak begitu mempercayaiku dan terus
mendesak.
“Apa yang kau
lakukan? Darimana saja kau sejak tadi? Tuan Madison telah menyuruh prajurit
mencarimu ke seluruh penjuru negeri.
Oh Ya ampun, kenapa pakaianmu basah kuyup begini?” cecar Bibi Marry.
“Tenanglah Miss Anderson, dia baik-baik
saja persis seperti yang dikatakannya,” Pria itu bicara pada akhirnya. Bibi Marry terpekik kaget ketika menyadari keberadaannya disampingku.
“Haynsworth!” Biby Marry menegur. “apa
yang kau lakukan? Kupikir..kupikir
kau-“
“Aku tidak melakukan apapun,” sela pria bernama Haynsworth itu,
menunjukkan ekspresi datarnya.
“Tapi kau yang ditugasi menjaga Tuan Putri Nathania, kemana
kau pergi?” Bibi Marry memberinya
pandangan menyelidik, “Oh.. Ya ampun. Bahkan pakainmu juga basah. Ada apa ini? Apa yang terjadi? Darimana kalian?”
“Sungguh Miss Anderson, tidak
terjadi apa-apa. Putri Nathania hanya berubah pikiran, itu saja.” Jelasnya. Meskipun tak mengerti
apa yang dikatakannya, Aku tak membantah sama sekali.
“Kau pergi ke Georgiria, Sayang?” tanya Bibi Marry terkejut.
Aku mengangguk kecil padanya, “Kau bilang tidak mau
pergi bersama kami. Aku kira kau tidak mau berada di sana, maafkan aku, Nak-“
Kata-kata Bibi Marry putus, matanya mulai bekaca-kaca membuatku sedikit risih. Kalau tahu begini
rasanya melihat orang lain menangis, Aku mungkin akan lebih menahan air mataku.
Seandainya bisa –
“Tidak apa-apa, Bibi. Aku cuma merasa harus
berada di sana, itu saja.“
Bibi Marry tak
dapat menahan diri, dia kembali terisak, tetapi tak lama dia segera menghapus
air matanya, dan memberiku senyuman.
“Ya, Sayang. Kau benar, sekarang ayo
masuk ke kamarmu dan Aku akan membantumu membersihkan diri. Masih ada waktu sebelum makan malam dimulai,” Aku membiarkan Bibi Marry
menuntunku ke kamar, sementara dia berkata kepada Haynsworth tadi, “Kau
juga sebaiknya cepat membersihkan diri sebelum turun ke Aula, Haynsworth.”
“Tentu Miss Anderson” jawabnya
singkat, kemudian pergi.
Bibi Marry segera
sibuk menyiapkan air hangat dan handuk untukku, Aku menunggunya di ranjang tidurku.
Bibi Marry Anderson
adalah pengasuhku sejak kecil. Dulu dia hanya perawatku sampai aku berusia 5 tahun, tetapi karena terlalu
menyayangiku, Dia memohon kepada ibuku untuk tetap tinggal di istana dan merawatku
hingga saat ini. Suaminya yang seorang
prajurit, meninggal dalam pertempuran, dan mereka tidak memiliki keturunan. Aku
sepakat untuk alasan itu dia begitu mencintaiku, dan sejak
saat itu juga, Aku memanggilnya dengan sebutan Bibi.
“Bibi?” panggilku, dia menoleh
padaku ketika sedang sibuk memilih gaun di lemari pakaian.
“Ada sesuatu yang kau
butuhkan, nak?” tanyanya lembut.
“Harusnya tadi pagi aku tidak menolak permintaan ayah dan ibu ikut ke
perayaan itu,” gumamku meracau.
“Aku tidak mengerti apa yang
sedang kau bicarakan,”
“Kalau Aku ikut bersama mereka, Aku akan tahu apa yang
terjadi. Dan mungkin Aku tidak akan ditinggalkan seorang diri
begini,”
Bibi Marry diam
sesaat, menahan dorongan hatinya untuk menangis lagi, menyadari bahwa terlalu
banyak menangis akan membuat perasaanku semakin buruk, kemudian dia duduk
disampingku.
“Sayang, Aku tidak akan bilang ini mudah dilalui oleh gadis muda sepertimu, apa
yang terjadi pada Ayah, Ibumu
dan yang lainnya memang benar-benar tragis, Aku yakin tak mengharapkan hal yang sama jika Aku jadi dirimu. Tapi Nak, kadang kau hanya
harus percaya apa yang Tuhan gariskan untuk hidupmu,
Aku sangat yakin
kau akan melalui ini semua dengan kuat, dan sejujurnya Aku
sangat bersyukur kau masih disini bersama kami, Sayang. Aku tak bisa membayangkan kehilanganmu juga,” Dia berhenti, dan
membelai rambutku dengan hangat.
Entah mengapa kata-katanya justru mengingatkanku akan hal lain. Sesuatu
yang tidak pernah terbayangkan dalam benakku seumur hidup. Aku satu-satunya
keturunan Rania yang tersisa, Aku harus menggantikan Ayahku memimpin negeri
ini, Seorang diri.
Ini benar-benar kelihatan konyol, memangnya apa yang bisa dilakukan
gadis 17 tahun sepertiku untuk Rania? Aku sendiri saja tak yakin akan bisa
mengatasi rasa dukaku untuk waktu yang lama.
“Aku tidak bisa jadi Ratu Rania, Aku
masih 17 tahun dan aku seorang anak perempuan. Aku tidak tahu caranya
menjalankan pemerintahan” kataku
segera.
Bibi Marry tampak terkejut mendengarku, tetapi dia menggeleng lembut
menenangkan.
“Dalam situasi tertentu kau
harus bisa menjadi lebih dewasa dari umurmu, Nak. Ratu Tanya saja bisa menjadi Ratu Rania ketika
berumur 18 tahun, hanya selisih satu tahun denganmu.”
Aku tertawa getir. “Dia tidak ditinggalkan sendirian oleh seluruh
keluarganya sepertiku, Bibi. Dia jadi ratu karena ayahnya – Raja Ethan sakit
keras.”
“Dan kau juga tidak ditinggalkan sendirian, Sayang. Kau masih memiliki
rakyatmu dan Aku. Kami ada dibelakangmu. Kami mencintaimu,
Aku
mencintaimu..” ucapnya lembut.
Aku memeluknya, menangis dipangkuannya seperti
gadis kecil ketakutan, sungguh memalukan untuk ukuran seorang calon ratu. “Aku juga menyayangimu,” ucapku tersentuh.
“Kau harus bersabar, Sayangku. Aku tahu ini cobaan yang
berat untukmu,
tapi kau masih punya aku. Kau masih punya kami semua, kami tidak akan meninggalkanmu,” janjinya.“Sekarang
bersihkan dirimu. Air hangatnya akan segera dingin kalau kau tidak cepat-cepat. Dan kalau kau sudah siap panggil Aku, kita akan turun ke Aula untuk makan malam. Tuan Madison sedang mengadakan
rapat penting
dengan para
petinggi dan dewan. Dia mau kau bergabung bersama mereka,”
Aku merasa tubuhku sangat lelah, akan sangat menyenangkan
jika Aku
segera tidur saat itu juga. Tapi Bibi Marry benar. Jika Aku menjadi satu-satunya
keluarga kerajaan yang tersisa, jika Aku satu-satunya harapan mereka mungkin aku harus bisa
bersikap lebih dewasa. Tapi benarkah hanya Aku saja yang tersisa?
“Bibi Marry?”
Dia sudah akan
meninggalkan kamarku, sebelum kemudian kembali berbalik padaku. “Ya, Nak?”
“Di mana paman Steve? Aku tidak melihatnya
di pemakaman,”
Lama aku tak
mendengar jawaban keluar dari mulutnya, “Kurasa Tuan Madison dan yang lainnya mungkin akan membahasnya di bawah. Dia akan
punya jawaban yang tepat untukmu.”
Aku tidak mengerti,
apa yang membuatnya seragu itu untuk menjawab pertanyaanku?
---
Bibi Marry
menemaniku turun ke Aula Kerajaan setelahnya. Aku merasa cukup heran ketika Aula kerajaan yang
begitu luas penuh sesak. Hampir Seluruh anggota kerajaan berada di sana. Para Petinggi Kerajaan, Menteri, Dewan dan seluruh Staff Istana. Seluruh kursi terisi
penuh, kecuali kursi-kursi di atas
undakan, Kursi kebesaran milik Raja Adon dan Ratu Feronia.
Aku memandang
kursi-kursi itu dengan hampa, seperti yang dilakukan kebanyakan orang. Mengingatnya membuat ada
semacam desiran aneh di dalam hatiku.
Tuan Madison pasti
sengaja mengumpulkan orang-orang sebanyak ini untuk membicarakan hal yang
benar-benar penting dengan kami.
Kalau bukan karena itu, Kenapa bahkan para prajurit dan juru masak istana juga
ikut berdesakkan di Aula?
Tuan Arthur Albert
Madison duduk di kursinya seperti biasa. Ia adalah laki-laki berbadan tinggi
dan ramping dengan janggut abu-abu dan kacamata tua yang selalu terpasang di
matanya. Dia memakai jubah panjang
berwarna hitam, yang memaknai lebih dalam rasa dingin di dalam matanya yang
sebiru laut. Tapi hari ini, Wajahnya terlihat begitu
lelah. Garis-garis wajahnya terlihat jelas membuatnya terlihat semakin tua.
Dari penjelasan Bibi Marry saat kami turun dari
menara, Dia akan kembali menjadi Raja Pengganti Rania. Dia memang sering memegang
jabatan itu ketika Ayah tak berada di Rania.
Ia satu-satunya orang yang paling dipercaya Ayah seumur hidupnya. Dia seorang yang cerdas
dengan gagasan dan ide-ide yang cemerlang,
sejauh ini kemajuan yang dicapai Rania dalam kepemimpinan ayahku pastilah ada
peran besar Tuan Madison. Bisa dibilang dialah Sang Pion Rania, sedangkan ayahku hanya semacam Pemeran. Dia memang bukan seseorang
yang ramah dan menyenangkan, tetapi Aku harus mengakui orang seperti Tuan Madison memang sangat dibutuhkan.
Selain Tuan
Madison, Ayahku
memiliki seorang Penasehat kepercayaan bernama Gareth Lawrence, aku
memanggilnya Paman Gareth. Jika harus memilih, tentu saja Aku lebih menyukai satu Paman Gareth dibanding 5 orang semacam Tuan Madison. Dia adalah Lelaki bertubuh gempal yang selalu memakai jubah kerja
berwarna ungu, menurutnya sih itu adalah warna keberuntungannya, dan meski terlihat konyol
kadang-kadang, Dia itu seorang Panglima perang yang menakjubkan, setidaknya itu kata Ayah setiap kali Aku berusaha membuat
lelucon tentangnya. Dia seorang yang lembut dan penyayang, dan cukup dekat denganku, menjadi Satu-satunya
orang yang akan bertanya tentang sekolahku saat makan malam – yang bahkan tak dilakukan orangtuaku saking
sibuknya.
“Kemarilah, Tuan Putri,” panggil Tuan Madison.
Dia memberiku isyarat agar mendekat.
Paman Gareth dan Tuan Madison malam itu duduk
berdampingan.
Aku menghampiri
mereka, bersyukur memiliki alasan untuk menghindari kursiku yang biasa, di
samping kursi ibuku.
“Arthur!” tegur
Bibi Marry.
“Putri Nathania harus makan sesuatu sebelum dia ikut dalam rapat ini, perutnya belum
diisi apapun sejak pulang dari sekolah Kerajaan.”
Lihat kan? Bibi Marry memang selalu tahu apapun tentangku, seolah aku
ini bagian dari dirinya atau apa. Kurasa dia bahkan sudah tahu kalau aku sering
menyembunyikan gaun tidurnya selama ini.
“Aku tidak keberatan jika itu memang yang diinginkannya,
Marry.” Kata Tuan Madison tenang.
“Kurasa aku bisa ikut bergabung saat ini juga,
Tuan Madison.”
Timpalku keras kepala, mengabaikan rasa lelah yang menggelayuti tubuhku.
Tuan Madison menautkan alis padaku. Omong-omong, satu lagi faktanya
adalah dia tidak begitu suka dengan panggilanku padanya, dia sering memberengut
tiap Aku memanggil. Aku berani sumpah dia akan mengurungku di penjara bawah
tanah jika Ayah dan Ibu tidak ada, dan apa itu artinya sekarang? Kelihatannya Dia
tidak ingin melakukan itu di tengah banyak orang seperti ini.
“Tidak, Nak. Kau harus
mengisi perutmu sebelum ikut pertemuan,” paksa Bibi Marry.
“Jangan memaksaku, Bibi Marry! Aku bukan anak kecil! Aku benar-benar ingin semuanya cepat berakhir.”
“Wah, Tuan Putri. Kau terlalu bersemangat. Bahkan
kita belum sepakat memulai apapun, dan kau sudah mengatakan
tentang mengakhiri ini semua?”
Apa maksud Tuan Madison? Dia sedang berusaha menyindirku dengan keras
atau memang kepalaku ini punya kecenderungan sulit mencerna kata-kata?
“Baiklah kalau begitu,
kenapa tidak mulai sekarang saja?” usulku dengan ragu-ragu.
Dia tersenyum penuh
arti, di sampingnya Paman Gareth mengentakkan kakinya, sedikit gelisah.
“Kalau itu memang yang kau
inginkan, tuan Putri. Mari kita mulai..”
Aku gelisah, merasa makna
dimulai dan berakhir yang kami
maksud berbeda arti, tetapi tentu saja tak mau bersusah payah untuk bertanya.
Ketika memandang berkeliling, rasa gugup tiba-tiba menyerangku. Ya Tuhan, semua mata kini menatapku. Baiklah
mungkin pada dasarnya Aku telah terbiasa menjadi pusat perhatian seisi
Aula saat makan Malam atau
kegiatan apapun di Aula ini. Sebagai satu-satunya Tuan Putri di sini, hampir semua perilakuku
akan menjadi perhatian semua orang, dan sejujurnya sih aku bukan seorang Tuan
Putri penurut yang layak dijadikan contoh rakyatnya.
Tetapi malam ini segalanya seperti
berubah tanpa Ayah dan Ibuku, Aku tidak bisa bersikap seenaknya seperti
biasanya, Aku gugup.
“Silahkan duduk, Tuan Putri.” Tuan Madison mengagetkanku, Aku tak ingat kapan
Tuan Madison menyuruh seorang pengawal membawakanku sebuah
kursi, tahu-tahu di depannya sudah
ada sebuah kursi kayu. Dan disanalah Aku, duduk di depan Tuan Madison, seperti seorang
terdakwa.
Dia kelihatan
sedang berpikir
untuk memilih kata-kata yang tepat untuk di katakan padaku atau tepatnya memilih
kata-kata yang mampu di mengerti seorang gadis berusia 17 tahun berotak tumpul sepertiku.
“Nah, nak.. Apa yang pertama ingin
kau ketahui?” tanyanya.
“Apa? Aku?” Aku tersentak kaget layaknya seorang idiot. Setahuku ini sidangnya,
bukan acara curahan hatiku.
“Ya, Tuan Putri. Akan lebih baik kalau Aku membiarkan kau mengetahui apa yang paling ingin kau ketahui, tentang semua kejadian
ini tentu saja,” Dia mengangguk sabar.
Aku tiba-tiba saja paham kalau dia ingin aku mengetahui sesuatu tentang
kematian keluargaku.
Aku menghela napas, membiarkan kesakitan itu kembali menguasai, sekali
lagi.
“Aku sudah
mendengar semua beritanya, tapi tidak
ada yang utuh. Sebenarnya siapa yang melakukan semua pada mereka, Tuan Madison?”
Aku berusaha
memilih kata-kata yang tepat untuk
menggambarkan tragedi ini. Tak perlu bersusah payah, menurutku Tuan Madison pun
telah mengerti apa yang kumaksud.
“Kau memulai dengan yang paling berat. Tapi baiklah, kalau memang itu hal pertama yang ingin kau ketahui, aku akan berusaha
menjelaskan..
Nah, Nat. Kau sudah melihat bagaimana keadaan
mereka saat di Kastil Istana, benar-benar.. tidak biasa”
Mengenaskan tepatnya,
pikirku.
“Mungkin kau bisa sedikit
menyimpulkan apa yang sesungguhnya terjadi pada mereka?” tanya tuan Madison.
Aku paling tidak suka ketika bertanya dan pertanyaan itu berbalik lagi
padaku, tapi mau tidak mau pikiranku kembali dibayang-bayangi akan luka-luka
cabikkan, wajah-wajah pucat tanpa darah, kali ini perutku benar-benar mual.
“Ya aku melihatnya, itu sangat mengerikan. Agak
sedikit tidak masuk akal dibanding berita yang menyebar. Maksudku ̶ Apakah
kejadian yang sesungguhnya tidak seperti itu, Tuan Madison?”Aku balik bertanya. Huh, aku juga bisa bukan
membalikkan pertanyaan kepadanya kan? Oh sudahlah..
“tidak..tidak, bukan
begitu.” Dia menggeleng cepat,
“Kurasa memang
itulah yang terjadi pada mereka semua. Aku cuma berusaha membuka pikiranmu tentang kebenarannya, tentang
kenapa ini terjadi.”
Bagus, itu memang sangat ingin aku ketahui.
Tanpa sadar aku sudah mendorong kursiku lebih maju, mencondongkan
tubuhku dengan penasaran.
“Siapa menurutmu yang menyerang mereka, Nat?”
Aku menggeleng cepat, “Aku sama sekali tidak bisa membayangkan. Tapi kalau
melihat luka-luka pada mereka, mustahil semua itu
dilakukan oleh manusia,” ungkapku.
“Mungkin saja,” Tuan Madison mengangguk setuju. “Aku setuju tentang
luka-luka tidak biasa yang kau katakan. Tetapi kami punya sedikit kesimpulanyang lebih
baik tentang ini,”
Kalau sudah tahu, kenapa tidak langsung mengatakannya, Tuan Arthur
Madison?
Aku menahan dorongan hatiku untuk memutar mata dengan tidak sopan
padanya, dan tetap memandangnya, seperti haus akan informasi. Semua orang berusaha memajukan tubuh mereka ke arah kami sekarang, tak mau
tertinggal sepotongpun percakapan antara Aku dan Tuan Madison.
“Seluruh anggota kerajaan
sudah membicarakan ini secara serius setelah kepulangan kami dari Georgiria. Dari informasi yang kami punya, dan dari segala hal yang
bisa kami amati, termasuk dari luka-luka
tidak biasa yang kau sebutkan tadi, Kami menyimpulkan bahwa pembantaian yang
terjadi sangat berkaitan dengan Raja Tyrone.” Suaranya nyaris hilang ketika bicara, seolah
dipaksa mengucapkan kata paling memalukan seumur hidup.
Aku menahan diri untuk
tidak tertawa keras saat itu, karena semua orang dalam ruangan menahan napas
ketika mendengarnya.
***
Posting Komentar